Friday, June 23, 2017

Cinta yang Lain





Adilla bergeming. Wisnu banyak bicara namun sedikit pun tak membuat wanita itu menyahut. Seolah kehabisan akal, Wisnu pun ikut diam dan menatap keluar jendela. Mungkin hanya butuh waktu.



Di sebuah bangku dengan aroma obat-obatan yang kental menguar, seorang lelaki berkemeja biru duduk sambil tak henti mulutnya berkomat kamit. Sejuta doa panjang ia lantunkan sejak wanitanya memasuki ruang operasi. Tak elak, dadanya dipenuhi getar ketakutan. Menatap lalu lalang pasien dengan selang infus membelalai membuatnya semakin merinding. Sejatinya, dia tak pernah bisa berdamai dengan keadaan seburuk ini.

Kemarin, nyala di mata istrinya masih berpendar. Kelopak dihiasi manik berwarna pekat menimbulkan rindu setiap kali bertatap. Lelaki itu selalu bergegas pulang selepas pekerjaannya selesai. Mengendarai motor matic berwarna hitam dengan beberapa garis merah di kedua sisi. Dengan kaca helm menutupi wajah, pikirannya melanglang hingga ke rumah.

Pernikahan mereka sebenarnya tak pernah jauh dari tajuk rindang bahagia. Dua bulan setelah resepsi sederhana di gelar di kediaman istrinya, berita bahagia itu seolah kado terindah yang diterima oleh berpasang-pasang mata dalam keluarga besar.

Cucu pertama dari anak sulung yang baru saja menikahi gadis berparas ayu. Siapa pun akan segera menyunggingkan senyum membayangkan menimang bayi lucu dengan kedua pipi menggembung serupa bakpao. Lengkingan tangis akan membuat rumah mereka semakin ramai. Tapi, rupanya Tuhan lebih punya kuasa ketimbang makhluk-Nya.

Kebahagiaan yang tersulur tiba-tiba kerontang. Perempuan yang sedang mengandung itu terpeleset di lantai kamar mandi. Tubuhnya terpental dengan perut mencium lantai. Bau amis darah merayapi keramik berwarna biru cerah. Pandangannya kabur. Kepalanya berdenyut sebelum akhirnya menjadi gelap.
***
Wisnu tercenung sebelum akhirnya pasrah. Menatap embun yang mengambang di kelopak mata Adilla, istrinya.

“Siang ini juga kita lakukan tindakan.” Ucap dokter Mita.

Sepasang suami istri itu saling berpandangan. Sepertinya baru kemarin mereka berbunga ketika mengetahui kehamilan yang memasuki usia sebulan. Wisnu dengan antusias mengajak Adilla ke dokter. Istri dan cabang bayi dalam keadaan sehat. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tapi, hari ini mereka harus menata hati ketika dokter menyatakan Adilla mengalami keguguran. Entah kenapa, kesedihan itu tak pernah mengucap permisi ketika bertandang. Bergegas melipat semua pijar. Dalam sekejap merubahnya menjadi duka.

Adilla menangis sesenggukan. Sesekali dia mengusap air mata dengan ujung jilbab. Perutnya melilit. Nyeri tak tertahan. Tapi, bukan karena rasa sakit itu dia menangis. Perasaan bersalah dan rasa kehilangan begitu pekat. Dia membayangkan kejadian menyesakkan yang terjadi tadi pagi. Ketika dengan tergesa keluar kamar mandi. Keinginan menyiapkan sarapan untuk Wisnu yang sebenarnya masih terlelap.

Jika saja dia berhati-hati, mungkin kejadian buruk ini tak pernah mampir dalam hidupnya. Sesal menyesaki pikiran. Rasa sakit diabaikan. Hari ini, dia harus rela kehilangan. Betapa banyak orang yang menginginkan kehamilan, menunggu hingga bertahun-tahun. Dia, yang dianugerahi lebih cepat, tak sedikit pun mensyukuri nikmat. Merasa berdosa serta lalai, Adilla tersengguk-sengguk.

Wisnu yang baru datang usai mengurus administrasi, menemukan istrinya dengan lelehan air mata. Dengan hati-hati dia mendekat, merengkuhnya penuh iba. Bukan hanya wanita itu saja yang merasa sepi, dirinya pun seolah kehilangan pendar penuh cahaya yang selama ini diimpikan.

“Jangan menangis, ini semua sudah takdir.”

Wanita dengan wajah sembab itu menggeleng cepat. Terbata menjawab.

“Jika bukan karena Adilla, bayi kita mungkin masih selamat.”

Wisnu menolak. Melihat Adilla siuman saja sudah membuatnya lega. Tak lagi diharapkannya mimpi yang tiba-tiba pergi. Biarlah, itu sudah jadi kuasa Tuhan. Mereka harus pasrah dan menerima.

“Nanti Allah ganti dengan yang lebih baik,” ucap Wisnu setengah berbisik sambil mendaratkan kecupan lembut di kening istrinya.

***
Adilla kembali ke rumah setelah menjalani kuretase di rumah sakit. Sepanjang perjalanan pulang, dia tak henti menangis. Diam sebentar, kemudian isaknya terdengar menyayat.

Wisnu yang memapahnya turun dari mobil merasa iba. Pasti tak mudah menerima kenyataan sepahit ini. Tapi bukannya tak mungkin jika saja hati sudah ikhlas menerima. Wisnu bukannya tak sedih melihat kondisi istrinya yang lemah terlebih kehilangan calon buah hati sejatinya sudah cukup membuat kekuatannya runtuh. Tapi, sejak pertama bertemu Adilla, Wisnu berjanji akan membuat wanita berhidung mancung itu selalu tersenyum. Meski dalam keadaan sesulit apa pun.

“Kamu mau makan apa?” Ucap Wisnu sambil berlutut menatap istrinya yang sedang duduk di kursi kayu dengan pandangan kosong.

Wanita itu sungguh jauh dari kata bahagia. Lihat saja, kedua matanya sekarang memiliki kantung hitam, kelopaknya bengkak, bibirnya kering karena sulit meneguk air.

“Jangan seperti ini, Dil. Mas, kan masih ada di sini,” susah payah menarik perhatian istrinya supaya tersenyum. Kemudian kalimat itu sedikit membuatnya menoleh. Namun, kembali lagi menatap jendela yang menganga lebar.

Adilla bergeming. Wisnu banyak bicara namun sedikit pun tak membuat wanita itu menyahut. Seolah kehabisan akal, Wisnu pun ikut diam dan menatap keluar jendela. Mungkin hanya butuh waktu.

***
Semalaman Adilla tak bisa memejamkan mata. Dia mengeluh kesakitan. Wajahnya pucat pasi. Wisnu mendadak panik. Apakah ini akibat kuretase dua hari lalu? Kenapa istrinya sampai kesulitan bergerak bahkan berpindah posisi pun dia tak sanggup.

Wisnu panik. Ini di luar perkiraan. Seharusnya tak ada rasa sakit usai kuretase. Prosesnya pun sudah dilakukan dari kemarin. Keadaan Adilla saat di rumah sakit tak bermasalah. Dia baik-baik saja kecuali luka batinnya yang masih basah.

“Sebaiknya kita ke rumah sakit.”

Adilla menggeleng. Dia frustasi setiap mengingat tempat itu. Mungkin memang sakitnya hanya sesaat. Belum seminggu dia menjalani kuretase. Jadi wajar kalau sakitnya masih muncul sesekali.

Pada akhirnya Wisnu mengalah. Menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya yang menggigil kesakitan. Dia khawatir bukan main, tapi Adilla bersikap lebih keras sehingga membuat suaminya bungkam.

Malam ini tak berbeda jauh. Adilla bahkan terlihat jauh lebih buruk dari sebelunya. Tak sesuap pun nasi dia makan. Minum hanya beberapa teguk. Sisanya merintih kesakitan. Wisnu tak mau terlambat. Tanpa persetujuan Adilla, dia membopongnya hingga ke rumah sakit. Lihat saja, wanita yang terlihat semakin kurus itu bahkan tak bisa menolak. Tubuhnya lemah dengan rasa sakit menusuk di semua sisi dinding perutnya.

Dokter yang menangani Adilla sedang ke luar kota. Dokter lain datang dan segera melakukan USG. Melihat kerut di kening sang dokter, Wisnu seketika gelisah. Sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Dinding rahimnya robek. Mungkin akibat kuretase yang kurang hati-hati.”

DEG!

Wisnu tercenung. Menatap Adilla yang kesakitan. Wanita itu bahkan tak merespon karena terlalu sibuk meredam ngilu yang bergantian datang hingga membuat tubuhnya pasi.

“Kita harus segera melakukan operasi. Kalau tidak, bisa terjadi infeksi dan memperburuk keadaan pasien.”

Rasanya, baru kemarin dia melihat wanita itu tersenyum di balik pintu setiap kali Wisnu datang. Menggamit tangan suaminya lantas mengecupnya penuh rindu. Sekarang, bertubi kebahagiaan itu pergi. Dengan mata terpejam, Wisnu merintih dan memohon. Jangan renggut kebahagiaannya yang lain.
***
Adilla baru saja siuman. Membuka mata dan menemukan lelaki itu tersenyum. Meski dengan pandangan kabur, Adilla bisa dengan jelas mengeja kebahagiaan yang tersungging dari senyum suaminya.

Wisnu berkali-kali mencium punggung tangan istrinya. Mengusap kepala dan sesekali terlihat embun di kedua matanya. Adilla merasa beruntung. Sebab kejadian memilukan yang terjadi beberapa hari terakhir sungguh membuatnya  tersadar. Betapa dia amat terpaku dengan kepergian calon buah hati lantas tak mampu menemukan kebahagiaan lain yang begitu nyata di depan mata.

Adilla menangis. Kali ini air matanya mengambang hingga merayapi kedua pipinya yang merah. Wisnu mengusapnya. Satu kebahagiaan mungkin saja telah pergi, tapi lelaki yang selalu setia mendampingi itu masih berdiri di tempat yang sama. Mengajaknya untuk terus bangkit dan melanjutkan hidup. Bukankah dia juga bahagia yang kemarin luput dia syukuri?

Wednesday, June 21, 2017

Dia



Dia, lelaki yang dipenuhi luka di masa lalu kini justru tengah leluasa menyakiti orang yang sudah menyembuhkan sakitnya…


“Siapa perempuan itu?” Suaranya terdengar lebih serak.

Kamal tercengang beberapa saat. Wanita berparas ayu itu sudah berada di belakangnya tepat lima detik sebelum dia menutup obrolan mesra dengan teman di facebook. Wanita dengan gurat kelelahan di kening, kedua mata yang kehilangan pendar, bibir merah yang beku, kenapa begitu tega lelaki itu melakukannya? Serupa ditusuk sembilu, kalimat terakhir yang diucapkannya pada perempuan lain membuat wanita itu sulit menyembunyikan perih.

“Dia cuma teman,” kalimatnya mudah saja didengar, namun sulit sekali dimengerti. Bagaimana bisa seorang teman mengucap kalimat kasih serupa orang yang saling mencinta. Tidak salahkah wanita itu membaca kalimat terakhir, “I miss you.”

“Apa pantas seorang teman bicara semesra itu pada suami orang?!”

“Lagian kita nggak pernah ketemu,” sergah Kamal.

“Sarah pikir ini cuma salah paham. Tapi ternyata benar,” tangisnya mulai berhamburan.

“Mas cuma main-main.”

Lelaki tiga puluh lima tahun itu menyangka semua ucapan itu hanya serupa guyonan antar teman biasa. Padahal akibat yang ditimbulkan bisa saja mengguncang ketenangan dua perempuan yang sedang menginginkan kepastian. Harapan yang dilambungkannya serupa mimpi-mimpi di malam pekat. Dia abaikan perasaan. Dia lupakan pedihnya luka.
 
Kamal memang sempurna dengan kulit putih dan hidung mancungnya. Kedua alis legamnya saling bertaut membuat siapa pun ingin berlama-lama memandang. Ucapannya manis dan selalu menyanjung. Sebab itulah, wanita yang bahkan tak pernah bertatap muka dengannya berani untuk tetap tinggal.

Sebelumnya, Kamal memang betul tak benar-benar ingin menjalin hubungan spesial dengan wanita lain selain Sarah, istrinya. Tapi, rupanya setan bermain lebih lihai sehingga perasaan yang awalnya biasa berubah menarik bahkan hingga membuat lelaki berperawakan tinggi itu sulit sekali tidur.

Serupa orang yang baru saja jatuh hati, pertemuan tanpa sengaja di dunia maya membuat keduanya saling suka. Awalnya hanya berkenalan dan saling sapa. Lama-lama Kamal mulai menaruh hati. Pelan-pelan dia mengatakan suka. Gayung bersambut, wanita yang baru dikenalnya itu membalasnya mesra. Sungguh diluar prasangka, hubungan keduanya semakin lekat. Tiga bulan sudah cukup membuat rasa berubah cinta.

Tidak cukupkah ketulusan yang Sarah berikan selama ini? Lelaki itu amat tahu jawabannya. Bahkan lebih dari yang dia harapkan. Lalu alasan apa yang membuat Kamal begitu mudahnya berpaling?

Bau busuk bangkai tentu akan tercium juga bahkan hingga ratusan meter. Begitu juga dengan hubungan spesial Kamal dengan wanita bernama Restu. Keduanya memang tak pernah saling bertemu, namun dunia maya sudah cukup menjadi tempat menumpahkan rindu. Kamal lupa, kendati istrinya tak memergoki, Tuhan tentu lebih tahu siapa yang sebenarnya tengah berkhianat.

Sarah hanya berniat mengantarkan teh hangat untuk suaminya. Semalam, Kamal pulang larut. Selepas shalat subuh, lelaki dengan kacamata minus itu kembali terlelap. Dengan hati-hati Sarah menjulurkan selimut. Keluar ke dapur dan menyiapkan sarapan. Teh hangat yang pekat dengan satu sendok gula dia bawa dengan nampan. Pintu sedikit tersibak. Dia masuk tanpa perlu menimbulkan derit.

Kamal terlalu asyik sehingga tak menyadari jika sejak beberapa detik lalu, istrinya tengah mematung dengan keterkejutan nyaris sempurna merobek rongga hati. Adakah yang lebih menyakitkan ketimbang melihat orang yang kita cintai ternyata berdusta?

Teh hangat di tangannya hampir saja jatuh ke lantai. Sekuat tenaga Sarah menahan isak yang sulit sekali disimpan. Kenapa lelaki yang dulu datang penuh luka, meminta Sarah mendampingi dan menyembuhkan, kini justru dengan leluasa mencabiknya? Tidak ingatkah lelaki itu, ketika dia memintanya menjadi istri, memohon dengan mata penuh pijar, berjanji tak akan menyiakan bahkan haram jika sampai melukai dirinya. Di mana kalimat-kalimat yang berterbangan serupa kapas dan menghantarkan mereka pada surga di dalam rumah tangga? Tak ada kejadian yang lebih menyakitkan ketimbang kejadian pagi ini.

Pelan-pelan Kamal beringsut dari meja kerja, menutup laptop dan menatap wanita yang sedang dipenuhi hujan. Apa yang harus dia lakukan? Mungkin saja setelah ini, wanita yang bersedia mendampingi bahkan berkorban nyawa itu akan meminta cerai. Bayangan masa lalu berkelebat dalam ingatan.

Untuk pertama kalinya Kamal menemui Sarah di sebuah rumah sakit. Tanpa sengaja mereka berkenalan. Sarah yang sedang bertugas sebagai perawat memeriksa kondisi Kamal yang limbung di UGD. Pada malam yang dipenuhi hujan lebat serta guntur, lelaki itu diantar seorang teman dalam kondisi yang sangat lemah. Demam selama lima hari, tubuh menggigil serta kekurangan cairan. Dengan cekatan, Sarah memasang jarum infus diikuti keluh sakit dari lelaki berkacamata itu.

“Semua akan baik-baik saja,” suaranya terdengar pelan.

Kamal tersenyum. Bukan hanya karena dia merasa jauh lebih baik, namun entah kenapa, wanita dengan seragam berwarna biru cerah dengan jilbab senada itu begitu memesona. Sahabatnya mencubit lengan Kamal. Disusul suara mengaduh, Kamal tertawa.

Esoknya, Kamal yang diketahui positif tifus akhirnya mulai membaik. Pertemuan semalam dengan salah satu petugas medis membuatnya gundah. Rupanya Kamal tak sedang main-main. Dia meminta nomor handphone serta berkenalan dengan perawat yang pertama kali menolongnya. Dan tak butuh waktu lama, Kamal pun jatuh hati.

Lantas, ada apa dengan duka dan tangis di masa lalu? Tentang lelaki yang datang penuh luka, ditinggalkan tunangannya, bahkan dengan penuh sayat sembilu, wanita yang segera resmi dinikahinya lari dengan lelaki lain. Detik itulah, Kamal mulai merasa dirinya tak akan bertahan hidup lebih lama. Lelaki lain mungkin saja segera beranjak dan mencari pengganti. Tapi, Kamal terlalu cinta untuk segera lupa.

Dan Tuhan selalu punya jawaban atas setiap doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya. Sarah, wanita dengan mata penuh pelangi muncul di hadapannya. Kamal yang sudah setahun tak pernah tertarik dengan perempuan lain, kali ini tiba-tiba jatuh cinta tanpa perlu banyak alasan. Dia hanya suka. Rindu menderu hampir di setiap malam. Lantas, wajah Sarah selalu memenuhi ingatan. Dengan terbata, lelaki itu datang dan memohon agar Sarah mau menemaninya dalam mengarungi biduk rumah tangga.

Sarah pun tak berpikir lama saat menganggukkan kepala disertai semburat kemerahan di kedua pipi. Mungkin itulah yang dinamakan jodoh.

Rumah tangga yang nyaris sempurna. Meski belum juga dikarunia momongan, kehidupan mereka tak pernah kehilangan pendar. Selalu saja ada aroma hangat menyeruak penuh cinta. Lalu, kejadian pagi ini begitu menyentak. Entah sejak kapan lelaki itu mulai merasa butuh wanita lain selain Sarah.

“Apa salah Sarah, Mas? Tega kamu, Mas!” Kalimat itu berulang kali diucapkannya.

Kamal tak menjawab. Tercenung memikirkan kesalahan besar yang sudah dilakukan. Bagaimana bisa kebahagiaan sesaat sempat masuk dalam pikiran. Bukankah Tuhan sudah memberikannya lebih dari apa yang dia minta? Sarah, dia bukan sekadar ibu rumah tangga. Meluangkan waktu mengurus suami dan mertua. Padahal pekerjaannya di rumah sakit tak bisa dibilang sedikit. Banyak hal-hal kecil yang Kamal lewatkan namun selalu jadi prioritas bagi Sarah. Seperti menyediakan air putih hangat untuk suaminya sebelum tidur. Memastikan lelaki itu tetap sehat dengan menaruh vitamin di dalam kotak makannya. Dia selalu penuh kejutan. Dan Kamal mulai menyadari di saat tak tepat. Ketika wanita itu sudah amat terluka.
***

Bertemu dan menjalin hubungan dengan Kamal membuat hari-harinya nyaris utuh. Mereka bicara tentang banyak hal. Restu merasa ada orang yang amat memerhatikan dan selalu tulus menyanjung. Beberapa kali dia mulai memikirkan hubungan mereka. Cinta tanpa status bahkan merusak rumah tangga orang. Dia serupa duri dalam daging. Mencintai suami orang dengan tanpa perasaan. Bukankah dia juga wanita yang sulit berbagi bahagia dengan wanita lain? Lantas kenapa dengan mudahnya dia merusak rumah tangga orang hanya demi kebahagiaannya sendiri.

Beberapa hari terakhir, Kamal tak lagi menyapa. Dia juga kehilangan ucapan selamat pagi dari lelaki bermata elang itu. Ketika malam, Restu bahkan tak menemukan Kamal mengucapkan selamat tidur serta sedikit kalimat penuh rindu. Lelaki itu seolah hilang ditelan bumi.

Apa yang terjadi? Mungkin hubungan mereka diketahui orang lain? Lebih buruknya oleh istri Kamal. Dengan terbata, wanita tiga puluh tahun itu mulai mempertanyakan apa sebenarnya yang ingin dia dapatkan dengan mencintai suami orang? Kamal bahkan tak pernah berhutang janji untuk menikahinya apalagi menceraikan istri sahnya. Tidak sekalipun ada kalimat seperti itu. Selama ini, mereka hanya mengatakan rindu. Tak lebih. Lalu apa yang akan Restu dapatkan selain kecewa?

Nyata-nyata dia membohongi diri sendiri. Kebahagiaan tak akan didapat dengan menyakiti orang lain. Restu meringkuk di dalam selimut. Menyesali setiap jengkal dari kesalahannya.

***

Wanita itu begitu tergoda untuk segera mengakhiri semua. Perasaan yang dipenuhi luka, hati yang berkeping dan tak lagi utuh membuatnya terseok untuk melanjutkan hidup bersama Kamal.  Piring pecah tentu tak lagi bisa utuh. Meski dengan hati-hati menyambungnya, tetap saja ada bagian retak yang tampak. Begitu juga dengan hatinya.

Beberapa hari ini suaminya memutuskan membuang akun sosial medianya. Demi membuktikan rasa bersalah serta menyesal. Laki-laki itu lebih suka menemani Sarah ketimbang biasanya. Dia selalu berlama-lama memandangi kedua mata Sarah yang masih sembab.

Kamal tahu, kesalahannya terlalu besar untuk bisa dimaafkan. Tapi sungguh, lelaki dengan sweter biru itu tak pernah siap jika harus berpisah dari wanita yang dahulu telah menyembuhkan cedera di hatinya.

“Sebaiknya mas cepat tidur. Ini sudah malam.” Sarah tergugu melihat Kamal sedang menatapnya. Lelaki itu dengan mata elangnya tampak tersenyum sambil menarik selimut.

“Ada apa, Mas? Kenapa tersenyum sendiri?” Sarah penasaran.

“Mas sedang jatuh cinta,” ucapnya sambil mengerling disusul rona merah di kedua pipi Sarah.

***

Terlalu banyak nikmat yang kita ingkari. Terlalu sedikit yang bisa kita ingat. Keburukan tidak pernah melahirkan kebaikan. Pun keduanya tak akan pernah bisa menyatu. Serupa minyak dengan air yang tak pernah saling bertaut.

Monday, June 19, 2017

Tetap Produktif Saat Mudik dengan ASUS E202



Blog Competition ASUS E202

 
Assalamualaikum…Apa kabar sahabat? Nggak terasa, ya Ramadhan sudah di penghujung waktu. Itu artinya, saya harus bersiap mengemas segala macam keperluan anak-anak untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Mulai dari pakaian, camilan, buku bacaan dan mainan. Sejak menikah, saya punya rutinias tahunan, mudik!

Bagi yang pernah mudik terutama untuk waktu cukup lama serta jarak yang nggak dekat, butuh ekstra persiapan. Apalagi jika membawa serta anak-anak. Terutama yang masih di bawah lima tahun. Bawaannya segunung, itu nggak bisa dikurangi. Kalau dilebihkan nanti paksu ngomel…hehe.

Si sulung sekarang sudah beranjak enam tahun, sedangkan si bungsu masih di bawah dua tahun. Keperluan mereka pun beragam. Bawaan wajib buat kakak misalnya, beberapa buku cerita, komik kesayangan, crayon dan buku gambar. Sedangkan untuk baju ganti masih terlihat wajar seperti kami yang dewasa.

Nah, si adek punya perintilan lebih ruwet…hehe. Maklum, usianya masih di bawah dua tahun. Saya selalu prepare lebih banyak baju ganti, camilan, beberapa popok, keperluan mandi, selimut, ekstra baju hangat karena di Malang hawanya dingin, mainan, beberapa kosmetik bayi seperti krim ruam (kulitnya adek sensitif banget), minyak telon, obat demam serta kereta bayi.

Dulu, sebelum memiliki buah hati, rasanya menyiapkan pakaian dan segala keperluan nggak terlalu sulit, lho! Bawaan hanya sedikit, koper cukup satu. Sedangkan sekarang? Seperti orang mau pindah rumah. Astaga…kompor dan segala keperluan dapur pun seperti ikut dibawa. Padahal, isinya hanya baju ganti anak-anak, mainan, buku-buku cerita dan popok serta keperluan mandi saja. Nggak lebih!

Satu hal lagi yang sering membuat kepala pening adalah kewajiban membawa laptop kala bepergian. Saya dan suami seringkali memerlukan laptop meski pun saat berada di luar rumah. Misalnya saja ketika harus liburan keluarga ke puncak atau mengunjungi rumah saudara. Kami sering kesulitan terutama ketika ada deadline yang mendesak. Adakah ibu-ibu yang pernah mengalami hal ini?

Saya pun demikian. Tas punggung rasanya sudah sesak dan penuh dengan keperluan anak-anak. Kalau harus memasukkan laptop dengan berat yang sering membuat punggung pegal, malas sekali rasanya. Sedangkan untuk mudik, seperti biasanya selalu memakan waktu dua minggu lebih. Itu bukan waktu sebentar. Saya punya jadual rutin menulis setiap harinya, belum lagi kewajiban membuka laptop saat mengikuti kelas menulis yang dimulai bulan Juli mendatang. Bisa-bisa saya ketinggalan kelas karena nggak membawa laptop. Nggak rela banget!

Tapi, bawaan lain yang sudah dikemas pun nggak bisa juga dikurangi. Dilema melanda hati. Akhirnya, mau nggak mau harus rela juga punggung pegal demi membawa laptop. Sempat terpikir juga beralih menggunakan notebook. Saya membayangkan, andai saja ada notebook yang ringan tapi tetap nyaman dipakai. Apalagi kalau baterainya bisa tahan lama sehingga nggak susah-susah mencari colokan listrik terutama saat berada dalam perjalanan. Memangnya ada ya yang senyaman itu? Mungil tapi tetap stylish. Berwarna cerah sesuai dengan passion saya sebagai penulis dan tukang oprek dapur…hehe.

Buat saya, memilih notebook itu nggak asal pilih model dan gaya saja. Tapi, wajib juga memiliki beberapa kriteria yang pada akhirnya akan memudahkan saya untuk menggunakannya. Beberapa tips ini mungkin bisa membantu bagi ibu-ibu yang sedang galau memilih notebook.

1.      Sesuaikan dengan budget.
Jangan sampai setelah membeli notebook baru, uang belanja bulanan jadi habis, ya. Sesuaikan saja dengan budget kita, nggak perlu memaksakan. Nanti malah ujung-ujungnya menyesal. Untuk itu, kita butuh notebook dengan harga terjangkau tapi tetap berkualitas.

2.      Pilih sesuai kebutuhan.
Kalau ibu-ibu seorang penulis dan sering main ke sosial media seperti saya, butuh sekali notebook yang bisa melesat cepat saat menjelajahi dunia maya. Jadi, nggak perlu menunggu terlalu lama apalagi sampai ketiduran saat berselancar. Saya juga memiliki hobi baru, suka menulis resep masakan. Otomatis harus mengunggah foto-foto makanan dengan warna yang lebih memikat. Jadi, kebutuhan kedua tentu saja laptop itu harus memiliki hasil gambar dengan warna lebih indah.


3.      Tombol keyboard yang nyaman.
Sebagai penulis, tentu saja saya selalu menggunakan keyboard. Mengejar deadline menulis akan terasa lebih ringan jika notebook yang digunakan memiliki keyboard nyaman dan tahan lama.

4.      Pilih touchpad yang sesuai kebutuhan.
Beberapa orang mungkin mengabaikan fungsi dan kegunaan dari touchpad. Padahal, hampir setiap pekerjan dilakukan dengan menggunakan touchpad. Jadi, pastikan touchpad pada notebook yang ibu-ibu pilih sudah nyaman dan sesuai dengan kebutuhan.

5.      Memiliki baterai tahan lama.
Jangan sampai baru pakai beberapa jam, baterai sudah habis. Nggak lucu juga kan jika terjadi di saat penting seperti ketika bekerja dan sulit mencari colokan listrik. Jadi, pastikan notebook baru yang dipilih bisa hemat baterai, ya!

6.      Desain Stylish
Penting juga memilih notebook dengan bentuk yang tipis, mungil serta ringan saat dibawa ke mana pun. Dan jangan sampai ketinggalan gaya, ya. Pastikan juga notebook kece yang dipilih berkualitas.

7.      Anteng dan tenang saat digunakan.
Apa sih bahasanya, ya? Hehe. Anak saya terutama yang bungsu, mudah sekali terbangun saat ada suara berderit sedikit saja. Jadi, kadang baru menyalakan laptop, dia sudah terbangun karena laptop saya lumayan berisik. Nggak enak juga kan karena jadi terganggu dan pekerjaan saya jadi tertunda. Sebaiknya pilih notebook dengan suara yang nggak berisik, supaya pekerjaan kita di luar misalnya di perpustakaan atau pun di rumah nggak membuat orang menoleh karena terganggu.

8.      Garansi dan tahan lama.
Pilih laptop dengan garansi yang bersaing. Misalnya yang berani memberikan garansi seumur hidup…hehe. Nggaklah, ya. Karena jaminan seperti garansi ini sebagai bukti juga bahwa produk yang ditawarkan memang berkualitas dan nggak main-main. Kalau murah tapi gampang rusak, untuk apa juga diperjuangkan? Kayak ibu-ibu memperjuangkan mantan pacar dulu…*eh

Baru-baru ini saya tahu, ternyata ASUS meluncurkan produk terbaru dan super kecenya. Semua kebutuhan dan kriteria yang sudah saya sebutkan di atas bisa dengan mudah kita temukan dalam ASUS EeeBook E202. Desainnya yang elegan dan stylish cocok banget buat ibu-ibu keren seperti kita.



Bentuknya yang minimalis dan super tipis membuat ransel saya jadi ringan saat digunakan. E202 ini beratnya hanya 1.21kg saja. Dimensinya hanya 193x297 mm. Ukurannya nggak lebih besar dari kertas A4! Pasti mudah banget saat dibawa ke mana-mana. Semakin mupeng saja kan ibu-ibu?

Saya juga termasuk orang yang suka dengan warna-warna cerah. Notebook E202 yang hadir dengan windows 10 dan DOS ini ternyata juga menyediakan beberapa warna menarik. Di antaranya silk white, dark blue, lightning blue, dan red rouge.


ASUS E202 ini memiliki touchpad yang super keren. Kita bisa menggunakannya layaknya menyentuh layar smartphone. Bisa dibayangkan betapa kerennya produk ini. Sangat sesuai dengan kebutuhan saya. Karena hampir setiap pekerjaan, saya menggunakan touchpad ini. 

 

Notebook  berukuran A4 milik ASUS ini juga menggunakan prosesor intel hemat daya yang bisa kita gunakan hingga 8 jam. Ketika baterai habis, kita pun bisa dengan cepat mengisinya kembali dengan port USB 3.1 type-C yang sangat menghemat waktu. USB ini bisa dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible. Kecepatan transfer USB 3.1 ini lebih cepat 11x dibanding USB 2.0. Sungguh memudahkan sekali terutama saat kita berada di luar rumah. Nggak capek-capek mencari colokan listrik hingga ke kolong meja. Hehe.

Selain itu, keunggulan lain dari E202 adalah keyboardnya yang kokoh dan sangat nyaman digunakan. Desain one-piecce chiclet keyboardnya bikin kegiatan menulis jadi lebih mudah. Pasti nggak akan menyesal kalau bisa bersanding dengan notebook kece satu ini. Menulis jadi lebih menyenangkan!

Ada lagi? Kelebihan yang lain adalah berselancar di dunia maya semakin cepat dengan adanya teknologi dari Wi-Fi terbaru 802.11ac yang memiliki kecepatan tiga kali lipat dari 802.11n. Cocok banget buat saya yang suka ngeblog dan mencari referensi dari internet. Browsing pun lebih menyenangkan dan anti lemot. Jadi nggak perlu menunggu sampai ketiduran lagi deh.

Bagaimana ibu-ibu? Tertarik banget kan dengan ASUS E202 ini? Saya sendiri sangat membutuhkan notebook dengan model seperti E202 ini. Hal paling penting yang ada pada notebook ini terutama karena ringan dan bentuknya yang mungil. Bisa dibawa ke mana pun saya pergi. Kegiatan menulis dan upload resep pun semakin menyenangkan. Mudik nggak harus bawa ransel super berat.

Perjalanan mudik pun akan terasa lebih ringan. Kegiatan menulis tak akan terganggu. Bawaan yang menyesaki ransel bisa berkurang. Punggung bisa berbagi beban dengan menggendong si bungsu. Nggak melulu karena laptop yang berat. Akhirnya, kekhawatiran saya terjawab sudah dengan notebook super kece dari ASUS. Terimakasih ASUS…

Blog Competition ASUS E202  by uniekkaswarganti.com