Permainan Tradisional Favorit

May 27, 2017


Zaman dulu, terutama yang lahir di tahun sembilan puluhan, permainan tradisonal masih sangat populer di kalangan anak-anak. Apalagi di kampung, hampir semua anak-anak memainkan congklak, bola bekel, lompat tali, petak umpet, atau bahkan engklek.

Zaman saya masih kecil_kebetulan saya lahir tahun sembilan puluh_permainan favorit tentu saja lompat tali dan congklak. Lompat tali menggunakan karet gelang yang dirangkai menjadi tali panjang. dua orang bertugas memegang kedua ujung tali. Seseorang bergantian melompati. Biasanya permainan ini dimainkan berkelompok. Ketika salah satu orang menyentuh tali ketika melompat, maka kelompok satunya akan bergantian tugas memegang ujung tali. Serunya di mana? Serunya saat melompat, semakin tinggi semakin mendebarkan. Terpeleset dan jatuh tersungkur di lantai yang tak mulus menjadi salah satu hal yang selalu saya takutkan. Zaman dulu, lantainya bukan keramik, banyak serpihan pasir di beberapa bagian. Sebagian lagi lantainya berlubang. Menyentuh dengan posisi tersungkur akan sangat menyakitkan. Bukan hanya tergores, tapi berdarah itu sudah biasa.

sumber


Permainan ini pun tak selalu dimainkan. Ada masanya bosan lantas bermain bola bekel menjadi jauh lebih menyenangkan. Ketika permainan lompat tali sedang digemari, semua berlomba membeli karet gelang. Kalau tak bisa membeli, terpaksa mengambil milik ibu yang biasa dipakai untuk mengikat rambut. Semua serba terbatas, tak semua anak bisa memiki tali panjang dari karet gelang. Termasuk saya yang selalu bersusah payah mendapatkan. Hingga berebut dan mengambil tanpa izin karet milik ibu…hehe.

Tapi, zaman itu selalu menyenangkan dan dipenuhi rinai tawa. Meskipun tak memiliki ipad, tanpa smart phone sekalipun. Berbeda jauh dengan zaman sekarang yang hampir tanpa jeda dengan benda elektronik itu. Tapi, itulah tantangan pada zaman sekarang. 

Ada juga permainan congklak. Di berbagai daerah, namanya pun berbeda. Di tempat saya, biasa disebut dakon. Biasanya dimainkan dengan papan kayu atau plastik. Dakon memiliki 98 biji-bijian atau kulit kerang. Zaman saya, biji-bijiannya memakai kerang plastik. Permainan ini pun tak kalah menarik. Namun, memang semua ada masanya heboh dan memudar seiring waktu.

Permainan-permainan tradisional itu sebenarnya adalah warisan serta kekayaan yang patut dilestarikan. Sayangnya, zaman membuatnya hilang dan orangtua dibuatnya gagal menjaga kelestarian. Anak saya, sampai sekarang belum mengenal permainan tradisional kecuali ketika dia bertandang ke rumah eyangnya di Malang. Biasanya bapak mengajaknya ke sawah, bermain ketapel, layang-layang dan mengambil tebu. Buat kakak, itu adalah hal paling menyenangkan ketika pulang kampung.

Di ibu kota, dia harus membayar mahal ketika ingin mengunjungi sawah dan melihat kerbau yang membajak. Saya bersyukur, kakak termasuk anak yang nggak pemilih dan selalu senang asalkan ditemani. Dia bahkan girang main gerobak dorong dari bamboo bersama kakeknya. Belum lagi membangunkan kakeknya ketika usai subuh setelah sahur, padahal bapak terbiasa tidur setelah shalat subuh. Demi apa? Berenang di kolam ikan di belakang rumah…hehe. Padahal di Malang, hawanya dingin sekali. Bisa dibayangkan ketika pagi, masih mengantuk pula harus menemani cucunya berenang…hehe. Dilarang juga menolak.

Entah, saya merasa gagal atau tidak ketika melihat anak-anak tumbuh besar dan meninggalkan permainan tradisioanl semasa ibunya masih bocah. Rasanya selalu ada cara buat mengenalkannya, sayangnya saya masih belum juga menemukan hal tepat buat dia mengerti dan menyenangi.

Anak-anak zaman sekarang_meskipun di tengah popularitas gadget yang menawan_tetaplah menyukai hal-hal seru serupa yang saya mainkan ketika masih kecil. Mereka terlihat tetap antusias berlari-lari, hanya saja ibunya belum berani menutup mata si kakak dan menyuruhnya mencari saya atau adiknya yang dengan senang hati berlarian, menghindar dari kejaran tangan mungilnya. Alasannya sederhana, takut terbentur atau kening mencium tembok…hehe. 

Dulu, meskipun perempuan, saya sering memanjat pohon jambu di belakang rumah. Pernah hal memilukan menimpa. Sebagian kaki saya harus berdarah karena terkena batang pohon ketika hendak turun. Sakitnya masih terasa sampai sekarang…hehe. Lebay, ya?

Suatu saat nanti, akan saya perkenalkan bola bekel, sayangnya itu permainan anak gadis, ya? Hehe. Kakak pasti lebih tertarik bermain catur bersama ayahnya ketimbang harus bermain dengan saya. Sesekali dia mengajari saya cara bermain catur, meskipun ragu, saya pun mengiyakan dan berusaha memercayainya. Dan kenyataannya, dia memang benar-benar menguasai sedikit saja cara bermain catur. Ayah dan kakak sama-sama belajar bersama. Karena keduanya belum pernah memainkan catur. Sampai malam, mereka belajar dari google. Saya yang tak tertarik, memilih tidur dan memejamkan mata...

No comments:

Powered by Blogger.