Kembali



 Alhamdulillah, 13 Juli sudah sampai di Jakarta dengan Citilink pukul 02.30 siang. Sampai di Halim, suasana padat dan penuh sesak. Parkiran penuh saat kami pulang. Akhirnya, kembali lagi ke Jakarta meskipun yang lain sebenarnya jauh hari sudah lebih dulu kembali. Mungkin, mudik kali ini terlalu lama, ya!

Paksu juga masih santai dan anteng-anteng aja pulang dua minggu lebih. Saya senang saja bisa berkumpul dan melepas kerinduan dengan ibu. Tapi, ternyata banyak sekali tugas yang keteteran karena di sana kami nggak sepenuhnya bisa berada di rumah, lebih banyak mengunjungi keluarga karena masih dalam suasana Idulfitri. Rutinitas yang berbeda juga sedikit menyulitkan, sepertinya selalu saja ada alasan untuk nggak membuka laptop. Hihi. Dan sebenarnya alasan inilah yang akan membuat saya jadi males, ya. Jauh…jauhkan, deh!

Alhamdulillah, senin tanggl 10 Juli, saya bisa mengikuti materi pertama SP gelombang 18 melalui webinar. Malam itu, antusias yang nggak berkurang, tapi kenyataannya adik demam tinggi sampai menggigil. Nyalakan saja laptop, sambil mendengarkan dan sesekali paksu ikut membantu menjawab ketika ditanya. Saya kebetulan posisi jauh dari laptop karena sambil menyusui si bungsu. Alhamdulillah, meski demam tinggi dan semalaman saya susah tidur, adik tampak anteng tidur dan lebih sering menyusu. Tapi, dada emaknya dag dig dug ser karena pengalaman si kakak yang sering kejang demam. Semoga adik nggak seperti saya dan kakaknya yang punya riwayat kejang demam. Amiin.

Materi pertama berjalan lancar, dan materi kedua disampaikan hari rabu malam ketika saya sudah nggak di rumah. Nginep di Malang, karena esoknya akan berangkat ke Jakarta. Alhamdulillah, tetap bisa mengikuti meski agak terlambat karena baru sampai dan menidurkan adik yang suhu tubuhnya masih 37 an. Tugas pertama saya kerjakan hari ini karena semalam sudah kelelahan bahkan nggak sempat makan malam setelah membersihkan rumah. Sebenarnya rumah nggak berdebu banget, sih. Hihi. Tapi, saya sungguh nggak tahan melihatnya, sedikit berdebu dan jelas berantakan setelah kami membongkar koper. Semalam, sambil menidurkan adik, justru saya ikutan tidur dan nggak bangun lagi padahal mau makan malam sama paksu. Makan malam yang telat karena baru mau makan sekitar pukul 10 malam. Sahur apa makan malam itu?

Hari ini, sambil membuka semua jendela rumah dan pintu lebar-lebar, sembari membaca novel Pesantren Impian milik Asma Nadia yang bikin darah mendesir, mencuci pakaian yang lumayan menumpuk dan bermain sama kakak dan adik yang kondisinya belum sepenuhnya pulih.

Kembali ke Jakarta memang menyenangkan dan jujur saja, lingkungan di sini jauh lebih saya sukai ketimbang di kampung halaman. Bukan. Bukan karena ini di kota dan di sana desa. Bahkan sekarang Malang kelihatan jauh lebih megah di mata. Tapi, suasana di sana sangat jauh berbeda. Alhamdulillah, Allah membawa saya ke sini, meski berada di ibu kota negara, tapi suasananya bahkan jauh lebih nyaman dan nggak urakan.  Senang, mungkin juga karena saya memang sudah menempati rumah sendiri, seperti kebanyakan orang, pastilah rumah adalah tempat paling nyaman daripada tempat indah dan lebih megah lainnya.

Mungkin yang jadi pikiran, meninggalkan orang tua sendirian di rumah adalah sebuah beban. Mereka pun seperti saya, tentulah lebih suka tinggal di rumah sendiri ketimbang harus ikut anak dan merasa merepotkan. Tak ada orang tua yang ingin merepotkan anaknya. Melihat anak-anak bahagia adalah hadiah luar biasa. Kita tahu karena sudah menjadi orang tua. Bahkan saya merasa kurang nyaman ketika menitipkan anak pada orang tua karena seharusnya mereka sudah istirahat dan kitalah yang bertugas menjaga bukan sebaliknya malah membebani. Kenyataannya, nggak sedikit yang merasa enjoy aja menitipkan anak pada neneknya bahkan membiarkan neneknya membiayai kebutuhan anaknya. Tanpa ART, menitipkan anak pada eyangnya adalah kesalahan. Meski mereka nggak menolak, tapi pastilah lelah dan capek.

Ustadz saya pernah berkata, lalai jika sampai meninggalkan majelis taklim hanya karena sibuk mengurusi cucu. Bukankah yang bertugas menjaga adalah orang tua bukan neneknya? Harusnya nenek sudah mencari ilmu, mengaji dan menyibukkan diri dengan ibadah. Dan anaknya justru lebih berdosa lagi karena telah menyebabkan orang tuanya kerepotan karena telah sibuk mengurus anaknya. Nggak banget, kan? Boleh jika memang tinggal serumah, nenek sesekali hanya mengawasi dan bermain bersama cucunya bukan seutuhnya menggantikan baby sitter. Siapkan ART dan baby sitter jika memang kita punya anak dan harus tinggal bersama orang tua, ini jika sang ibu bekerja. Dengan begitu, orang tua kita nggak akan kerepotan dan terbebani. Sudah seharusnya kitalah yang mengerti dan memahami betapa orang tua tak akan berhenti membantu anaknya meski telah berumah tangga. Tapi, apa iya kita nggak paham bagaimana seharusnya bersikap dalam kondisi seperti itu?

Alhamdulillah, meski jauh, hubungan baik akan tetap jadi hadiah. Semoga ibu dan bapak selalu sehat, ya…Amiin. Dan untuk paksu, terima kasih atas dukungannya. Nggak perlu diminta, sudah sibuk mengetik jawaban chat bersama ibu-ibu lain di webinar pertama kemarin. Hihi…lope..lope :D

0 comments:

Post a Comment