Suamiku

July 28, 2017
sumber


Suamiku itu, beberapa kali tampak sedang akrab menelepon seorang perempuan. Suaranya yang renyah seolah mengetuk gendang telinga berkali-kali. Tawanya yang khas membuatku mundur selangkah, mengamankan hati yang tiba-tiba dipenuhi gemuruh. Waspada, Aisya!

Aku memberanikan diri, menanyakan setelah teleponnya terputus. Kemudian jawaban yang terbata tak bisa menjelaskan selain keterkejutannya atas pertanyaan yang aku ajukan.

“Ada apa, Sayang?” tanyanya dengan tatapan digelayuti rasa heran.

“Siapa perempuan itu, Mas?”

Dan dia, hanya bisa menggerakkan kedua bibirnya berkali-kali, tanpa suara, tanpa kepastian. Gemuruh yang awalnya telah tenang, kini melompat-lompat hingga membuat dada sesak. Suamiku, benarkah cinta tak lagi sama di antara kita?

Aku menerka, tentang sikapmu yang akhir-akhir ini berubah. Kegugupanmu saat menerima telepon dari seseorang. Seorang perempuan yang punya suara menggoda melebihi panggilanku. Belum habis rasa penasaranku, sikapmu yang selalu menghindar ketika bicara lewat telepon, semakin menjauh sampai kamu harus naik ke lantai atas. Ah, diam-diam aku mengikuti, dan suaramu dengan dia semakin menyayat hati. Benarkah cinta di antara kita tak lagi sama?

“Cukup, Mas! Aisya tahu semuanya.” Suaraku mengentak-entak. Dengan tangis yang semakin deras, kutarik kemejamu hingga berantakan. Aku benci menahan semua ini. Hatiku berserak hingga sulit disatukan. Bagaimana bisa kamu lakukan ini, padaku yang hampir setiap saat memikirkanmu?

Suamiku, tampak gelisah. Matanya menyiratkan rasa bersalah. Mungkin setelah ini dia akan meminta maaf, memutuskan hubungan manis dengan kekasih barunya. Harusnya dia melakukannya, atau aku yang akan…

“Sayang,” suaranya khas. Suamiku telah berdiri di belakangku sambil melingkarkan lengannya. Lamunanku buyar seketika. Tentang keberanianku bertanya, sampai merenggut kemeja rapinya. Tangis yang seolah nyata, kini jelas hanya sebuah hayalan.

“Mas mau bicara,” katanya lagi sambil setengah berbisik di telinga.

Mungkin ini sudah saatnya aku tahu semuanya. Allah, jika memang Engkau izinkan kami bersama, maka bantulah hamba supaya tetap sabar mendengar semua pengakuannya. Tentang khilaf serta cinta yang tak pernah kusangka telah dibaginya dengan orang lain.

“Mas naik jabatan. Insya Allah kita bisa menabung lebih untuk memberangkatkan Mak ke Mekkah. Secepatnya!”

Aku tersenyum hambar. Bukan saja karena tatapannya yang menyiratkan ketulusan, namun juga kutemukan embun di kedua sudut matanya yang sekarang telah basah. Aku malu telah berprasangka buruk. Merasa berdosa telah menuduhnya membagi cinta. Walaupun benar cinta itu telah terbagi dua, tapi murni hanya untukku dan ibunya. Tapi, ada yang mengganjal.

"Siapa perempuan di telepon itu, Mas?" Tiba-tiba saja aku punya keberanian lebih untuk bertanya. Tentang keraguan serta gelisah yang masuk dalam pikiran sejak akhir-akhir ini. Aku butuh jawaban tegas, bukan sekadar keinginan memberangkatkan Mak naik haji.

"Perempuan? Maksudnya Sarah? Dia tim Mas di kantor. Sengaja Mas merahasiakan karena ingin ngasih Aisya kejutan. Nggak masalahkan?"

"Kejutan apa?"

"Aisya cemburu, ya?" Terdengar tawanya lepas.

"Proyek Mas berhasil. Dan itu berkat kerja sama tim." Mas menatap keraguan di mataku, "Dia sudah tua, Aisya. Besok Mas kenalkan." Ucapnya tanpa ragu.

Aku tersipu. Memaki diri yang terlalu ceroboh saat berprasangka.


Suamiku itu, menggamit daguku, mengecup keningku lama, “Terima kasih sudah mendoakan, Mas.”

No comments:

Powered by Blogger.