Apakah Istri Wajib Memasak untuk Suaminya?

October 27, 2017
sumber


Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251)

Apakah istri wajib memasak untuk suaminya?

Sebagian ulama berpendapat bahwa memasak bukan merupakan kewajiban seorang istri. Tugas istri hanya sebatas melayani suami di atas ranjang. Tapi, pendapat yang seperti ini sangatlah lemah. Jika sampai terjadi hal yang demikian, bisa dipastikan tidak ada lagi keharmonisan di dalam rumah tangga.

Contohnya saja, ketika suami pulang kerja dalam keadaan letih, kemudian dia meminta istrinya menyiapkan makan malam, lalu sang istri menjawab, “Suamiku, sesungguhnya memasak bukan bagian dari tugasku sebagai istri.”

Lalu bagaimana suami bisa cinta, suka, bisa sayang jika semua istri menjawab demikian saat diminta oleh suaminya? Bagaimana juga seorang suami bisa memasak sementara dia juga punya kewajiban mencari nafkah?

Seorang istri memang tidak wajib memasak untuk suaminya, dia tidak punya kewajiban menyiapkan sarapan dan makan siang untuk keluarga, tetapi seorang istri wajib menyenangkan hati sang suami. Jika kita lihat sekarang, istri yang pandai memasak punya nilai lebih di mata suami ketimbang yang tidak bisa memasak. Istri yang menyiapkan sarapan setiap pagi, akan jauh lebih menyenangkan ketimbang seorang istri yang tidak melakukan apa pun untuk keluarganya.

Ingatkah kisah Fathimah binti Muhammad, beliau adalah putri Rasulullah saw. Fathimah menikah dengan salah seorang sahabat Nabi yakni Ali bin Abi Thalib. Ali bukan pemuda kaya kala itu. Saat meminang Fathimah, dia hanya punya sekantung gandum di rumahnya. Setelah menikah pun, kehidupan mereka sama. Serba kekurangan.

Setiap hari Fathimah harus menggiling gandum. Tangannya sampai kasar dan melepuh. Fathimah merasa tugasnya sangat berat. Akhirnya dia berangkat ke rumah Nabi saw dan bermaksud meminta seorang khadimah atau pembantu.

Sayangnya, ketika Fathimah tiba, Rasulullah saw tidak berada di rumah. Maka dia sampaikan maksud kedatangannya kepada Aisyah ra. Saat Rasulullah saw tiba, Aisyah menyampaikan pesan dari Fathimah. Maka bergegaslah Rasulullah saw berangkat ke rumah putrinya. Tahukah apa yang dikatakan Nabi saw saat tiba di rumah Fathimah?

“Maukah aku beri tahu kepada kalian sebuah amalan yang lebih baik daripada seorang pembantu? Jika kalian hendak tidur, maka bertakbirlah 34 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali. Maka hal itu jauh lebih baik daripada seorang pembantu.”

Rasulullah saw tidak mengatakan kepada Fathimah bahwa memasak bukanlah merupakan kewajibannya sebagai seorang istri, beliau hanya menyebutkan sebuah amalan yang lebih baik daripada apa yang telah diminta oleh putrinya.

Pada zaman Rasulullah saw, para istri juga memasak untuk suaminya. Begitu juga dengan Aisyah ra pada kala itu. Jadi, ungkapan bahwa memasak bukan kewajiban seorang istri sangatlah lemah. Kalau memang tidak wajib, maka Rasulullah saw akan mengatakan saat itu juga kepada fathimah.

Dan seorang suami wajib membantu pekerjaan istrinya. Seperti yang sering dilakukan oleh Rasulullah saw kala itu. Beliau bahkan menambal bajunya yang robek. Begitulah akhlak mulia yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Seorang istri punya kewajiban menyenangkan hati suami, mentaati suaminya, dan mengurus rumah suaminya. Dan memasak merupakan salah satu tugasnya untuk menyenangkan hati suami, kebiasaan seperti itu juga berlaku pada zaman Nabi Muhammad saw hingga saat ini. Selain itu, patutlah diketahui bahwa memasak bukanlah sekadar kegiatan mengiris bawang dan cabe, memasak juga bisa jadi ladang pahala bagi seorang istri.


Bacalah basmalah setiap mulai melakukan pekerjaan rumah tangga, niatkan ibadah kepada Allah. Janganlah merasa berat melakukannya sebab putri Nabi saw saja tetap memasak untuk suaminya. Lalu siapalah kita yang masih malas-malasan menyentuh dapur? 

#ODOPOKT25
Tulisan ini dikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

5 comments:

  1. Aku masak juga..pdhl bisanya juga masak gitu2 doang mb..pertimbngannya sih, lbh sehat krn bumbu2nya ga instant.. pertimbngn kedua, drpd mesti antri di warung.. mending di rumah, masak yang cepet. Lbh irit juga jatuhnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, saya juga masaknya itu2 aja..hehe. tapi jadi terbiasa lebih suka makan di rumah, sesekali keluar kalau lagi pengen aja.. ^^

      Delete
  2. Aku masak juga..pdhl bisanya juga masak gitu2 doang mb..pertimbngannya sih, lbh sehat krn bumbu2nya ga instant.. pertimbngn kedua, drpd mesti antri di warung.. mending di rumah, masak yang cepet. Lbh irit juga jatuhnya..

    ReplyDelete
  3. Mbak..dulu pertama nikah heran. Bapak saya di rumah terbiasa bantu Ibu ngerjain pekerjaan rumah tangga. Eh, dapat suami nggak gitu..hihi..ternyata baru tau, Bapak dia di rumah juga sama..Semua ibunya yang ngerjain..pantesan..kwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...sama nih, kayaknya kita senasib..kwkwkwk

      Delete

Powered by Blogger.