Tetap Tenang Saat Anak Kejang Demam

August 06, 2017
sumber


Assalamualaikum…saya mau share sedikit aja soal kejang demam dan milis sehat. Sebenarnya sudah pernah membahas ini, tapi masih gatel pengen nulis lagi..hihi. Semoga nggak bosan, yaa.

Kejang demam! Jangan mikir yang serem-serem, yaaaa..hihi. Tapi, memang sebenarnya serem jika berhadapan dengan anak yang terkena kejang demam. Nggak mudah bilang, “Oke, nggak perlu panik!”. Kenyataannya saya selalu berderai air mata setiap kali si sulung kejang demam. Apalagi hampir semua kejadian saya alami ketika sendiri.

Sebenarnya, saya sendiri pernah mengalami kejang demam. Ya, sebelum lima tahun, saya bahkan mengalami kejang demam lama sekali. Menurut cerita dari orang tua, saudara saya pun pernah mengalami hal yang sama. Jadi poin utamanya adalah, saya punya riwayat kejang demam dan kemungkinan besar anak saya pun bisa berisiko mengalaminya juga.

Beruntung saat hamil anak pertama, saya sudah menyiapkan diri untuk masalah kesehatan anak-anak. Alasan utamanya karena saya harus mandiri mengurus anak-anak dengan kondisi tinggal berjauhan dengan orang tua dan suami yang kerja. Nggak boleh ngerepotin. Nggak muluk-muluk juga, sih. Ikutan milis sehat dan punya buku QnA Smart Parents For Healthy Childennya dokter Purnawati aja cukup. Buku ini sudah nggak ada di pasaran. Saya benar-benar beruntung bisa memiliki satu.

Di milis sehat atau di buku, saya mempelajari banyak hal bukan hanya tentang bagaimana menangani anak demam, tapi juga masalah kesehatan lain yang kerap terjadi pada anak-anak termasuk kejang demam. Ternyata, jadi orang tua itu harus pintar-pintar belajar tentang kesehatan dan dunia medis walaupun kita nggak pernah ngunyah bangku kedokteran. Jangan melulu menyerahkan semuanya pada dokter, kita juga harus aktif untuk tahu ini dan itu.

Maka di dalam milis sehat kita diajarkan untuk belajar sendiri. Nggak bakalan deh dikasih jawaban instan. Tapi, dokter-dokter di milis sehat akan memberikan link-link dari website shahih untuk dipelajari. Misalnya saja dari Mayo Clinic, AAP, KidsHealth dan beberapa website lainnya. Dari situ kita akan tahu bukan hanya sekadar cara menangani namun juga penyebab serta penjelasan detail lainnya.

Enak, ya? Alhamdulillah, saya terbantu sekali dan merasa sangat berterima kasih atas kebaikan para dokter di milis. Pengalaman selama mengurus dua anak dengan beberapa kejadian yang tak terlupa nyatanya nggak lepas dari bantuan dokter-dokter di milis.

Pertama, saya akhirnya memutuskan si sulung tidak rawat inap saat kejang demam pertama dengan beberapa pertimbangan yang saya pelajari dari milis sehat, padahal saat itu dokter sudah memberikan peringatan dan saya sebut beliau menertawakan kebodohan saya yang sok tahu saat itu. Tapi, keputusan saya ternyata benar.

Kedua, kejadian terapi kejang demam oleh dokter yang menangani anak saya. Kesan horor itu masih lekat jika orang tua pasien itu tampak ragu dan khawatir serta tanpa ilmu. Saya sebut begitu karena saat itu saya kurang informasi tentang terapi kejang demam. Akhirnya saya mengiyakan dan mulai melakukan terapi satu sampai dua kali saat itu dengan obat yang ternyata salah. Alhamdulillah, akhirya saya berhentikan setelah berdiskusi dengan dokter di milis sehat.

Ketiga, kejadian paling dan paling menakutkan sepanjang hidup. Hihi. Menulisnya aja sambil tegang. Ketika melahirkan anak kedua, bahagia tentulah hal pertama yang saya rasakan. Tapi, kebahagiaan itu tiba-tiba saja surut saat dokter memutuskan akan memberikan antibiotik kepada bayi saya dengan beberapa alasan. Kayaknya bukan itu yang saya bayangkan saat akan melahirkan. Dan sama sekali saya tak mempelajari tentang ketuban hijau, bayi tidak langsung menangis saat lahir atau hal-hal lain yang akhirnya menjadi pertimbangan bagi dokter seperti leukosit tinggi. Saya harus memutuskan. Saya tahu bahayanya menggunakan antibiotik tanpa alasan yang benar. Jika salah, saya sungguh tak akan bisa memaafkan diri sendiri. Belum lagi membayangkan ngilunya saat melihat jemari mungil anak saya ditanamkan jarum. Kayaknya bukan hayalan saat akan melahikan.

Suami sudah menandatangani surat persetujuan sementara saya masih berusaha bediskusi dengan dokter di milis sehat. Malam ketika antibiotik itu sudah tersedia, suster mengabarkannya pada saya. Suami tertidur di sofa, sedangkan saya meminta suster memberikan surat penolakan. Iya, saya melakukannya karena beberapa pertimbangan serta klinis bayi saya yang baik-baik saja. Meski saat membaca risikonya sangat menyeramkan seperti sepsis, tapi hati kecil saya mengatakan bahwa keputusan saya sudah benar. Alhamdulillah, setelahnya dokter Anto dari milis sehat menjelaskan banyak hal. Dan saya akhirnya lega telah memutuskan hal yang benar. Beberapa hari saat kontrol kembali ke rumah sakit, dokter menyatakan bayi saya sehat. Allah yang menyembuhkan…

Keputusan sesulit itu tentu nggak bisa saya ambil jika saya nggak pernah belajar tentang dunia kesehatan. Walaupun sedikit, tapi saya sarankan cobalah mempelajarinya. Sebab nggak banyak dokter yang rasional ketika mengobati pasien, dan cara terbaik untuk membantu dokter tetap rasional yaitu dengan menjadi pasien yang rasional ketika berobat. Nggak melulu meminta obat ketika ke dokter, hidupkan diskusi dengan dokter jangan hanya iya, iya aja…hihi. Jangan takut, karena kita punya hak untuk bertanya tapi bukan hak buat menyalahkan apalagi sok tahu di depan dokter, ya! Hahaha. Pastilah dokter sebel kalau kita terlalu banyak tanya dan mengatakan mereka salah.

Caranya sampaikan aja seolah kita bertanya atau nggak pernah tahu. Misalnya bukannya obat batuk terbaik itu cairan, Dok? Iya betul, tapi obat ini akan sedikit membantu, kok. Atau anak saya batuk sebabnya virus atau bakteri, ya dok? Virus. Tapi dokter meresepkan antibiotik, oke nggak perlu panjang lebar mendebat, karena sudah jelas virus, nggak perlu tebus antibiotiknya. Beres.

Oke, kembali pada kejang demam. Sekilas tentang pengalaman saya selama ini ternyata membuktikan bahwa rupanya nggak banyak dokter yang bisa rasional saat menangani pasiennya. Ada yang galak kala ditanya, ada yang dengan senang hati menjelaskan, dan ada pula yang ngasal dan kadang dia juga cerita kalau sempat salah ngasih obat kejang berkali-kali sampai pasiennya pucat pasi dan nggak sadar. Aduh, mendengarnya saja seram!

Setelah si sulung mengalami kejang pertamanya, saya memutuskan ke dokter setelah esoknya dia kembali kejang. Nggak lama, tapi sesuai yang saya pelajari, sebaiknya pastikan kondisi anak ke dokter. Saya yakin saat itu anak saya baik-baik saja karena memang kondisinya sudah sadar. Tapi, saya juga harus meminta obat kejang yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter. Untuk stok di rumah takut kejadian sama terulang.

Jadi, saat tahu anak punya riwayat kejang, maka yang saya lakukan ketika anak demam adalah,
1.      Menyediakan obat kejang seperti Diazepam rektal sesuai dengan berat badan anak. Mintalah obat ini kepada dokter anak, ya. Ingat, obat ini nggak bisa buat mencegah kejang demam. Obat ini hanya dipakai saat anak kejang saja.
2.      Menyediakan obat penurun panas. Diberikan saat suhu tubuh diatas 38,5’c. Obat penurun panas yang paling aman adalah paracetamol. Bisa berbagai macam mereknya, yang penting kandungannya paracetamol. Nah, obat ini nggak boleh dikombinasikan dengan penurun panas jenis lainnya. Yang harus dimengerti juga adalah, obat penurun demam fungsinya bukan menghilangkan demam, ya. Tapi hanya menurunkan beberapa derajat saja supaya anak merasa nyaman. Jika masih demam maka perlu dicari sebabnya dan obati penyebabnya. Ibaratnya demam itu seperti alarm. Mengingatkan bahwa sedang terjadi infeksi di dalam tubuh. Jadi jangan hanya fokus mematikan alarmnya.
3.      Minum banyak. Saat anak demam penting ditawarkan minum sedikit demi sedikit tapi sering. Supaya tidak terjadi dehidrasi yang sangat membahayakan. Anak-anak saya sangat terbiasa minum banyak ketika sedang demam. Si sulung bahkan selalu menyanding botol minum saat dia sakit. Begitu juga dengan si bungsu, dia mungkin nggak rewel walau demam tinggi, tapi dia akan lebih sering menyusu untuk membuat dirinya nyaman.
4.      Berendam air hangat. Kebanyakan orang tua melarang anaknya yang sakit untuk mandi. Padahal, nggak masalah kok anak mandi dan berendam di dalam bak berisi air hangat. Itu akan menurunkan suhu tubuhnya sebentar supaya dia merasa lebih nyaman.
5.      Kompres air hangat. Ingat, ya. Kompres bukan dengan air dingin, tapi dengan air hangat.
6.      Pakaian yang longgar dan tidak tebal.
7.      Udara yang tidak pengap. Seperti kipas angin menyala. Sebaiknya AC dimatikan dulu ketika anak sedang demam.
8.      Pahami betul kapan dan bagaimana kondisi gawat saat anak kejang demam supaya tahu kapan waktu tepat untuk pergi ke dokter.
9.      Pelajari tentang gejala dan cara menangani kejang demam di website resmi yang shahih.
10.  Ingat, kejang demam itu sebenarnya nggak berbahaya dan nggak berpengaruh pada otak. Si sulung kejang demam dari usia 2 tahun sampai dia berusia enam tahun. Semoga saja KD terakhir kemarin tidak akan terulang. Kejang demam yang kakak alami hanya kejang demam sederhana yang terjadi pada seluruh anggota tubuhnya dan terjadi hanya beberapa menit saja. Tapi, pada kondisi tertentu kita perlu waspada. Maka saya selalu sarankan silakan pelajari baik-baik tanda gawat daruratnya!
11.  Tetap tenang dan jangan panik. Walau saya sambil nangis, tapi saya selalu tahu apa yang harus saya lakukan. Misalnya dengan memiringkan tubuhnya, tidak memasukkan benda apa pun ke dalam mulutnya, segera mengambil obat kejang. Detik-detik menegangkan itu memang nyata banget di depan mata, tapi, Alhamdulillah qadarallah karena saya sudah mempelajari sedikit tentang KD, jadi saya setidaknya tahu pertolongan pertama apa yang harus dilakukan.

Hampir semua pasien kejang demam walaupun sederhana biasanya dokter menyarankan untuk rawat inap. Rawat inap itu boleh saja asal ada alasan yang membenarkannya. Jadi nggak sembarangan pasien tiba-tiba harus rawat inap, ya! Kita tahu sendiri, jika di rumah sakit itu sarangnya penyakit. Bahkan yang super kuat ada di sana. Jadi bukan hal baik jika memang nggak perlu ya jangan rawat inap. Selain itu, obat-obatan nggak perlu serta alat medis menakutkan seperti infus ataupun periksa darah bikin anak kita jadi trauma. Emaknya aja trauma, bagaimana dengan anak kita?


Belajar tentang kesehatan itu nggak harus jadi mahasiswa kedokteran, jadi emak-emak juga wajib belajar!

4 comments:

  1. Intinya siapin mental agar suatu saat terjadi kejang jangan panik dan sudah prepare dengan obat-ibat ya mbak.

    ReplyDelete
  2. Komplit nih tipsnya..setuju mbak, emak-emak harus belajar tentang kesehatan meski haris difilter juga infonya..jangan sampai yang abal-abal..Nice share:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak Dian, yang abal-abal itu sangat berbahaya...:)

      Delete

Powered by Blogger.