Cerbung Tentang Kita Bag 7; Kepastian

October 20, 2017
Pixabay.com


(Raina)

Harapan itu melayang
Serupa daun kering yang berlarian entah ke mana
           
Seperti mimpi. Lelaki yang sudah hampir mendapatkan sepenuhnya kepercayaanku ternyata berkhianat. Sejak awal aku sudah bilang bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengannya. Lelaki itu terkesan terlalu terburu-buru ketika datang dan memutuskan melamar.

Lihat saja, pagi ini ketika tanpa sengaja kulihat seorang perempuan cantik yang tingginya bahkan melebihiku melenggang ayu dan mendatanginya. Hal yang lebih buruk ketika kutahu ternyata mas Bagas telah memiliki seorang anak. Gadis kecil itu mewarisi kulit putih mas Bagas, begitu juga dengan senyum hangatnya. Tak seorang pun bisa memungkiri betapa miripnya dia denganmu, Mas.

Sayangnya, semua itu terjadi ketika aku memutuskan untuk menyukainya terlalu jauh. Itulah kenapa aku enggan mencintai seseorang. Bukan aku tak pernah suka, sebab aku perempuan normal yang punya perasaan. Tapi, ketika mas Bagas datang dan berniat menikahiku, perasaan sederhana itu menjelma sesuatu yang rumit. Lebih rumit lagi ketika aku mau dilukai seperti saat ini.

Air mataku berhamburan. Ingin sekali berteriak dan memaki. Tapi, lelaki itu terlalu sibuk dengan keterkejutannya. Seorang gadis kecil dan wanita cantik dari masa lalunya muncul dan merenggut semua mimpi yang kemarin sempat kusulam.

Setelah bicara dengan Ibu semalam, aku memutuskan untuk meminta mas Bagas menunjukkan keseriusannya dengan membawa serta keluarga terutama orang tua. Sayangnya, pagi ini sebelum sempat bicara, dia justru mengejutkanku dengan cerita yang luar biasa. Rasanya seperti disengat listrik bertegangan tinggi, aku berlalu sambil mengusap kasar air mata yang semakin deras. Rasanya ingin sekali mengeluarkan isak yang kusembunyikan dan membuat napasku sesak.

Lelaki berhidung mancung itu sempat  menjadi mimpi. Tapi kini, dia telah membenamkannya sendiri.

***
           
Ibu tahu aku kembali dengan wajah sembab dan basah. Tapi beliau tidak berusaha mencegahku naik ke lantas atas dan mengunci kamar. Ibu pastilah khawatir, tapi ini memang bukan saat yang tepat untuk bicara.

Aku begitu menghargai setiap detail dari perkenalan kami. Meski aku dan mas Bagas jarang sekali bicara, tapi banyak hal bisa aku bicarakan tentang dia bersama Ibu. Meski kami tidak pernah saling akrab, tapi kedatagannya ke rumah dan berniat melamar menjadi alasan kenapa kini dia begitu dekat dalam ingatanku.

Entah apa yang dilakukannya barusan. Tidak berusaha mencegahku pergi dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bukan masalah andai saja dia memang seorang duda beranak satu. Tapi menjadi semakin rumit saat dia menyembunyikan rapat dari aku dan keluarga besarku.

Hidup ini, kadang memang tak selalu seperti yang kita harapkan. Ada saatnya orang yang kita percaya justru berkhianat. Ada waktunya ketika orang yang kita saya justru menikam dari belakang. Dan selalu ada saatnya untuk menangisi sesuatu yang awalnya terlihat sangat manis, seperti perkenalan kami yang tak seberapa lama.

Aku menyibak gorden kamar. Mereka masih bicara, masih di sana, berdiri. Entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin tentang gadis kecil berkuncir dua itu? Atau tentang rindu yang telah lama menunggu untuk dituntaskan? Aku menarik napas dalam. Bulir bening bergulir perlahan, satu persatu, hingga isak itu keluar sepenuhnya, tak lagi bisa ditahan.

***


Baca juga cerita sebelumnya Bag 6; Jatuh Cinta

2 comments:

  1. Terkadang harapan hanya tinggal harapan
    itu kenapa saya selalu menyederhanakan perasaan saya
    agar tidak terlalu berharap
    karena pernah berharap namun terluka
    malah curhat
    baru sampe bagian 7 bacanya hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. *Mohon maaf, simpanlah curhatan pada tempatnya.. :D

      Delete

Powered by Blogger.