Menolak Jatuh Cinta

June 15, 2017


Butuh waktu seribu tahun untuk mengurai rasa yang terlanjur singgah. Namun, hanya butuh mengenal kebiasaanmu untuk mulai jatuh hati. Kalimat itu sering diucapkannya ketika tanpa sengaja masuk dalam obrolan ringan bersama lelaki yang dulu pernah menjadi matahari. Lelaki dengan kamera DSLR yang menggantung mesra di leher. Dia dengan kaos oblong berwarna putih selalu menarik hati seorang wanita jelita bernama Sienna.


“Sampai kapan?” Tanya Galih sambil mengamati setiap lekuk cantik di wajah Sienna. Baginya, wajah mungil dengan kedua pipi kemerahan itu selalu istimewa. Meski tak lagi mampu menjelma matahari, setidaknya Galih masih bisa menemani, walau hanya dengan sedikit cahaya yang tersisa.

“Sampai aku tak lagi mengenalmu.” Sienna menyahut sambil mematut jilbab merah jambu di kepala.
Galih tertawa. Memalingkan wajah. Membuang setiap rasa yang berubah indah. Bukankah kemarin dia berjanji tak akan lagi jatuh cinta pada wanita penyuka red velvet itu?

“Lalu kenapa kita tidak menikah?” Tiba-tiba saja Galih melontarkan kalimat yang membuat perempuan dua puluh satu tahun itu terhenyak.

“Kita?” Sienna menegaskan. Jantungnya melompat, berdentum keras dan membuat suaranya berubah serak.

Galih tersenyum. Menyadari betapa dahsyatnya kalimat itu. Menatap sepasang bola mata indah yang membulat, mengarahkan pandangan serius penuh tanda tanya. Dia menangkap kegugupan dari Sienna. 

Sekali lagi Galih mengangguk. Sepasang bola mata yang bertemu, saling bertatap dan menimbulkan rindu. Keduanya sudah berjanji melupakan. Namun, seperti ucapan Sienna pada lelaki bertubuh tinggi itu, butuh waktu seribu tahun untuk membuang semua ingatan penuh cinta.

“Galih, kita sudah berjanji tak akan membicarakan ini,” Sienna berpaling. Menyembunyikan resah yang tiba-tiba menyelinap. Merasa bersalah karena sudah mengulangi kesalahan yang sama. Jatuh cinta pada lelaki yang bukan miliknya. 

Galih memang tampil menawan, lelaki baik dengan wajah tampan. Kerap menghibur dan berkorban meski kenyataannya Sienna tak pernah menjadi kekasihnya. Sienna suka berlama-lama bicara dengannya. Bercerita tentang hobi dan hal paling disukai. Galih dengan senang hati menjadi pendengar setia. Sesekali, lelaki dua puluh lima tahun itu memberikan solusi atau ide brilian. Sienna sering dibuatnya kagum. Sosok sempurna untuk jadi pasangan.

Tapi, sepertinya waktu belum mengizinkan. Galih yang sejak lama memendam rasa, memilih segera bertandang ke rumah wanitanya. Meminta izin untuk mencinta, memulai hidup baru jika diizinkan, atau segera meresmikan hubungan dengan Sienna. Keinginan lelaki penyuka fotografi itu teguh. Tak main-main jika sudah mencintai seseorang. Sayangnya, ayah Sienna masih menganggap putri tunggalnya terlalu dini jika harus segera membina rumah tangga. 

Galih memilih diam dan pura-pura lupa akan keterpurukannya. Sienna betul menyukai lelaki berkacamata itu. Tapi mustahil menjalin hubungan di luar ikatan pernikahan. Tak perlu banyak berdalih, hatinya tetap menolak pacaran.

Galih mengerti, keduanya berjanji melupakan. Hanya berteman dan sesekali bertemu bersama yang lain. Tapi, rupanya tak mudah menepis cinta yang sudah tertambat di antara kedua hati. Butuh waktu lama menghilangkan rasa canggung. Butuh banyak kosa kata untuk bicara tanpa melibatkan perasaan. Itu sulit!

“Minggu depan aku akan ke Jakarta.”

Sienna menaikkan kedua alis, “Berapa lama?”

Gali tertawa. Dia tahu betul ada orang yang sedang mengharapkannya tetap di tempat yang sama, tak beranjak apalagi menjauh.

“Hanya tiga sampai enam bulan.”

“Hanya?” Sienna tertawa hambar. Tentu saja, lelaki itu boleh pergi kapan pun dia mau, bahkan selamanya. Toh, keduanya tak pernah terikat janji. Mungkin saja setelah ini, lelaki dengan kacamata bulatnya itu akan mengirimkan undangan pernikahan. Bukankah semua itu tak pernah mustahil terjadi? Dan dengan terpaksa, Sienna akan patah hati.

“Kenapa? Bukankah itu baik untuk kita berdua?”

Tentu saja, Sienna mengangguk. Tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Menahan kedua sudut mata yang hampir basah.

“Apa ucapanku salah?” Galih bertanya, memastikan tak menyakiti perempuan di hadapannya.

Sienna memaksa tersenyum sambil menggeleng. Jujur saja, dia ingin mengatakan padanya, bahwa dirinya tak pernah siap kehilangan. Meski hanya sebagai teman, namun perasaan itu terlanjur tertanam dan subur. Terpaut usia yang cukup jauh, alasan dirinya yang masih menyelesaikan kuliah membuat semua rasa itu menguap, namun kenyataannya tak demikian. Selalu saja, setiap kali dia mengusir pergi, cinta itu justru  lebih kuat mendekap.

“Atau kamu mau ikut denganku?”

“Apa maksudmu?”

“Kita kawin lari saja,” Galih tertawa.

Sienna memaksa tergelak. Dalam hati dia berdoa, agar dijodohkan dengan Galih. Jika pun mereka tak berjodoh, semoga saja Tuhan menjodohkan keduanya. Doa yang terlalu memaksa. Tapi, apa salahnya? Bukankah Tuhan punya kehendak dan segalanya? Apalagi arti penolakan ayah kemarin jika Tuhan menghendaki mereka bersama, halangan sebesar apa pun tak akan berarti apa-apa.

“Kamu mau menunggu?”

Sienna terhenyak. Apakah itu sebuah janji? Apakah tak terlalu mustahil diwujudkan?

“Aku akan datang kembali,” Galih meyakinkan.

“Aku tak mau menunggu,” sahut Sienna. Pelan tapi cukup menyentuh gendang telinga lelaki di hadapannya.

Galih menyesap teh panas yang sudah berubah dingin. Seperti menelan duri. Bayangan bisa bersanding dengan Sienna menjelma mimpi. Wanita itu ragu dengan janjinya.

Sienna mengambil sweter, “Aku harap masih bisa berjodoh denganmu.”

Galih tersenyum, begitu juga dengan hatinya. Mengharap mimpi serupa. Keduanya berlalu.

Galih melajukan mobilnya kencang. Sienna menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Belum ingin beranjak. Masih mengatur denyut jantung yang berubah sepi. Menatap langit yang mulai sembab. Berwarna gelap serupa kantung mata yang kerap menangis. Sienna menghapus sedikit basah di sudut mata.

Bukan hal baik jatuh cinta di waktu tak tepat. Sama saja menjatuhkan diri dari tebing curam. Harapan yang melambung akhirnya terjerembab. Butuh waktu seribu tahun melupakan. Tapi tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta.

Sienna tak mau terbuai mimpi. Hidup harus terus berjalan. Jika berjodoh, Galih akan meresmikan. Jika tidak, untuk apa menunggu lelaki yang belum tentu miliknya?

No comments:

Powered by Blogger.