Catatan Seorang Santri

September 16, 2017
sumber


Assalamualaikum…entah kenapa tiba-tiba saja pengen banget cerita tentang pondok pesantren. Kalau membayangkan zaman dulu saat masuk pesantren, saya nggak berani kembali lagi ke masa-masa itu meskipun di sana saya merasa cukup bahagia. Nah, lho. Katanya rindu?

Iya, saya rindu karena saat di pesantren banyak sekali kisah lucu, mengharu biru serta memalukan..he. Skip yang memalukan, ya. Sebab dilarang membuka aib (tutup muka). Saya masuk pesantren sejak SMA. Sebenarnya saya sama sekali tidak berniat masuk pesantren setelah lulus SMP. Tapi, qadarallah memang sudah demikian jalannya.

Sebelum memutuskan untuk masuk pesantren, saya lebih memilih sekolah lain. Awalnya begitu, tapi karena saya memang dasarnya pengecut, pas ngajakin teman sebangku buat daftar di sekolah lain dia menolak. Ya sudahlah, akhirnya orang tua menyuruh masuk pesantren dan saya pun pasrah aja. Kebetulan saudara saya justru masuk pesantren saat masih SMP. Saya termasuk yang telat dan kayaknya orang tua sudah nggak tahan lihat bungsunya sekolah naik angkot dari rumah.

Saya masuk pesantren juga bukan karena nakal..he. Bahkan jalan ke pasar sendirian saja mana berani. Termasuk sekarang setelah beberapa tahun di Jakarta, saya lebih suka di rumah saja. Iya, duduk manis aja di rumah ketimbang kebanyakan jalan nanti tersesat, gimana? Haha, lebay kan emak-emak seperti saya ini…kwkwk.

Pesantren itu bukan bengkel yang bisa membenahi yang rusak. Kebanyakan teman-teman yang sudah begitu dari rumah, masuk pesantren pun tetap seperti itu bahkan kadang jauh lebih parah kecuali memang dapat hidayah. Iya, namanya di pesantren walaupun dipisah tembok dan jalan raya, tetap saja ada aja yang bisa pacaran. Walaupun sekolahnya saja dipisah antara laki-laki dan perempuan, tetap saja mereka bisa kenalan. Jadi? Ya tergantung niat santri saja. Mau belajar atau malah tetap membawa kebiasaan buruk selama di rumah. Itu adalah pilihan.

Hm, yang juga bikin kaget ketika sekarang melihat teman-teman yang semasa dulu pakai jilbab, kemudian menanggalkannya tanpa beban. Itu sungguh ‘wow’ dan bikin hati nggak karuan. Jelas, kami sangat tahu batasan itu sebab di pesantren namanya ilmu agama dipelajari sampai ngelontok. Ketika ada yang memutuskan seperti itu ya sekali lagi itu adalah sebuah pilihan yang suatu saat toh akan dimintai pertanggungjawaban.

Nah, selain itu, masuk pesantren itu bukan berarti bakalan jadi orang kuper, lho. Apalagi zaman sekarang, pesantren di Jakarta selain mehong juga mewah. Kalau zaman dulu, nyantri itu memang buat tirakat, katanya. Jadi, meskipun tidur sudah seperti pindang karena kamarnya penuh banget, apalagi kalau sampai ada santri baru yang unyu-unyu alias masih SMP, kita yang senior bakalan ngalah dan memilih untuk tidur di luar kamar. Bayangkan, udara kota Malang itu semriwing banget, saya yang punya alergi juga tersiksa banget saking dinginnya. Tapi, dulu semua baik-baik aja menjalani hal semacam itu. Kalau sekarang ingat, sungguh tidak sanggup disuruh kembali…he.

Terus apanya yang nggak kuper kalau tidurnya aja kayak gitu? Hm, alhamdulillahnya saya termasuk yang suka mengikuti kegiatan apa saja di pesantren. Saat di pesantren, saya mengenal dunia menulis. Bertemu penulis novel dan belajar banyak dari mereka. Saat di pesantren pula, saya belajar langsung yang namanya jurnalistik dari wartawan senior salah satu stasiun televisi swasta. Di sana juga saya belajar menjahit meski sampai sekarang jahitannya pun suka ngasal..he. Dan di pesantren pula saya mengikuti kegiatan kaligrafi, ikut membantu mendekorasi panggung dan begadang serta seru-seruan bareng bersama guru dan teman-teman. Terakhir, saya juga bisa belajar langsung bahasa asing dari ahlinya yang sudah bertahun-tahun tinggal di Amerika. Setidaknya, walaupun saya belum ke sana, saya bisa belajar dari beliau yang berpengalaman.

Pengasuh pesantren saya memang sangat terbuka untuk semua hal asalkan bermanfaat bagi santri. Jadi, meskipun keluar saja nggak boleh, tapi kita happy banget karena semuanya sudah ada di pesantren. Belajar hal-hal baru seperti itu membuat saya merasa sangat bahagia, hari-hari disibukkan dengan banyak kegiatan yang tiada habisnya. Rindu orang tua dan pengen banget pulang ke rumah akhirnya terlupakan ketika kita terlalu asyik dengan kegiatan di pesantren. Hal-hal seperti itu ternyata sangat bermanfaat bagi kehidupan saya saat ini.

Dulu, kami juga bisa belajar bahasa arab langsung dari syeh yang didatangkan dari Mesir. Kita belajar sambil happy-happy bareng dan suka sekali bercanda terutama tentang jodoh. Jadi, saat berdoa, syeh selalu mendoakan semoga kami bisa dapat jodoh yang shaleh, tampan, tinggi, kaya…dan kebayang kita bersepuluh yang saat itu sedang menyelesaikan D1 syariah mengucap amiin sekencang-kencangnya sampai orang lewat aja nengok…he. Astaga, kocak banget zaman dulu…he.

Sayangnya karena jadwal yang sangat padat, dari pagi ngaji, sekolah diniyah, sekolah formal dan lanjut ngaji dan sekolah lagi sampai pukul setengah sepuluan membuat santriwati tidak bisa menyempatkan waktu untuk memasak. Jadi, makan sudah disiapkan. Tapi, sesekali ada juga acara memasak dan mengundang koki ahli. Tapi, itu jarang sekali terjadi. Yang terbayang, kami itu cuma bisa masak mie intsan pakai teko listrik aja. Itu pun antrinya seperti orang antri tiket lebaran. O ya, dan satu lagi, kami juga ahli membakar roti dengan setrikaan…he.

Saat Iduladha tiba, kita beramai-ramai membakar sate. Meskipun lebaran, kami tidak diperbolehkan pulang ke rumah sebab di pesantren kita diajak bakar sate bersama. Kambing digantung di pohon, dan beramai-ramai santri menyayat daging sesuka hati. Kayaknya sampai mabok makan kambing. Tapi, sekali lagi itu seru!

Ada sih beberapa aib yang suka bikin ngakak kalau ingat. Misalnya, kita itu tidak pernah nonton televisi atau radio. Jadi, ketika ada dua benda itu tergeletak tanpa pemilik, sudah bakal jadi rebutan. Pemiliknya siapa? Ya ustadzah…he. Pernah suatu kali teman membopong televisi ke kamar, pernah juga mamasukkan radio besar ke dalam ransel. Astagfirullah, itu lucu banget apalagi kalau sampai ketahuan…kwkwk.

Ternyata masuk pesantren itu memang sedikit ngenes dan banyakan bahagianya. Meskipun kita cukup terbatas dalam melakukan banyak hal, bukan berarti kita tidak tahu tentang apa pun seperti yang lainnya. Karena ketika kita mau membuka diri dan mengizinkan diri kita belajar lebih banyak, maka yang didapatkan pun akan sangat melimpah. Belajar itu kan tidak hanya di sekolah, belajar bisa dari mana saja, bagaimana cara berteman, saling membantu dan support serta belajar bersyukur dalam keterbatasan.

Setelah keluar dari pesantren, rasanya kangen tapi jujur nggak bakalan sanggup kembali…he. Selain banyak bahagianya, banyak pula sengsaranya. Iya, sengsara membawa berkah. Udah kayak sinetron hidayah aja, kan? He.

Baca juga cerpen Gagal Romantis

No comments:

Powered by Blogger.