Si Hitam Manis Bernama Tahi Lalat

July 26, 2017
sumber


Sejak awal, saya memutuskan untuk menjaga rasa percaya diri si kakak dengan tidak ikut-ikut menertawakan tahi lalat di pipinya. Mungkin karena pengalaman masa kecil saya yang kurang menyenangkan tentang tahi lalat.

Saya juga punya tahi lalat di atas bibir. Sejak kecil, banyak sekali yang suka menggoda atau lebih tepatnya menertawakan. Meski hanya pura-pura menanyakan ada benda apa di atas bibir, tapi hal yang seharusnya lucu itu tak cukup membuat saya tertawa. Mungkin seperti dibully, rasanya itu menyakitkan. Terutama ketika anggota keluarga ikut-ikutan menertawakan tanpa merasa perlu menahan diri.

Dari rasa sakit hati itu, saya mati-matian ingin membuangnya. Akibatnya, kelas enam SD, saya beberapa kali melakukan percobaan bunuh 'tahi lalat'..hehe. Kalau sekarang, bisa saja langsung melakukan pembedahan dengan dokter kulit. Tapi dulu, saya harus melakukannya dengan penuh rasa sakit. Nggak usah nanya tentang caranya, ya. Nanti malah ikut-ikutan...hehe.

Sekali dua kali saya gagal. Nggak menyerah. Kemudian setelah berkali-kali, barulah saya bisa benar-benar melenyapkan tahi lalat itu. Saya rasa, bukan karena keberadaannya yang mengganggu, tapi lebih dari itu karena hati saya terluka...hiks.

Dan si kakak, ternyata juga punya tahi lalat sejak usianya masih 3 bulanan. Awalnya ada bekas seperti gigitan serangga. Lama-lama merah dan seperti bercak. Hingga sekarang sangat jelas terlihat kalau itu adalah tahi lalat.

Namun, pengalaman buruk semasa kecil membuat saya berpikir keras. Sebisa mungkin saya melibatkan 'tahi lalat' itu dalam setiap kegiatan kakak. Terutama saat dia menggambar wajahnya sendiri. Ada wajah dengan tahi lalat di pipi sebelah kanan, itulah dia. Jika dia lupa, maka saya pura-pura tidak mengenali gambarnya.

Tapi, kejadian saat TK lumayan menyentak. Dia malu memberikan tahi lalat pada gambar wajahnya. Alasannya karena banyak yang menertawakan. Ah, saya tahu rasanya seperti itu. Dan itu benar-benar nggak enak. Pelan-pelan saya mencoba membangunkan lagi rasa percaya dirinya.

Dan ketika memasuki sekolah dasar, banyak juga kakak kelas dan teman baru yang menertawakan. Kalau menurut saya, mereka hanya baru saja melihat sesuatu yang jarang ditemui. Makannya merasa seru dan lucu aja buat tertawa ketika melihat si kakak. Setelah terbiasa bertemu, semua akan berangsur hilang. Insya Allah kakak bisa melalui semuanya, ya. Jangan malu dengan tahi lalat itu, asal kakak shaleh dan baik, insya Allah segala mimpi kakak akan terwujud, bukan hanya menjadi penghafal Quran tapi juga arsitek. Tahi lalat bukan halangan buat kamu sukses, Nak!

Dan komentar guru-gurunya pun cukup menenangkan. Banyak dari teman-teman yang sering berkomentar tentang tahi lalat di pipi kakak, tapi karena kakaknya cuek, maka teman-temannya pun akhirnya berhenti sendiri bahkan bilang, "Ssst, udah jangan ngomongin itu mulu." Hihi. Great, kak!


Dan saya, selalu suka membuat buku cerita sendiri. Termasuk tentang si tahi lalat ini. Biasanya saya akan menambahkan ilustrasi sendiri. Mencetaknya dalam bentuk buku. Yuk, Bunda...ajarkan anak kita tetap bersyukur dan bahagia dengan segala yang dimiliki...


Si Hitam Manis Bernama Tahi Lalat



Daftar Isi
Tahukah Kamu?
Kenapa Aku Punya Tahi Lalat?
Ketika Teman-Teman Menertawakanku
Bersyukur


Tahukah Kamu?

Bunda bilang, tahi lalat di pipiku telah ada sejak aku masih kecil.

“Bukan sejak lahir, Bun?” Tanyaku.

Bunda menggeleng, “Tidak. Tahi lalat kakak baru muncul saat usia tiga bulan.”

Aku semakin bingung. Sebenarnya dari mana datangnya tahi lalat?

“Mungkin lalat membuang kotorannya tanpa izin ya, Bun?”

Bunda tertawa. Aku ikut tersenyum.

“Tahi lalat itu bukan kotoran lalat, Sayang.”

“Lalu apa, Bunda? Kalau bukan kotoran lalat, kenapa dinamakan begitu?”

Sejenak Bunda tampak berpikir, “Mungkin karena warnanya hitam dan kecil. Mirip seperti lalat yang sedang menempel di badan kita.”

Bunda menggeser duduknya, mengusap kepalaku.

“Tahi lalat itu sebenarnya daging yang berwarna gelap. Ada yang besar, ada juga yang kecil.”

“Kenapa hanya berwarna gelap? Kenapa bukan hijau atau merah?”

“Karena tahi lalat mengandung zat warna kulit yang berlebihan. Kalau semakin banyak pasti akan semakin hitam.”

“Ooo…”

“Jadi. Sekarang kakak sudah paham apa itu tahi lalat?”

Aku mengangguk.

“Dan orang yang punya tahi lalat itu terlihat lebih manis.” Kata Bunda sambil mencubit daguku, “Seperti kakak.”

Aku jadi heran, “Jadi tahi lalat itu rasanya manis?”

Bunda tertawa sambil mencubit pipiku gemas.


Tahukah Kamu?
Tahi lalat di dalam medis disebut Nevus. Tahi lalat bukanlah kotoran lalat. Melainkan tumor jinak yang secara alami bisa muncul pada tubuh manusia. Hampir semua orang punya tahi lalat. Di mana letak tahi lalatmu?


Kenapa Aku Punya Tahi Lalat?

“Bunda, kenapa kakak punya tahi lalat?”

“Tahi lalat muncul karena banyak hal. Bisa karena kulit kakak terlalu sering kena panas matahari, bisa karena kosmetik bayi atau juga karena Ayah dan Bunda juga punya tahi lalat.”

“Benarkah? Jadi kakak punya tahi lalat biar bisa kompakan sama Ayah dan Bunda, ya?”

Bunda mengangguk, “Bisa jadi.”


Ketika Teman-Teman Menertawakanku

Punya tahi lalat bukanlah hal memalukan. Sama seperti temanmu yang lain. Coba tanyakan, bukankah teman-temanmu juga memiliki tahi lalat di tubuhnya? Mungkin saja letaknya tersembunyi, misalnya di kepala, jempol tangan ataupun di bawah telapak kaki. Wah, ternyata semua orang juga punya tahi lalat, ya!

Tapi Kakak pulang dengan wajah murung siang itu. Gambarnya ditertawakan bukan hanya oleh teman sekelasnya namun juga oleh ibu guru.

“Kakak nggak mau gambar wajah sendiri.”

“Kenapa?”

“Ibu guru menertawakan gambar Kakak.”

“Mungkin ibu guru hanya terlalu senang melihat gambar Kakak yang bagus.”

Kakak menggeleng. Lalu menangis.

“Kenapa sih Kakak harus punya tahi lalat, Bun?”

“Bukan masalah punya tahi lalat, Nak. Lihat Ayah, punya tahi lalat juga. Tapi Ayah tetap jadi hebat walaupun punya tahi lalat, kan?”

Kakak mengangguk. Pelan-pelan mengusap wajahnya yang basah.

“Teman-teman yang menertawakan Kakak juga bukan berarti mengejek. Mungkin saja mereka tak tahu apa itu tahi lalat sehingga merasa itu lucu.”

“Ada juga yang menyentuh tahi lalat Kakak, Bun.”

“Benarkah? Mungkin mereka hanya ingin tahu bagaimana rasanya punya tahi lalat.” Bunda tersenyum sambil memeluk Kakak.


Bersyukur

Kakak tersenyum sambil berhambur dalam pelukan Bunda.

“Alhamdulillah, Kakak juara satu!”

Bunda menarik piala dari tangan Kakak, dengan wajah antusias membaca tulisan yang menempel pada salah satu sisi piala.

“Masya Allah, Hebat. Anak Bunda juara.”

“Kakak senang, Bun.”

Bunda mengangguk, “Punya tahi lalat tetap bisa juara, kan? Bersyukur ya, Nak. Karena Allah telah memberimu banyak kelebihan. Satu tahi lalat saja tak akan merusak kebahagiaanmu.”

Kakak mengangguk. Mulai saat ini, syukuri apa yang kamu miliki, Nak. Gambarlah wajahmu, lengkap dengan tahi lalat di pipi sebelah kanan. Itu pemberian Allah, bukan hal memalukan.

2 comments:

  1. Bagus tulisannya mbak. Berhikmah dan bersolusi. Hampir sama ma bayi saya, tapi dia punya hemangioma alias tanda lahir berwarna merah. Insya Allah hilang sendiri berangsur-angsur sih. Sekitar usia 5-6 tahun. Nah, sy blm tau dlm rentang waktu itu apakah dia akan ditertawakan juga. Krn saat ini orang sering nanya ke saya: bibir anaknya kenapa? Abiz jatuh ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mba Tatiek. Biasanya tanda lahir memang akan hilang, ya. Kita tidak bisa melarang atau mencegah orang lain menertawakan atau mengomentari anak kita. Tapi, saya berusaha mengkondisikan dirinya 'baik-baik' saja meski punya tahi lalat dan orang berkomentar apa. Sebab sampai kapan pun orang-orang akan seperti itu..

      Delete

Powered by Blogger.