Tuesday, October 31, 2017

Cerbung Antara Kita Bag 10; Kisah Kita

sumber


(Raina)

Harapan itu menguap,
Menjelma mimpi,
Merenggut binar yang sempat singgah sejenak,
Dan menjadikanmu pangeran dalam kisah semalam

“Hayo, mikirin apa, sih, Rai?” pekik bang Rio sambil menepuk punggungku dari belakang.
Kalau kujawab, dia pasti akan menertawakanku lagi. Lebih baik aku menghabiskan sarapan dan segera berangkat mengajar. Anak-anak pasti sudah menunggu.

Tapi, bukan bang Rio kalau cepat menyerah. Dia memandangku lekat. Setelah menyesap teh hangat buatan ibu, bang Rio segera menyindir mataku yang sembab. Mungkin juga masih menyisakan kantung mata berwarna gelap. Kurang tidur dan menangis semalaman. Ah, menyesal rasanya karena sudah menghabiskan waktu untuk memikirkan mas Bagas.

“Kamu habis nangis, Rai?” Tiba-tiba bang Rio menunjuk kedua mataku.

Aku menggeleng. Menunduk demi menyembunyikan bengkak di kelopak mata. Kalau aku bilang, apa bang Rio akan marah? Atau justru dia jadi penasaran dan bertanya langsung pada mas Bagas? Aku jadi bingung harus apa. Lama-lama rahasia ini juga pastilah terbongkar karena mereka berdua merupakan teman satu kampus bahkan bertugas di rumah sakit yang sama.

“Jangan bohong, deh. Diapain sama Bagas?”

Bang Rio menatapku serius. Ini bukan dia yang biasanya. Bang Rio biasanya cuek dan tidak peduli. Dia suka usil dan tak punya perasaan. Tapi, kali ini kulihat bang Rio benar-benar bertanya, kenapa aku menangis?

“Apa yang dilakukan Bagas sama kamu? Ada yang nggak beres, nih!” ucap bang Rio sambil memicingkan matanya.

Ibu menyusul dari dapur sambil membawa sepiring buah yang baru dicuci. Melihat kami berdua saling diam, ibu pun jadi jauh lebih penasaran.

“Ada apa, Rio? Rai?”

Mungkin pertanyaan dalam hati ibu sudah bisa kutebak langsung. Kenapa kalian berdua tidak ribut di meja makan? Biasanya kalian tidak pernah berhenti bertengkar, bahkan saat makan pun seperti hendak saling lempar sendok dan garpu. Tidak ada habisnya.

“Rai habis nangis, Bu.”

Aku melotot. Sayangnya, sikapku barusan justru semakin menunjukkan betapa bengkaknya kelopak mataku. Aku jadi serba salah. Tidak mungkin aku ceritakan sekarang, bahkan sebenarnya aku masih ragu dengan kejadian kemarin pagi. Entahlah, aku hampir tak percaya kenapa bisa gadis setinggi foto model itu muncul di sini. Selama enam bulan bertetangga dengan mas Bagas, tidak pernah kulihat tamu selain bang Rio atau teman-teman kampusnya sesama laki-laki. Dan perempuan berwajah cantik kemarin seperti terlihat sangat mustahil berada di sana. Tapi, dia memang di sana, berhadapan dengan mas Bagas dan mengatakan sesuatu yang bisa membuat jantungku berhenti berdetak.

“Rai! Ada apa?” ibu mulai menatap dengan pandangan menyelidik.

Aku menggeleng. Segera menelan sisa roti di mulut dan meneguk susu hangat di meja.

“Rai berangkat dulu, Bu.”

“Eh, kamu mau ke mana lagi? Kami belum selesai bicara, lho!” tegur bang Rio sambil menarik tali ranselku dari belakang.

Aku kesal, segera menimpuk kepala bang Rio dengan kepalan tangan. Dia mengaduh dan  segera mengusap kepalanya.

Ibu hanya tertawa, mengantarku hingga pintu depan. Sebelum pamit aku sempat mengatakan bahwa mungkin nanti atau entah kapan, aku akan bicara pada ibu tentang masalah ini. Ibu, seperti biasa mengangguk, tak pernah memaksa.

***

Aku bertemu mas Bagas. Tidak seperti biasa, dia menyusulku. Aku juga ingin bicara tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Aku harus segera pergi dan menyusul teman-temanku. Mereka pasti sudah menunggu sejak tadi, begitu juga dengan anak-anak di sana.

Hampir tidak pernah kutinggalkan tugasku kecuali saat sakit dan terpaksa. Mungkin, urusan semacam ini bukan termasuk hal yang bisa dikategorikan darurat. Aku tak mau datang terlambat hanya demi mas Bagas. Dia pasti bisa menunggu. Dan aku pun bisa menunggu demi mendengar penjelasan atau bahkan kejujurannya.

Setelah menangis semalaman, aku merasa jauh lebih siap. Kenapa aku harus takut dibohongi sedangkan selama ini kami berdua memang tidak terikat apa-apa. Memang, rasanya sakit karena rahasia itu justru kuketahui dengan cara yang tidak seharusnya.

Aku berusaha memaafkan orang yang menyakitiku. Menyimpan rasa sakit hanya akan membuatku sulit bahagia menjalani hidup. Aku sulit tidur hanya karena memikirkan kejadian kemarin. Aku sulit berpikir tentang banyak hal termasuk soal anak-anak di kawasan pabrik itu hanya karena mas Bagas yang sempat melakukan sesuatu yang tidak pernah aku harapkan sebelumnya.

Menjadi bagian dari luka adalah hal wajar yang terjadi di dalam hidup seseorang termasuk aku sendiri. Rasanya tidak mudah ketika mengharapkan seseorang, tapi kenyataannya justru dia sendiri yang mematahkan harapanku. Aku ingin mendengar langsung semua penjelasan dari mas Bagas. Ya, mungkin nanti saat kami punya waktu untuk bicara.

“Rai, maafkan mas. Mas ingin jelasin semuanya sama kamu.”

Aku hanya tersenyum dan berharap mas Bagas tidak melihat kelopak mataku yang bengkak akibat menangisi dia semalaman.

“Insya Allah nanti kita bicara. Rai harus segera pergi, Mas.”

Mas Bagas berhenti mengejar. Aku rasa dia mengerti. Kita akan bicara saat waktunya telah tiba. Entah kapan, atau mungkin selamanya tak akan pernah ada penjelasan berbeda seperti yang kuharapkan.

Allah, ternyata tidak mudah berdamai dengan hal semacam ini. Aku segera pamit. Berlalu meninggalkan mas Bagas. Insya Allah kita akan bertemu dalam keadaan yang jauh lebih baik.

***

(Bagas)

“Eh, Gas! Kamu apain Raina?”

Saya sempat kaget saat Rio tiba-tiba menyusul ke halaman rumah sesaat setelah Raina pergi.

“Eh,  bukannya kita harus segera berangkat?” Jawab saya asal. Berharap dia tak memaksa saya bicara lebih banyak.

“Nggak, nggak. Adikku kayaknya nangis semalam. Matanya bengkak. Dan jangan bilang kalau kamu nggak tahu apa-apa soal ini?”

Saya tersenyum, sebagai seorang laki-laki saya harus jujur dan menjelaskan semuanya. Saya tahu, meski agak rame dan ribut, Rio sebenarnya adalah seorang kakak yang baik. Karena kami pun sudah berteman cukup lama, saya pun tahu lebih banyak tentang siapa Rio sebenarnya. Karenanya, saya tak ragu saat dia bertanya, dan saya akan jelaskan semuanya.

“Kita ngobrol di dalam.”

***

(Raina)

Bahagia itu hanya sebatas sesapan bibir tipismu
Pada salah satu sisi cangkir teh yang selalu aku hidangkan
Di dekat tempat berbaringmu...

“Benarkah?”

Aku menatap kedua matamu sekali lagi. Ingin memastikan bahwa ucapanmu barusan hanyalah sebuah guyonan. Tapi, hingga debar dalam dadaku semakin bergemuruh, wajahmu justru semakin serius meminta persetujuan.

“Apa Mas serius?” Suaraku terdengar serak. Kepala tiba-tiba saja terasa pening. Tidakkah aku sudah salah dengar, apakah benar kamu meminta izin untuk menikah lagi?

Kepalaku semakin berat, mata berkunang. Wajahmu seolah bayangan yang berputar semakin cepat. Membuat pandanganku kabur. Kemudian, hanya gerakan tubuh limbung dan kerasnya hantaman lantai yang menyentuh kepala yang pada akhirnya menidurkanku begitu lama.


***

Raina baru siuman setelah setengah jam dia jatuh pingsan. Bagas sempat panik meski dia seorang dokter, tidak mudah menghadapi kejadian seburuk itu tepat ketika dia meminta izin kepada istrinya untuk bisa menikah lagi.

Bagas berharap Raina tidak akan pernah salah sangka padanya. Dia tidak benar-benar mencintai Sherly, dia terpaksa melakukannya sejak tes DNA itu keluar dan gadis kecil yang sudah beranjak remaja itu ternyata benar-benar mewarisi kulit putih serta bibir tipis miliknya.

Bagas merasa menjadi lelaki paling bodoh. Hanya demi anak gadis yang tak pernah diharapkannya, dia rela menyakiti Raina. Istrinya tidak pernah mengeluhkan apa pun sejak mereka menikah. Meski Bagas lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, wanita berlesung pipit itu tidak pernah keberatan. Belum lagi setelah memiliki anak, Raina menjadi wanita paling sibuk. Ah, rasanya Bagas teramat menyesal telah menuruti permintaan Rara.

Gadis kecilnya yang dulu, yang dia anggap bukan darah dagingnya, kemarin sekali memohon. Ya, hanya sekali. Dia meminta Bagas menikahi Sherly. Dengan tatapan dipenuhi hujan, Rara meminta Bagas menikahi ibunya. Ya, hanya sebentar saja. Setelahnya Bagas boleh melakukan apa pun termasuk meninggalkan Rara yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri.

“Mama tidak punya waktu banyak. Dokter bilang mungkin hanya sebulan, bahkan bisa jadi kurang.”

Bagas menatap buah hatinya sekali lagi. Hampir tak percaya dengan apa yang diucapkan Rara.

“Rara mohon, menikahlah dengan mama supaya dia bahagia. Hanya sebentar saja,”

Tatapan gadis itu semakin deras. Bagas mematung. Mungkin bukan hal masuk akal, tapi mungkin dia bisa mengabulkan permintaan terakhir gadis itu. Bagas tersadar dari lamunannya, sebuah anggukan pada akhirnya menyembulkan senyum manis pada wajah Rara. Sedetik kemudian, gadis yang tak pernah disebutnya anak itu berkali-kali mencium tangannya, menangis amat dalam.

***

Sambel Ijo



Assalamualaikum..lama juga tidak menulis resep. Jujur saja karena memang jarang masak macam-macam, lebih banyak mengerjakan PR tulisan yang menumpuk. Nah, kebetulan tadi pagi sedang ingin sekali makan sambel ijo ala ibu saya.

Dulu, saat masih kecil, ibu sering sekali memasak sambel ijo ini di rumah. Kebetulan biasanya bertepatan dengan hari panen cabe. Yup, bapak biasanya menanam sayuran termasuk cabe besar ini di sawahnya.

Uniknya, sambel ini nggak sama kayak di rumah makan padang itu. Kalau saya makan sambel ijo di rumah makan padang, sambelnya berasa hambar dan biasa aja…he. Sedangkan sambelnya ibu ini rasanya segar karena ada perasan jeruk nipis sesaat sebelum apinya dimatikan. Ibu juga menambahkan geprekan jahe di dalamnya. Jadi, rasanya itu gurih, segar, nggak terlalu pedas dan hm, dimakan dengan nasi panas aja tanpa lauk lainnya pun tetap enak banget!

Cabenya boleh diulek kasar atau haluskan dengan chopper seperti yang saya lakukan. Sebenarnya jauh lebih enak diulek kasar, cuma lagi malas ulek mengulek. Jadilah dimasukkan chopper semua bahannya dan diproses sebentar saja supaya hasilnya tidak terlalu hancur.

Pernah juga saya campurkan cumi asin ke dalamnya. Rasanya juga tetap enak, tapi saya lebih suka yang original seperti ini. Mungkin seperti sedang makan di rumah ibu, atau memang karena sering sekali makan sambel ini, jadinya lidah saya sudah begitu hafal dan kangen setiap makan dengan lauk sederhana begini.

Bahan:
2 genggam cabe hijau besar, potong sedang
6 siung bawang merah
3 siung bawang putih
5 iris (tebal) jahe, geprek
Sedikit perasan jeruk nipis atau jeruk limau
Secukupnya garam
Sedikit kaldu bubuk (bila suka)
Secukupnya minyak untuk menumis

Cara membuat:
·        Haluskan bawang merah, bawang putih dan garam. Lalu masukkan irisan cabe hijau. Ulek kasar.
·        Panaskan minyak, tumis semua bahan termasuk jahe geprek. Aduk-aduk terus supaya tidak gosong. Beri kaldu bubuk.
·        Setelah sambel mulai berubah warna dan bawang matang, beri perasan jeruk nipis. Aduk dan segera matikan apinya.
·        Sajikan dengan nasi panas dan pelengkap.





Cocok banget dimakan dengan lauk apa saja. Tapi kalau saya lebih suka makan pakai sambelnya aja…he. Selamat mencoba, ya…^^


Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

Monday, October 30, 2017

Kapan Mulai Menabung Untuk Haji?

sumber


Haji merupakan rukun islam kelima. Melaksanakan ibadah haji hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Mampu dalam artian tidak menunggu kaya raya tapi diusahakan dalam doa dan ikhtiar.

Kisah inspiratif datang dari seorang tukang becak bernama Nunu Siswanto dari Tasikmalaya. Setelah menabung sekitar 7 tahun, akhirnya dia bisa berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun ini bersama sang istri yang berprofesi sebagai seorang buruh.

Kegigihan Nunu menabung untuk berangkat haji juga dibarengi dengan doa orang-orang di sekitarnya. Sehari-hari dia hanya bisa mengumpulkan 20 sampai 30 ribu saja perhari. Bersyukurnya, sang istri mampu mengelola keuangan dengan sangat baik sehingga uang tabungan untuk berangkat haji pun bisa tercukupi meski mereka harus membiayai kebutuhan sehari-hari dan membayar uang sekolah anaknya.

Rupanya Nunu tidak pernah memasang tarif saat menarik becak. Dia ikhlas dengan upah yang diberikan oleh pelanggannya. Beberapa penumpangnya juga selalu mendoakan supaya dia bisa naik haji. Masya Allah, Allah kabulkan doa orang tua serta penumpangnya. Kegigihan Nunu membuahkan hasil.

Berkaca dari kisah Nunu Siswanto, berangkat haji tidak menunggu banyak uang. Tidak perlu uang puluhan juta dulu untuk niat berangkat haji. Bahkan mungkin uang puluhan juta itu belum tentu akan datang. Maka yang ada pun bisa segera ditabung dan diniatkan untuk berangkat haji.

Masa tunggu haji semakin tahun semakin panjang. Lantas kapan idealnya membuka tabungan haji? Salah seorang pegawai dari sebuah Bank di Indonesia mengatakan bahwa usia 10 tahun merupakan usia ideal untuk membuka tabungan haji. Jadi, tidak perlu menunggu tua untuk segera berangkat. Tapi sayangnya, masih banyak yang belum tergerak untuk segera membuka tabungan haji.

Beberapa beralasan bahwa haji itu hanya untuk orang yang mampu. Sedangkan dirinya masih banyak sekali tanggungan dan masih merasa belum mampu menabung untuk haji. Padahal, Nunu yang serba kekurangan saja bisa menyisihkan sedikit demi sedikit uangnya untuk berangkat haji, bukannya Nunu tidak banyak tanggungan, tapi hatinya teguh dan benar-benar berniat ingin berangkat haji. Maka ketika niat itu ada di dalam hati, insya Allah dimudahkan oleh Allah.

Menabung haji tidak menunggu punya uang 50 juta. Bahkan seribu sehari pun bisa dikumpulkan. Sayangnya tidak banyak yang memperhatikan kewajiban yang satu ini. Entah kurang memahami makna dari ‘mampu’ yang merupakan syaratnya naik haji atau memang abai.

Jika melihat kisah Nunu, maka sudah bisa ditebak akan ada lebih banyak yang di atas Nunu, yang lebih mampu menabung, yang lebih banyak penghasilannya, yang lebih ringan tanggungannya.

Menabung haji butuh niat, bukan hanya sekadar punya uang. Yang punya uang pun belum tentu mau lekas membuka tabungan haji dan mendaftar. Jadilah salah satu orang yang seteguh Nunu, yang dalam kekurangannya tetap memikirkan dan mengusahakan demi melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Semoga kita bukan termasuk salah satu yang lalai, yang punya tapi masih merasa tidak mampu untuk segera menunaikan ibadah haji.

Buka tabungan dulu, kumpulkan uangnya, ketika niat itu ada, maka Allah yang akan memudahkannya, insya Allah!


Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

Sunday, October 29, 2017

Campur Tangan Orang Tua Dalam Urusan Rumah Tangga

sumber


Banyak perempuan yang stres setelah melahirkan bukan karena ASI-nya sedikit, bukan karena terlalu capek, bukan juga karena anaknya terlalu banyak menangis tapi lebih karena campur tangan orang tua dalam urusan pengasuhan anak.

Orang tua tentu begitu excited menyambut kehadiran cucu pertama mereka. Segala macam yang terbaik beliau sampaikan kepada menantunya. Mulai dari mewajibkan memakai gurita, menegur saat bayi merah itu tidak dipakaikan bedong, sampai mau menyuapi pisang pada cucunya yang masih belum genap 30 hari.

Perkembangan zaman memaksa semua orang mulai berpikir lebih maju. Informasi seputar kesehatan dan pengasuhan bayi baru lahir telah didengar oleh hampir semua ibu hamil dan melahirkan. Dan tentu saja, seperti yang diketahui dari ucapan para dokter, sangat tidak disarankan memakaikan gurita karena bisa mengganggu pernapasan sang bayi.

Lalu bagaimana dengan pendapat orang tua atau mertua? Tentu saja mereka tidak suka dibantah karena umumnya mereka berpendapat bahwa pengalaman mengasuh anak telah mereka telan seluruhnya bahkan hingga kulit ke akarnya. Mereka paham betul bagaimana cara merawat bayi. Sedangkan menantunya hanyalah anak muda yang tidak mengerti apa-apa. Mertua dan orang tua lupa bahwa ibunya jauh leih berhak memutuskan, beliau juga lupa karena rasa sayang yang begitu besar kepada sang cucu.

Pada akhirnya sang ibu merasa tertekan karena tidak sependapat dengan orang tuanya, tetapi dia juga tidak bisa menjelaskan baik-baik sebagaimana yang telah dia ketahui. Akhirnya karena tidak mau bertengkar dengan orang tua, dia diam dan melakukan segala hal dalam keadaan serba terpaksa.

Konflik batin semacam ini sering terjadi. Menantu tidak berani membantah dan lebih parahnya sejak awal tidak menjalin komunikasi dengan orang tua atau mertua yang nyatanya berseberangan dengannya. Keadaan semakin runyam ketika menantu tinggal serumah dengan orang tua atau mertua. Masya Allah, sungguh tertekannya pikiran sang anak yang baru resmi menjadi seorang ibu.


Di dalam islam, setelah menikah, dianjurkan segera meninggalkan rumah orang tua atau mertua. Orang tua tidak punya hak mencampuri urusan anak-anaknya yang telah menikah. Anak-anak yang telah menikah juga berhak keluar dari rumah orang tuanya meski orang tua melarang.

Cukuplah orang tua membesarkan dan mengantarkan anak-anaknya hingga jenjang pernikahan. Anak-anak sudah cukup dewasa dan mampu memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya masing-masing. Campur tangan orang tua terlalu jauh dalam rumah tangga seorang anak bisa sampai pada tahap perceraian yang mengerikan. Kecuali jika anak-anaknya butuh bantuan untuk memecahkan sebuah masalah, orang tua bisa membantu menyelesaikannya.

Tapi, saat masalah tidak sampai padanya, dan beliau hanya mengada-ada, maka sangat disayangkan, rumah tangga sebaik apa pun bisa retak karenanya. Misalnya saja orang tua yang berkunjung ke rumah menantunya, beliau mengeluhkan kenapa rumahnya tidak sebagus milik si A, kenapa perabot rumahnya tidak sebanyak si B.

Ujian di dalam rumah tangga bisa datang dari mana saja, termasuk dari orang tua dan mertua. Terutama mertua, mereka cukup sedih ditinggalkan oleh putra kesayangannya. Dia kehilangan perhatian setelah putranya menikah. Lantas dia juga harus kehilangan cucunya yang sangat didamba. Keadaan seperti ini menjadi sangat wajar jika pada akhirnya mertua begitu cemburu kepada menantunya sendiri terlebih ketika usia mereka tak lagi muda. Bagaimana rasanya tinggal sendiri sementara anak-anaknya telah berumah tangga? Sepi.

Sebagai orang tua memang tidak dianjurkan ikut campur baik dalam hal pengasuhan juga dalam urusan rumah tangga anak-anaknya. Tetapi sebagai anak kita juga tidak dibolehkan menyakiti hati mereka. Lalu bagaimana menangani konflik yang sangat sering terjadi di kalangan masyarakat ini?

Jangan lupa diskusikan pendapat kita kepada orang tua. Mulailah dengan obrolan ringan yang menyenangkan semisal bercerita tentang keadaan janin, bagaimana pendapat dokter tentang pemakaian bedong dan gurita serta banyak hal lainnya.

Komunikasi yang baik tentu akan diterima oleh orang tua. Percayalah, mereka sungguh sangat sayang kepada anak serta menantunya. Karena itulah mereka pun merasa semuanya harus sempurna dan kadang mereka juga lupa bahwa anak-anaknya pun sebenarnya telah dewasa dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Meski tidak semua mertua atau orang tua mau menerima, tapi memulai komunikasi yang baik akan sangat memudahkan nantinya. Jelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Orang tua zaman sekarang tentu jauh lebih mengerti bagaimana merawat dan mendidik anak-anak di zaman yang sama. Sedangkan orang tua zaman dulu juga tidak selamanya salah.

Jika orang tua tidak mengizinkan pindah dari rumahnya, maka jelaskanlah baik-baik tapi tegas. Berjanjilah akan selalu mengunjungi, mungkin saja mereka takut kehilangan perhatian sehingga melarang anaknya pindah ke rumahnya sendiri.

Sebagai seorang istri juga sebaiknya pandai-pandailah bersikap. jangan bermanja-manjaan ketika berada di depan mertua. Dan lakukan sebaliknya saat bertemu orang tua. Ambil hati mereka, jadilah anak serta menantu yang menyenangkan.

Apa pun itu, campur tangan orang tua dalam urusan rumah tangga lebih banyak berdampak buruk. Sebagai seorang anak, tidak dianjurkan menceritakan semua masalah rumah tangganya kepada orang tua, cukuplah diselesaikan berdua dengan pasangan. Jika masalah tidak bisa diselesaikan juga, diperbolehkan meminta bantuan orang tua untuk menyelesaikannya. Insya Allah, semua orang tua bahagia melihat anaknya bahagia. Riak-riak kecil dalam rumah tangga tentu sangatlah wajar dan tidak perlu menjadikan orang tua sebagai tempat curhat. Percayalah, Allah juga mendengar doa-doa hamba-Nya.

#ODOPOKT26

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

Selamat Hari Blogger Nasional

sumber


Tanggal 27 Oktober 2017 merupakan hari Blogger Nasional. Tepatnya hari itu saya harus buru-buru juga setor tulisan yang lain karena memang ada acara dari siang dan baru sampai rumah sekitar jam 12 malam. Dan akhirnya saya belum menulis tema satu ini.

Saya juga terpaksa bolos lagi di One Day One Post karena alasan yang sama. Semalam ingin post tapi saya masih menidurkan si adik ketika kami baru sampai rumah jam 11 malam lewat. Dan saya sudah terlalu lelah, akhirnya bye..bye lagi…hiks. Udah ketiduran…huhu.

Sebenarnya saya punya blog sejak 2014 silam saat saya baru mulai menulis. Saat itu rasanya ingin sekali tetap konsisten meski pada akhirnya saya memutuskan berhenti dan kembali lagi pada 2017 ini. Alhamdulillah, bertemu Blogger Muslimah dan mengikuti One Day One Post membuat saya lebih konsisten mengisi blog meski sebenarnya fokus saya bukan menjadi Blogger tapi penulis buku.

Tapi, semakin lama menulis di blog menjadi candu. Rasanya tidak pas kalau belum menulis artikel atau sebuah resep misalnya. Dan saat ini, saya tidak mau hanya sekadar menulis curhatan, di tengah padatnya tugas menulis (Sok sibuk…uhuk), saya menyempatkan belajar menulis artikel secara otodidak. Dan artikel pertama yang mungkin bagi saya agak hati-hati menulisnya karena tidak dibuat sebagai lahan curhat yang subur (lahan? :D) adalah artikel berjudul ‘Ibumu Bukan Pengasuh Anakmu’. Dan Alhamdulillah, artikel yang agak kontroversi karena menimbulkan banyak pendapat di kalangan ibu-ibu itu banyak menarik minat pembaca.

Menjadi Blogger bukan sekadar punya blog dan diisi suka-suka. Sebab tujuan mulianya bisa berbagi manfaat seluas-luasnya kepada teman-teman semua. Dengan menulis di Blog, saya pribadi merasa lebih bebas menulis apa pun, saya bisa mengumpulkan semua tulisan sesuai dengan yang saya inginkan. Apa, ya, blog ini benar-benar merupakan rumah buat saya. Saya memang lebih fokus pada menulis buku, tapi buat saya blog juga merupakan sesuatu yang tak kalah penting yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Penulis juga harus punya blog dan blogger juga harusnya bisa jadi penulis.
Nah, beberapa bulan terakhir saya berusaha menjalankan semuanya. Menulis ya blogger. Nggak mau asal nulis meski nyatanya tulisan saya masih acak-acakan..he. Insya Allah, saya sangat menikmati apa yang saya kerjakan saat ini.

Memang, ada saatnya saya merasa tidak pantas jadi penulis, ada waktunya saya merasa tulisan saya sangat tidak layak dibaca orang lain, ada saatnya saya lelah dan ingin berhenti, ada saatnya saya menjadi lemah dan lupa akan mimpi masa lalu, ingat dulu pernah sekali waktu meninggalkan dunia kepenulisan, tapi saat seperti itu saya tetap menulis, maka saat itu juga saya tahu, bahwa saya memang butuh berjuang lebih keras untuk mewujudkannya, dan saat itu juga saya merasa nyaman dan menikmati apa yang saya lakukan saat ini.


Alhamdulillah, bahagianya menjadi bagian dari seorang blogger. Selamat berjuang buat teman-teman semua!

Friday, October 27, 2017

Apakah Istri Wajib Memasak untuk Suaminya?

sumber


Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251)

Apakah istri wajib memasak untuk suaminya?

Sebagian ulama berpendapat bahwa memasak bukan merupakan kewajiban seorang istri. Tugas istri hanya sebatas melayani suami di atas ranjang. Tapi, pendapat yang seperti ini sangatlah lemah. Jika sampai terjadi hal yang demikian, bisa dipastikan tidak ada lagi keharmonisan di dalam rumah tangga.

Contohnya saja, ketika suami pulang kerja dalam keadaan letih, kemudian dia meminta istrinya menyiapkan makan malam, lalu sang istri menjawab, “Suamiku, sesungguhnya memasak bukan bagian dari tugasku sebagai istri.”

Lalu bagaimana suami bisa cinta, suka, bisa sayang jika semua istri menjawab demikian saat diminta oleh suaminya? Bagaimana juga seorang suami bisa memasak sementara dia juga punya kewajiban mencari nafkah?

Seorang istri memang tidak wajib memasak untuk suaminya, dia tidak punya kewajiban menyiapkan sarapan dan makan siang untuk keluarga, tetapi seorang istri wajib menyenangkan hati sang suami. Jika kita lihat sekarang, istri yang pandai memasak punya nilai lebih di mata suami ketimbang yang tidak bisa memasak. Istri yang menyiapkan sarapan setiap pagi, akan jauh lebih menyenangkan ketimbang seorang istri yang tidak melakukan apa pun untuk keluarganya.

Ingatkah kisah Fathimah binti Muhammad, beliau adalah putri Rasulullah saw. Fathimah menikah dengan salah seorang sahabat Nabi yakni Ali bin Abi Thalib. Ali bukan pemuda kaya kala itu. Saat meminang Fathimah, dia hanya punya sekantung gandum di rumahnya. Setelah menikah pun, kehidupan mereka sama. Serba kekurangan.

Setiap hari Fathimah harus menggiling gandum. Tangannya sampai kasar dan melepuh. Fathimah merasa tugasnya sangat berat. Akhirnya dia berangkat ke rumah Nabi saw dan bermaksud meminta seorang khadimah atau pembantu.

Sayangnya, ketika Fathimah tiba, Rasulullah saw tidak berada di rumah. Maka dia sampaikan maksud kedatangannya kepada Aisyah ra. Saat Rasulullah saw tiba, Aisyah menyampaikan pesan dari Fathimah. Maka bergegaslah Rasulullah saw berangkat ke rumah putrinya. Tahukah apa yang dikatakan Nabi saw saat tiba di rumah Fathimah?

“Maukah aku beri tahu kepada kalian sebuah amalan yang lebih baik daripada seorang pembantu? Jika kalian hendak tidur, maka bertakbirlah 34 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali. Maka hal itu jauh lebih baik daripada seorang pembantu.”

Rasulullah saw tidak mengatakan kepada Fathimah bahwa memasak bukanlah merupakan kewajibannya sebagai seorang istri, beliau hanya menyebutkan sebuah amalan yang lebih baik daripada apa yang telah diminta oleh putrinya.

Pada zaman Rasulullah saw, para istri juga memasak untuk suaminya. Begitu juga dengan Aisyah ra pada kala itu. Jadi, ungkapan bahwa memasak bukan kewajiban seorang istri sangatlah lemah. Kalau memang tidak wajib, maka Rasulullah saw akan mengatakan saat itu juga kepada fathimah.

Dan seorang suami wajib membantu pekerjaan istrinya. Seperti yang sering dilakukan oleh Rasulullah saw kala itu. Beliau bahkan menambal bajunya yang robek. Begitulah akhlak mulia yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Seorang istri punya kewajiban menyenangkan hati suami, mentaati suaminya, dan mengurus rumah suaminya. Dan memasak merupakan salah satu tugasnya untuk menyenangkan hati suami, kebiasaan seperti itu juga berlaku pada zaman Nabi Muhammad saw hingga saat ini. Selain itu, patutlah diketahui bahwa memasak bukanlah sekadar kegiatan mengiris bawang dan cabe, memasak juga bisa jadi ladang pahala bagi seorang istri.


Bacalah basmalah setiap mulai melakukan pekerjaan rumah tangga, niatkan ibadah kepada Allah. Janganlah merasa berat melakukannya sebab putri Nabi saw saja tetap memasak untuk suaminya. Lalu siapalah kita yang masih malas-malasan menyentuh dapur? 

#ODOPOKT25
Tulisan ini dikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

Thursday, October 26, 2017

Ibumu Bukan Pengasuh Anakmu

sumber


Zaman sekarang, sering kita temui ibu berusia lanjut mengasuh cucunya. Dia menggendong cucunya sambil menyuapi, dia menjaga cucunya yang sedang bermain di halaman rumah sambil sesekali berlari menyelamatkan cucunya, khawatir jatuh tertabrak teman bermainnya. Pemandangan yang semakin hari semakin terlihat lumrah meski kenyataannya kewajiban menjaga anak-anak adalah tugas seorang ibu, bukan lagi neneknya.

Mungkin karena tuntutan ekonomi, seorang ibu rela membiarkan orang tuanya yang telah renta menggantikan posisi mereka. Mungkin karena single mom, atau juga sebab tak mampu melepas karirnya di kantor bahkan yang lebih buruk ditinggal begitu saja oleh orang tua kandungnya. Pemahaman yang sebenarnya salah tapi terlalu diabaikan oleh sebagian orang.

Kasih sayang seorang ibu sepanjang masa. Kasih sayang anak kepada ibunya hanya sebatas ujung kuku. Ibu tidak akan mengeluh ketika dititipkan seorang cucu bahkan lebih meski kenyatannya fisiknya saja sudah jelas terlihat tidak mampu. Tapi, hampir semua dari mereka tidak pernah menolak bahkan menerima dengan senang hati. Mereka senang bermain bersama cucunya, melihat mereka melompat dan berlarian ke sana kemari. Menjadi hiburan. Menjadi pelepas lelah.

Sayangnya, yang harusnya mengerti tentang keadaan ini adalah kita sendiri sebagai anaknya. Tugas mengasuh anak-anak adalah tanggung jawab seorang ibu. Sedangkan tugas seorang nenek telah rampung membesarkan kita hingga dewasa bahkan mengantar kita ke jenjang pernikahan. Setelah menikah, ibu memang akan tetap menjadi orang pertama yang mendengarkan keluh kesah dan mau berbagi dengan kita, tapi bukan berarti seorang anak bisa seenaknya memperlakukan orang tua.

Sudah lewat masanya mereka mengurusi anak. Sudah lewat zamannya mereka menggendong bayi ke sana kemari bahkan meredakan tangisan bayi di pangkuannya. Sudah habis masa mereka melakukan tugas pengasuhan dan kewajiban itu kini beralih kepada kita sebagai seorang ibu yang baru melahirkan.

Tapi mencari seorang pengasuh di zaman sekarang tidaklah mudah. Benar, tapi bukan berarti tidak ada solusi untuk hal ini. Ketika mampu, seharusnya seorang ibu bisa segera mencarikan baby sitter bagi anaknya. Biarkan mereka berdua tinggal dalam pengawasan sang nenek. Jadi, ibu bisa merasa tenang meninggalkan bayinya, nenek pun tidak perlu dibebankan pekerjaan berlebihan namun tetap bisa mengawasi dan bermain bersama.

Sungguh berdosa jika seorang perempuan membebankan tugas mengasuh anak kepada orang tuanya yang telah berusia lanjut, apalagi jika sampai orang tua tidak lagi leluasa untuk melakukan ibadah seperti membaca Al-Quran atau menghadiri majelis taklim. Orang tua tentu berhak menolak. Sebab kelak yang akan dimintai pertanggungjawaban bukan lagi dirinya, tapi ibu dari anak yang telah melahirkannya.

Betapa berat tugas pengasuhan. Menjaga anak-anak terutama yang masih balita butuh tenaga besar. Anak-anak sekecil itu senang berlarian, naik ke atas kursi dan meja, melompat dari ranjang bahkan lebih parahnya lagi tantrum. Tegakah kita memberikan tugas seberat itu kepada ibu yang telah berusia lanjut? Bahkan untuk berjalan saja tertatih dan gemetar.

Sejatinya tugas seorang ibu adalah mengasuh dan mendidik anak-anaknya, sedangkan tugas kita sebagai seorang anak ialah berbakti kepada orang tua. Jangan sampai kita lupa bagaimana cara memperlakukan orang tua dengan baik, jangan sampai kita tak mengerti bagaimana membahagiakan mereka. Setidaknya kita tidak lagi membebankan apa pun kepada mereka, mendoakan dan senangkan hatinya dengan akhlak yang baik.

#ODOPOKT24

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

Wednesday, October 25, 2017

DIY Homemade Play dough

sumber


Assalamualaikum, kali ini saya mau sharing tentang salah satu permainan yang disukai anak-anak termasuk anak saya juga. Hm, sebenarnya foto-fotonya sudah hilang semua, hihi. Tapi saya masih ingat pernah membuat play dough ini dari resepnya mbak Nikmatul Rasidah di Cookpad.

Biasanya saya pribadi tidak suka membeli play dough yang di jual. Alasannya karena kalau yang murah, bahannya terlihat sangat tidak aman buat anak-anak apalagi yang masih dalam fase oral atau memasukkan semua benda yang dipegangnya ke dalam mulut. Kedua, kalau yang bagus, harganya pun tidak murah. Rasanya sayang sekali kalau hanya buat diuyel-uyel (bahasa mana? :D) harus mengeluarkan uang lebih. Ujung-ujungnya dibuang pula. Sayang banget, kan?

Nah, pas ketemu resep ini, saya bahagia tak terkira. Ternyata bahan-bahan yang digunakan terbuat dari bahan makanan yang aman dan ramah buat anak serta aman juga buat kantong emaknya *eaaa. Meskipun aman, tidak disarankan juga ya, dimakan. Sebaiknya masuk resep roti saya aja, supaya bisa makan roti sekalian ^^.

Bermain play dough ini banyak sekali manfaatnya, lho. Terutama untuk melatih motorik halus. Dengan permainan sederhana ini, anak-anak bisa belajar mengenal bentuk, mengenal warna serta aroma (jika kita mau menambahkan aroma buah yang aman ke dalam adonan play dough).

Selain itu, bermain play dough juga mengasah kreativitas si kecil. Mereka bebas berkreasi sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Bahan:
300gr terigu serbaguna
325ml air
25gr baking soda
50gr garam
30ml minyak goreng
Secukupnya pewarna makanan

Cara membuat:
·        Rebus sampai mendidih air, baking soda, minyak serta garam.
·        Tuang ke dalam terigu. Aduk rata dengan sendok dan nantinya adonan akan menjadi matang.
·        Bagi menjadi beberapa bagian. Beri beberapa tetes pewarna makanan. Uleni sampai rata, ya.
·      Siap dimainkan. Jika tidak dipakai sebaiknya masukkan ke dalam plastik dan simpan pada suhu ruang.

Nah, permainan ini nggak cuma disukai anak perempuan saja, yang cowok pun suka sekali bermain play dough. Mereka bisa membuat bentuk yang mereka inginkan. Bisa menggunakan cetakan kecil, bisa dipotong-potong atau digunting. Dan yang lebih menyenangkan, bahannya aman karena terdiri dari bahan makanan yang aman dikonsumsi. Gimana? Menarik, yaa…Selamat mencoba, yaa moms!

#ODOPOKT23

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

Tuesday, October 24, 2017

Biasakan Sarapan Setiap Hari

sumber


Saat kecil, saya sudah terbiasa sarapan sebelum berangkat sekolah. Pagi-pagi, ibu belum menyalakan tungku kayunya. Tapi nasi sisa kemarin masih ada. Saya menyantapnya dengan lauk seadanya. Kadang hanya kerupuk, kadang ikan asin. Saya juga masih ingat, saat menyantap sesuap nasi, saya sering diserbu mual. Entah karena kondisi perut yang tidak bersahabat, entah karena terlalu pagi makan dan sampai sekarang saya tidak tahu penyebabnya. Meski seadanya, ibu selalu mewajibkan saya sarapan sebelum berangkat sekolah.

Hm, ternyata sarapan memang mempunyai banyak mafaat, ya bagi tubuh kita. Terutama bagi kelangsungan aktivitas kita selanjutnya. Saya juga mewajibkan suami dan si sulung untuk sarapan setiap hari sebelum berangkat kerja dan sekolah. Makannya, pagi-pagi sekali saya sudah harus menyiapkan semuanya, mulai dari teh hangat, sarapan, dan dua kotak bekal untuk si kakak.

Alhamdulillah, meski suami harus berangkat jam 6 pagi ke kantor yang jaraknya sangat jauh, dia tetap menyantap sepiring nasi atau setangkup roti. Dan si kakak pun juga sama. Selalu sarapan sebelum akhirnya jemputannya menanti di depan rumah.

Lalu apa saja sih manfaat sarapan bagi tubuh kita?

1.      Memberikan energi bagi tubuh. Kalau nggak sarapan biasanya malas melakukan aktivitas, kadang juga cepat mengantuk. Nggak asyik juga, ya kalau tiba-tiba ketiduran di kelas atau di tempat kerja?
2.      Menjaga supaya tetap konsentrasi. Ini penting sekali terutama bagi yang bekerja dan sekolah. Kalau sampai hanya karena lapar konsentrasi buyar, maka buyar sudahlah semuanya. Klien bisa kabur, guru bisa ngamuk karena ditinggal melamun. Aduh, nggak banget, kan?
3.      Mencegah penyakit maag. Sarapan bisa menetralisir asam lambung. Yang punya penyakit maag biasanya mual dan perih jika telat sarapan, kan? Nah, mulai sekarang jangan malas-malas sarapan, ya!
4.      Membantu bagi yang sedang diet. Kalau sedang diet justru disarankan sarapan pagi sebab sarapan selain membantu proses metabolisme juga bisa menghindarkan kita dari makan berlebihan karena terlalu lapar. Padahal, biasanya orang diet jarang sarapan. Nggak mau makan nasi, tapi siangnya bakan lontong dan bakso semangkuk *eh.
5.      Menghilangkan stres. Nggak enak ya, ketika tugas kantor numpuk, tiba-tiba perut melilit dan sakit hanya karena lapar dan tidak sarapan. Mau pergi sebentar, bos bisa ngomel. Mau ngemil, ternyata stok camilan di meja sedang kosong. Akhirnya hanya menggerutu stres dan terpaksa menunggu waktu makan siang untuk mengisi perut yang kosong. Kebayangkan susah banget menyelesaikan berbagai macam tugas ketika sedang lapar?


Nah, karena sudah tahu betapa pentingnya sarapan pagi, maka mulai sekarang usahakan selalu sarapan sebelum berangkat kerja atau sekolah. Selain menyehatkan, sarapan juga punya banyak sekali manfaat. Yuk, sarapan setiap hari ^^

#ODOPOKT22
Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia