Cinta yang Lain

June 23, 2017




Adilla bergeming. Wisnu banyak bicara namun sedikit pun tak membuat wanita itu menyahut. Seolah kehabisan akal, Wisnu pun ikut diam dan menatap keluar jendela. Mungkin hanya butuh waktu.



Di sebuah bangku dengan aroma obat-obatan yang kental menguar, seorang lelaki berkemeja biru duduk sambil tak henti mulutnya berkomat kamit. Sejuta doa panjang ia lantunkan sejak wanitanya memasuki ruang operasi. Tak elak, dadanya dipenuhi getar ketakutan. Menatap lalu lalang pasien dengan selang infus membelalai membuatnya semakin merinding. Sejatinya, dia tak pernah bisa berdamai dengan keadaan seburuk ini.

Kemarin, nyala di mata istrinya masih berpendar. Kelopak dihiasi manik berwarna pekat menimbulkan rindu setiap kali bertatap. Lelaki itu selalu bergegas pulang selepas pekerjaannya selesai. Mengendarai motor matic berwarna hitam dengan beberapa garis merah di kedua sisi. Dengan kaca helm menutupi wajah, pikirannya melanglang hingga ke rumah.

Pernikahan mereka sebenarnya tak pernah jauh dari tajuk rindang bahagia. Dua bulan setelah resepsi sederhana di gelar di kediaman istrinya, berita bahagia itu seolah kado terindah yang diterima oleh berpasang-pasang mata dalam keluarga besar.

Cucu pertama dari anak sulung yang baru saja menikahi gadis berparas ayu. Siapa pun akan segera menyunggingkan senyum membayangkan menimang bayi lucu dengan kedua pipi menggembung serupa bakpao. Lengkingan tangis akan membuat rumah mereka semakin ramai. Tapi, rupanya Tuhan lebih punya kuasa ketimbang makhluk-Nya.

Kebahagiaan yang tersulur tiba-tiba kerontang. Perempuan yang sedang mengandung itu terpeleset di lantai kamar mandi. Tubuhnya terpental dengan perut mencium lantai. Bau amis darah merayapi keramik berwarna biru cerah. Pandangannya kabur. Kepalanya berdenyut sebelum akhirnya menjadi gelap.
***
Wisnu tercenung sebelum akhirnya pasrah. Menatap embun yang mengambang di kelopak mata Adilla, istrinya.

“Siang ini juga kita lakukan tindakan.” Ucap dokter Mita.

Sepasang suami istri itu saling berpandangan. Sepertinya baru kemarin mereka berbunga ketika mengetahui kehamilan yang memasuki usia sebulan. Wisnu dengan antusias mengajak Adilla ke dokter. Istri dan cabang bayi dalam keadaan sehat. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tapi, hari ini mereka harus menata hati ketika dokter menyatakan Adilla mengalami keguguran. Entah kenapa, kesedihan itu tak pernah mengucap permisi ketika bertandang. Bergegas melipat semua pijar. Dalam sekejap merubahnya menjadi duka.

Adilla menangis sesenggukan. Sesekali dia mengusap air mata dengan ujung jilbab. Perutnya melilit. Nyeri tak tertahan. Tapi, bukan karena rasa sakit itu dia menangis. Perasaan bersalah dan rasa kehilangan begitu pekat. Dia membayangkan kejadian menyesakkan yang terjadi tadi pagi. Ketika dengan tergesa keluar kamar mandi. Keinginan menyiapkan sarapan untuk Wisnu yang sebenarnya masih terlelap.

Jika saja dia berhati-hati, mungkin kejadian buruk ini tak pernah mampir dalam hidupnya. Sesal menyesaki pikiran. Rasa sakit diabaikan. Hari ini, dia harus rela kehilangan. Betapa banyak orang yang menginginkan kehamilan, menunggu hingga bertahun-tahun. Dia, yang dianugerahi lebih cepat, tak sedikit pun mensyukuri nikmat. Merasa berdosa serta lalai, Adilla tersengguk-sengguk.

Wisnu yang baru datang usai mengurus administrasi, menemukan istrinya dengan lelehan air mata. Dengan hati-hati dia mendekat, merengkuhnya penuh iba. Bukan hanya wanita itu saja yang merasa sepi, dirinya pun seolah kehilangan pendar penuh cahaya yang selama ini diimpikan.

“Jangan menangis, ini semua sudah takdir.”

Wanita dengan wajah sembab itu menggeleng cepat. Terbata menjawab.

“Jika bukan karena Adilla, bayi kita mungkin masih selamat.”

Wisnu menolak. Melihat Adilla siuman saja sudah membuatnya lega. Tak lagi diharapkannya mimpi yang tiba-tiba pergi. Biarlah, itu sudah jadi kuasa Tuhan. Mereka harus pasrah dan menerima.

“Nanti Allah ganti dengan yang lebih baik,” ucap Wisnu setengah berbisik sambil mendaratkan kecupan lembut di kening istrinya.

***
Adilla kembali ke rumah setelah menjalani kuretase di rumah sakit. Sepanjang perjalanan pulang, dia tak henti menangis. Diam sebentar, kemudian isaknya terdengar menyayat.

Wisnu yang memapahnya turun dari mobil merasa iba. Pasti tak mudah menerima kenyataan sepahit ini. Tapi bukannya tak mungkin jika saja hati sudah ikhlas menerima. Wisnu bukannya tak sedih melihat kondisi istrinya yang lemah terlebih kehilangan calon buah hati sejatinya sudah cukup membuat kekuatannya runtuh. Tapi, sejak pertama bertemu Adilla, Wisnu berjanji akan membuat wanita berhidung mancung itu selalu tersenyum. Meski dalam keadaan sesulit apa pun.

“Kamu mau makan apa?” Ucap Wisnu sambil berlutut menatap istrinya yang sedang duduk di kursi kayu dengan pandangan kosong.

Wanita itu sungguh jauh dari kata bahagia. Lihat saja, kedua matanya sekarang memiliki kantung hitam, kelopaknya bengkak, bibirnya kering karena sulit meneguk air.

“Jangan seperti ini, Dil. Mas, kan masih ada di sini,” susah payah menarik perhatian istrinya supaya tersenyum. Kemudian kalimat itu sedikit membuatnya menoleh. Namun, kembali lagi menatap jendela yang menganga lebar.

Adilla bergeming. Wisnu banyak bicara namun sedikit pun tak membuat wanita itu menyahut. Seolah kehabisan akal, Wisnu pun ikut diam dan menatap keluar jendela. Mungkin hanya butuh waktu.

***
Semalaman Adilla tak bisa memejamkan mata. Dia mengeluh kesakitan. Wajahnya pucat pasi. Wisnu mendadak panik. Apakah ini akibat kuretase dua hari lalu? Kenapa istrinya sampai kesulitan bergerak bahkan berpindah posisi pun dia tak sanggup.

Wisnu panik. Ini di luar perkiraan. Seharusnya tak ada rasa sakit usai kuretase. Prosesnya pun sudah dilakukan dari kemarin. Keadaan Adilla saat di rumah sakit tak bermasalah. Dia baik-baik saja kecuali luka batinnya yang masih basah.

“Sebaiknya kita ke rumah sakit.”

Adilla menggeleng. Dia frustasi setiap mengingat tempat itu. Mungkin memang sakitnya hanya sesaat. Belum seminggu dia menjalani kuretase. Jadi wajar kalau sakitnya masih muncul sesekali.

Pada akhirnya Wisnu mengalah. Menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya yang menggigil kesakitan. Dia khawatir bukan main, tapi Adilla bersikap lebih keras sehingga membuat suaminya bungkam.

Malam ini tak berbeda jauh. Adilla bahkan terlihat jauh lebih buruk dari sebelunya. Tak sesuap pun nasi dia makan. Minum hanya beberapa teguk. Sisanya merintih kesakitan. Wisnu tak mau terlambat. Tanpa persetujuan Adilla, dia membopongnya hingga ke rumah sakit. Lihat saja, wanita yang terlihat semakin kurus itu bahkan tak bisa menolak. Tubuhnya lemah dengan rasa sakit menusuk di semua sisi dinding perutnya.

Dokter yang menangani Adilla sedang ke luar kota. Dokter lain datang dan segera melakukan USG. Melihat kerut di kening sang dokter, Wisnu seketika gelisah. Sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Dinding rahimnya robek. Mungkin akibat kuretase yang kurang hati-hati.”

DEG!

Wisnu tercenung. Menatap Adilla yang kesakitan. Wanita itu bahkan tak merespon karena terlalu sibuk meredam ngilu yang bergantian datang hingga membuat tubuhnya pasi.

“Kita harus segera melakukan operasi. Kalau tidak, bisa terjadi infeksi dan memperburuk keadaan pasien.”

Rasanya, baru kemarin dia melihat wanita itu tersenyum di balik pintu setiap kali Wisnu datang. Menggamit tangan suaminya lantas mengecupnya penuh rindu. Sekarang, bertubi kebahagiaan itu pergi. Dengan mata terpejam, Wisnu merintih dan memohon. Jangan renggut kebahagiaannya yang lain.
***
Adilla baru saja siuman. Membuka mata dan menemukan lelaki itu tersenyum. Meski dengan pandangan kabur, Adilla bisa dengan jelas mengeja kebahagiaan yang tersungging dari senyum suaminya.

Wisnu berkali-kali mencium punggung tangan istrinya. Mengusap kepala dan sesekali terlihat embun di kedua matanya. Adilla merasa beruntung. Sebab kejadian memilukan yang terjadi beberapa hari terakhir sungguh membuatnya  tersadar. Betapa dia amat terpaku dengan kepergian calon buah hati lantas tak mampu menemukan kebahagiaan lain yang begitu nyata di depan mata.

Adilla menangis. Kali ini air matanya mengambang hingga merayapi kedua pipinya yang merah. Wisnu mengusapnya. Satu kebahagiaan mungkin saja telah pergi, tapi lelaki yang selalu setia mendampingi itu masih berdiri di tempat yang sama. Mengajaknya untuk terus bangkit dan melanjutkan hidup. Bukankah dia juga bahagia yang kemarin luput dia syukuri?

2 comments:

  1. cakep cerpennya mbak....hati ini ikutan bergejolak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mba sudah berkenan membaca..salam kenal... :)

      Delete

Powered by Blogger.