Ketika Ibu-Ibu Gemar Cek Darah

October 09, 2017
sumber


Apa sih judulnya, ya? Kenapa sih nggak gemar nonton drama Korea atau apalah yang lebih pantas buat diidolakan? Sebelum saya jawab, apakah ada yang merasa gemar dan sering melakukan cek darah, Bu? Masa sih? Kayaknya banyak, ya?

Senyum dulu ah, yuk. Saat anak demam lebih 3 hari biasanya kita sibuk buat apa, ya? Cari tahu sebab demam dan lihat kondisi anak selama demam atau sibuk ingin segera membawa anak untuk cek darah?

Bu, benar kita memang sebagai orang tua selalu dibuat panik menghadapi anak yang demam tinggi apalagi kalau seperti anak sulung saya yang punya riwayat kejang demam. Rasanya ingin sekali membawa anak saya segera berobat dan menyembuhkan sakitnya. Tapi, kepanikan itu juga harus diarahkan. Yess! Panik terarah…he.

Saat anak demam, perhatikan tanda-tanda yang menyertai demamnya. Sekali lagi saya mau mengingatkan bahwa demam itu bukan penyakit, bukan pula zombi yang harus ditakuti. Demam itu alarm yang Allah ciptakan untuk menunjukkan kepada kita bahwa sedang terjadi infeksi di dalam tubuh manusia.

Saat anak demam, yang perlu diperhatikan adalah sebabnya apa? Kalau demam disertai batuk dan pilek sudah pastilah itu common cold yang disebabkan oleh virus. Tapi demamnya naik turun selama 3 hari lebih, gimana? Meskipun selama seminggu naik turun, virus itu nggak bisa berubah jadi bakteri, Bu. Kecuali kalau memang sudah terjadi komplikasi seperti Pneumonia yang ditandai dengan sesak, itu lain lagi ceritanya.

Common cold itu sebabnya virus, jadi tidak sembuh dengan obat serta antibiotik. Pemakaian obat berlebihan dan tidak sesuai dengan kebutuhan hanya akan memperberat kerja ginjal. Kasihan sekali kalau anak-anak kita menjadi korban kepanikan orang tua? Sangat disayangkan.

Tapi kasihan kalau melihat anak-anak flu berat dan batuk. Kalau saya sih lebih kasihan lagi kalau anak saya harus diberi obat yang sebenarnya tidak dia perlukan. Berikan saja sesuatu yang membuat dia lebih nyaman, misalnya semangkuk sup hangat, lebih banyak makan buah dan minum air hangat. Ketika pilek kita juga jadi enakan ya kalau makan semangkuk soto panas? Nah, kenapa anak sendiri dikasih syrup pahit waktu pilek? He..

Allah menciptakan tubuh manusia ini sangat sempurna dan detail sekali. Coba bayangkan, jika ada benda asing atau virus di saluran napas, maka respon tubuh kita adalah batuk untuk mengeluarkan kuman di dalam saluran pernapasan. Cerdas, kan? Kalau ada racun atau benda asing masuk pencernaan, maka ada diare dan muntah untuk mengeluarkan kumannya. Sangat cerdas! Lantas kenapa sih kita selalu sibuk ingin menghentikannya padahal semua itu sungguh sangat berguna?

Sangat tidak disarankan memberikan obat anti muntah kepada anak yang sedang mengalami sakit misalnya gastroenteritis yang disertai dengan munta-muntah kadang juga diare. Kenapa? Karena muntah itukan proses alamiah yang dilakukan tubuh untuk mengeluarkan racun, kalau dihentikan kebayang nggak racunnya menumpuk di dalam tubuh? Begitu yang pernah saya dengar dari salah satu dokter milis sehat, Arifianto atau akrab kita sapa dokter Apin.

Jadi, kalau anak demam naik turun dan sudah jelas common cold ya tidak perlu buru-buru periksa darah. Yang perlu diperhatikan justru telinganya. Kalau dia sedang batuk pilek dan demam lama disertai tanda-tanda seperti menarik telinga dan kesakitan, hal pertama yang perlu diperiksakan adalah apakah dia mengalami otitis media atau radang telinga atau tidak? Karena usia dini memang anak-anak kebanyakan rentan terkena otitis saat dia mengalami pilek yang berlangsung lama.

Periksa darah sebenarnya termasuk urutan kesekian. Karena saat anak demam dan tidak disertai gejala, maka yang pertama kali penting untuk dilakukan adalah tes urin. Sebab kebanyak ISK atau infeksi saluran kencing memang tanpa gejala. Setelah hasilnya negatif, barulah berpikir untuk cek darah. Tapi semua itu tergantung dokternya juga ya, Bu. Karena kebanyak dokter anak juga gemar sekali melakukan cek darah…he.

Saya ingin memberikan contoh jelasnya ketika anak saya terkena demam berdarah, saya sebenarnya mulai curiga saat dia demam tinggi sekali dan tidak turun meski sudah diberi obat penurun demam. Dia pun sempat kejang demam saat hari pertama. Dua hari berikutnya klinisnya semakin buruk. Tapi saya masih menahan diri untuk tidak membawanya ke dokter. Saya menjaga agar dia tidak dehidrasi karena ketika demam suhu tubuh naik dan anak rentan kekurangan cairan.

Hari ketiga mulai tampak bintik-bintik merah. Kondisinya semakin lemas, bahkan untuk memukul saja dia tidak bisa. 72 jam sejak hari pertama demam saya baru membawanya ke dokter. Karena beberapa tanda seperti bintik-bintik merah itu seperti mengarah ke DBD, maka dokter pun segera menyarankan periksa darah. Dan kakak positif demam berdarah.

Alhamdulillah, saya tidak pernah merasa bahwa saya terlambat membawanya ke dokter. Justru itu saat yang tepat. Kenapa? Karena periksa darah ketika hari pertama atau sebelum 72 jam, hasilnya tidak akan ketahuan. Jadi seolah baik-baik saja meskipun sebenarnya sudah terkena demam berdarah.

Pasien di sebelah si kakak contohnya. Dia periksa darah hari pertama saat demam datang. Hasilnya oke dan baik-baik saja. Dibawa pulang dan meraka masih santai di rumah sedangkan kondisi anaknya sudah mulai memburuk. Saat dibawah ke rumah sakit, kondisinya sudah sangat parah karena sudah masuk fase kritis. Dia pun positif terkena demam berdarah meski periksa lab pertama negatif. Neneknya bercerita kepada saya bahwa mungkin cek lab pertama fasilitasnya tidak  bagus makannya tidak ketahuan, padahal sebenarnya bukan itu sebabnya.

Pasien itu dirawat lebih lama ketimbang kakak. Dia harus masuk ICU karena kondisinya jauh lebih buruk, selang-selang menjulur di wajah dan tangan. Kasihan sekali. Sebelum saya pulang, saya sempat memberikan buku QnA Smart Parents For Healthy Children-nya dokter Wati kepada bundanya. Berharap selanjutnya dia jauh lebih cerdas menghadapi anaknya ketika sakit.

Dari cerita itu sebenarnya saya ingin memberitahukan bahwa sebagai orang tua janganlah selalu bergantung dengan dokter. Iya, kita butuh dokter tapi kita juga butuh belajar. Tidak semua dokter mampu mengedukasi pasiennya. Tidak semua dokter mau menjelaskan detail apa dan bagaimana. Kita mengaku sayang kepada anak tapi kadang kita sendiri yang membuat mereka sakit.

Cek lab sebelum waktunya bisa membuat anak trauma karena selanjutnya kita harus melakukannya yang kedua bahkan ketiga. Atau lebih parahnya jangan-jangan hanya common cold kita sibuk memikirkan yang lebih serius. Bu, demam tinggi itu bukan berarti penyakitnya parah. Demam tinggi juga tidak membuat anak jadi kejang demam. Anak saya pun kejang demam karena memang ada riwayat dari saya. Dan tidak setiap demam tinggi dia kejang.

Jadi, plis jadilah ibu yang cerdas ketika anak sakit. Saya nggak tega melihat banyaknya orang tua yang sibuk mencarikan obat saat anak bolak balik pilek dan batuk. Satu kresek obat habis, sibuk mencari yang lain. Mending kalau obat flu dan batuk, kalau ada antibiotiknya?

Antibiotik itu hanya buat bakteri yang sudah jelas adanya. Kalau hanya karena demam lama apa iya boleh diberikan antibiotik tanpa cek lebih dulu? Sangat tidak boleh. Penggunaan antibiotik yang bukan pada tempatnya bisa sangat berbahaya karena membuat bakteri dalam tubuh jadi resisten. Saat anak mengkonsumsi antibiotik kebanyak jenisnya membunuh bakteri baik dan jahat di dalam tubuh. Nggak tebang pilih.

Saat anak demam, perhatikan klinisnya. Kalau dia masih pecicilan itu tandanya dia oke. Ketika demam dia lemas, wajar, tapi saat demam turun biasanya anak yang baik-baik saja cenderung pecicilan lagi. Yang buruk ketika demam dan lemas meski suhunya turun, sesak, tidur terus dan susah dibangunkan, dehidrasi, tidak mau minum dan makan sama sekali, nah, nggak usah pikir apa-apa, harus segera bawa ke dokter untuk menentukan diagnosa.

Hmm, saya mau tarik napas dulu. Sebenarnya saya sering menuliskan ini bukan karena saya sudah pintar dan tidak panik saat anak sakit. Tapi saya ingin semua ibu menjadi lebih peduli terhadap kesehatan anaknya. Yuk, bu jadi partner yang baik. Jangan setiap ke dokter menuntut obat, diskusikan apa yang sebenarnya terjadi pada anak kita. Dengan begitu insya Allah kita pun sudah membantu dokter untuk lebih bijak menggunakan obat.

Saya ingat, salah satu dokter anak yang menangani anak-anak saya mengatakan, “Anaknya dikasih apa, Bu?” Saya jawab, “Saya tidak memberikan apa-apa. Hanya penurun panas. Soalnya saya lihat dia cuma common cold” Kebetulan si adik dan kakak demam naik turun dan bolak balik saja batpil serta mengeluh telinga sakit. Saya datang untuk konsultasi karena mereka berdua batpil seperti tidak ada habisnya. Sehari sembuh, seminggu sakit. Dokter tersebut menjawab, “Nah, benar, Bu. Saya sebagai dokter mudah saja menuliskan resep satu lembar, tapi apakah itu perlu? Kalau sebabnya virus tapi anaknya sampai tidak mau makan dan minum sama sekali atau sesak ya harus dibawa ke dokter.”

Saya pun mengiyakan. Jangan karena dia batpil tapi sesak kita tetap ngeyel merawatnya di rumah. No!  Bukan begitu. Cara tahu semuanya gimana? Ya, belajarlah...

Nah, panjang juga ya saya cerita…he. Hampir semua dokter yang saya datangi selalu sibuk ingin segera melakukan cek darah. Tapi, ada satu dua yang tetap rasional. Kalau begitu, haruslah kita juga yang pandai-pandai memilih dan menentukan.

Saya ingat dokter Apin sempat bilang begini setelah banyak saya tanya, “Kayaknya ibu ke sini cuma buat nunjukin ke bapak aja, ya?” He, dokter benar sekali! :D


Karena selama ini suami saya sedikit berseberangan, belakangan dia mulai tahu kalau istrinya masih waras. Alhamdulillah. Tidak mudah menularkan hal ini. Bahkan kepada orang yang telah tinggal serumah dengan kita.. ^^ 

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post #ODOPOKT7 bersama Blogger Muslimah Indonesia.

14 comments:

  1. Wah, dapat ilmu nih. Saya juga termasuk emak yang kalau baru demam karena batpil, lebih pilih kasih sup hangat, tidur lebih banyak, dan madu. Alhamdulillah anak-anak juga cocok dengan madu. Makasih ilmunya mbak.

    ReplyDelete
  2. Dapat ilmu bermanfaat juga ni sebelum punya anak dari membaca catatan yang panjang namun nggak membosankan bacanya soalnya cara penulisannya juga rapi dan hahasanya ringan meski rada bahas ttg medis tp mudah dicerna. Setuju banget dgn kalimat yg ini

    Iya, kita butuh dokter tapi kita juga butuh belajar. Tidak semua dokter mampu mengedukasi pasiennya. Terima kasih sdh berbagi pengalaman dan ilmunya dalam mengatasi anak ketika demam mbak. Mudah2an ketika punya anak nanti dan kondisinya demam sy bisa melakukan tindakan yang sama seperti mbak, tidak terburu2 langsung bawa ke dokter untuk periksa darah, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, senang mendengarnya...Amiin, kita sama2 belajar ya mbak, semoga nanti bisa belajar lebih banyak.. :)

      Delete
  3. Jadi ibu yang cerdas termasuk menjaga kesehatan keluarga memang penting ya mbak. Bijak penggunaan obat-obatan juga harus dilakukan. Terimakasih sharing yang sangat bermanfaat ini ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak, semoga kita bisa jadi ibu cerdas yaa.. ^^

      Delete
  4. Alhamdulillah dokter anak saya juga yang termasuk anti memberi antibiotik jika dirasa tidak perlu, Mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, dokter langka mbak...hehe

      Delete
  5. betul ya, aku selalu panik kalau anak demam gak turun2 walau sdh dberi obat penurun panas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, penurun demam itu fungsinya hanya menurunkan beberapa derajat saja buat menyamankan anak. Kalau infeksinya masih berlangsung, maka akan tetap ada demam. Demam kan juga berguna buat melawan infeksi virus atau bakteri..

      Delete
  6. Bener banget Mbak, anak jadi trauma karena bolak-balik di cek darahnya, disuntik, kemudian nunggu lama. Alhamdulillah aku dan suamiku satu suara. Demam 3-5 hari belum turun, baru cek darah, hari pertama beri parasetamol, aku selalu sedia di rumah dan perbanyak minum air putih untuk detox atau mengeluarkan racun-racun tubuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Patokan yang benar memang menurut medis untuk cek darah ketika demam tanpa 'gelaja' seperti tanpa batuk dan flu adalah 72 jam, mbak. Jadi saya memang mengikuti petunjuk medis. Dan akan sangat ringan kalau satu suara dengan pasangan...^^

      Delete
  7. Bener mba Saya juga kalo keponakan demam kasih madu sama makan sup, buah dan dikasih obat turun demam, waktu usianya belum satu tahun dikasih Asi, kalo batpil sampe sesek baru dibawa ke dokter

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali mbak Ririn...bahagia jadi keponakanmu mbak...^^

      Delete

Powered by Blogger.