Gagal Romantis

sumber


Lelaki dengan kemeja berwarna biru cerah itu tampak tergesa memasuki rumah. Langkahnya semakin dipercepat. Kamera DSLR yang menggayuti leher terlihat sedikit bergoyang mengikuti gerakan tubuh jangkungnya.

“Ada apa, Mas?”

Suara Arina terdengar dari dapur. Celemek berwarna cokelat yang dipakainya terlihat belepotan oleh tepung. Tanpa merasa perlu meninggalkan adonan roti di tangan, Arina berlari-lari kecil menuju ruang tengah. Memastikan bahwa suaminya tak butuh bantuan.

Lelaki itu, lelaki paling tidak romantis yang pernah dikenal oleh Arina. Jangankan berkata cinta, menatap kedua bola mata Arina yang bening saja dia tak mau. Arina sempat mengira, jika lelaki itu tak pernah betul-betul jatuh hati padanya. Pernikahan yang terjadi akibat sebuah perjodohan itu mungkin saja telah memaksanya mengucap kabul tanpa perlu merasa jatuh cinta terlebih dulu.

Perasaan-perasaan gamang semasa pengantin baru selalu mengintai Arina. Ingin rasanya menanyakan hal itu kepada Bagas. Tapi, lelaki yang telah sebulan menikahinya itu tak pernah memberi kesempatan padanya untuk bicara.

Bagas selalu saja terlihat sangat repot. Mereka hampir tak pernah punya waktu berdua. Kesibukan Bagas sebagai fotografer membuat waktu mereka terkikis tanpa rasa. Pelan-pelan, Arina memaksa untuk tidak jatuh cinta kepada suaminya.

Arina sama seperti kebanyakan wanita normal lainnya, ingin sekali punya suami romantis. Lelaki yang menghadiahi sekuntum mawar serta berkata mesra, lelaki yang mau membukakan pintu mobil dan mempersilakannya masuk serupa pangeran kepada permaisurinya, lelaki yang mengatakan rindu saat mereka berjauhan, dan lelaki itu tentu bukanlah Bagas.

“Aku melupakan sesuatu.” Jawab Bagas sambil mencari sesuatu di atas meja kerjanya. Tangannya tampak cekatan memeriksa lembaran-lembaran foto yang berserak di atas meja.

Arina menatap Bagas. Lelaki itu, kapankah dia bisa bersikap romantis? Setidaknya, lihatlah wajah Arina sebentar saja. Diam-diam Arina menahan tangis yang menyesaki rongga dada. Ada sesuatu yang terasa ngilu menikam. Perasaan suka itu, pelan-pelan Arina campakkan meski pada akhirnya kembali lagi tanpa diminta.

Bagas masih sibuk mencari sesuatu. Di antara tumpukan buku yang terlihat rapi berdiri, di antara gemuruh di dada Arina, dan di antara hujan yang tiba-tiba lebat di luar sana. Bagas melihat ke luar jendela, sepertinya pagi tadi tidak ada mendung menggayuti langit, lalu kenapa tiba-tiba saja hujan deras mengguyur?

Aroma tanah terasa mengetuk manis rongga penciuman. Di belakangnya, Arina masih menata hati dan mengusap cepat kedua sudut matanya yang basah dengan lengan baju.

“Arina kembali ke dapur ya, Mas.”

Lantas Arina bergegas tanpa menunggu persetujuan dari Bagas sebelum tangisnya lebih deras melebihi gemuruh hujan di luar sana.

Tapi, lelaki yang tidak pernah romantis itu tiba-tiba saja menarik pergelangan tangannya, memaksa Arina tetap di tempat, tak boleh beranjak meski hanya selangkah saja.

Jantung Arina berdegup kencang ketika sepasang mata berwarna cokelat itu menatapnya hangat. Rasanya belum pernah dia melihat wajah tampan suaminya selapang ini. Lelaki itu selalu berpaling setiap kali Arina menatapnya. Dan sekarang, Bagas terlihat gugup dan meremat tangannya sendiri.

Ada apa? Apakah dia akan mengatakan bahwa pernikahan mereka terjadi atas sebuah paksaan? Atau mungkin saja Bagas ingin mengatakan bahwa dia tak pernah jatuh cinta kepada Arina?

Arina menata hatinya yang kalut. Ingin rasanya ditelan bumi, menghilang dan meninggalkan kenyataan yang semakin menyesaki pikirannya.

Tapi, lelaki yang tidak pernah romantis itu tiba-tiba saja mengecup kening Arina, dan berkata, “Mas jatuh cinta.”

2 comments:

  1. Waaah... Bener2 romantis... ������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah membaca kisah Arina, mbak Shinta...:)

      Delete