Mencipta Bahagia



       Ada orang selalu merasa bernasib buruk, menyesali jalan takdir bahkan lebih parahnya menyalahkan banyak orang atas banyak musibah yang menimpa. Dari sudut pandang orang lain, rupanya orang tersebut tak sesial yang dipikirkan. Dia begitu beruntung, memiliki keluarga kecil yang kompak, bahagia sebab berada dekat dengan orang tua, memiliki rumah yang bahkan orang lain pun harus bersusah payah membayar tagihan tiap bulan. Lebih sempurna lagi ketika orang itu memiliki pekerjaan tetap, bisa menafkahi anak-anaknya, meskipun tak selalu berlebih. Bagi orang kedua, dia sangat beruntung.
            Namun , rupanya bahagia tidak terjadi karena kesempurnaan hidup. Bagi orang lain, jika bisa hidup seperti si A, dia akan sangat bahagia. Tapi, rupanya si A tak menemukan bahagia dalam posisinya.

sumber

            Ada pedagang cilok, yang untungnya tak seberapa. Lebih konyolnya dia rela membagi beberapa dagangannya pada beberapa anak kecil yang menjadi pembeli setia. Kalau dipikir, seharusnya dia tak melakukan hal itu. Memangnya dapat untung berapa dengan berdagang cilok? Harusnya dia tak sebahagia itu jika melihat orang yang jauh lebih berkecukupan di atasnya justru merasa nelangsa. Tapi dia tampak happy saja menjalani hidupnya.
            Ada apa dengan bahagia? Sepertinya tak bisa sederhana mengartikannya. Ada orang kaya yang tersiksa, sebaliknya yang biasa tak selalu merana. Apakah kamu pernah memerhatikan orang-orang di sekitarmu? Menebak-nebak alasan yang membuat mereka selalu bahagia? Harta? Anak-anak? Pekerjaan? Atau apa?
            Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah tidak lain hanya untuk beribadah kepada-Nya. Manusia memang harus berusaha, bekerja mencari rezeki, namun semua itu hanyalah sebuah pekerjaan sampingan. Pekerjaan utamanya adalah beribadah kepada Allah.
            Orang boleh saja giat bekerja namun niatkan semua demi mencari ridha Allah. Semua adalah bentuk ketaatan seorang hamba kepada aturan yang sudah ditetapkan oleh Tuhannya. Seorang suami sudah seharusnya mencari nafkah untuk menghidupi istri dan anak-anaknya, ingat dia juga berkewajiban mencukupi orang tua. Setelah menikah, orang tua kandung dan mertua statusnya sama. Mereka juga punya hak untuk dinafkahi, Apalagi jika mereka kekurangan.
            Bukankah semua peluh yang dikeluarkan merupakan bentuk ibadah juga? Segala sesuatu yang diniatkan demi mendapat ridha Allah insyaallah akan berujung manis. Bahkan amat manis. Sebenarnya bahagia itu tak harus selalu kaya. Berbagi juga tak menunggu punya. Setiap orang diberikan kesempatan yang sama oleh Allah untuk melakukan apa pun dengan porsi yang sama.
            Pegawai kantoran tentu lebih tepat membagikan sebagian uangnya untuk orang yang membutuhkan. Pedangan cilok keliling juga memilki kesempatan yang sama untuk membagikan hartanya misalnya saja seperti yang sudah saya sebutkan, membagikan sedikit ciloknya pada anak-anak yang mungkin sudah merengek namun orang tua enggan sebab tak memiliki uang. Ada orang yang berbagi dengan membantu membersihkan paku di jalan. Pengusaha tentu lebih layak membantu membuka lapangan pekerjaan. Seorang guru berbagi ilmunya, membagi manfaat daam dirinya dengan mencerdaskan anak bangsa. Ah, semua sederhana saja. Tak selalu uang yang menjadi acuan.
            Ketika seseorang merasa hidupnya amat berat, seolah dialah yang paling sengsara, mungkin saja dia sedang salah mengartikan hidupnya. Memang kita tak sedang berada di posisinya, namun orang yang berada di bawahnya justru lebih bersyukur memaknai hidup.
            Ternyata bahagia itu bukan datang dengan sendirinya. Namun justru harus diciptakan. Bersyukur termasuk salah satu alasan orang bisa menjadi bahagia. Sebaliknya, jika terlalu sering mendongak ke atas, menatap yang sudah melesat tanpa mau bersusah-susah dan tersungkur di bawah, maka sudah bisa dipastikan, ujungnya memaksa tanpa mengerti bagaimana menghadirkan kebahagiaan dalam hidup.
            Orang bilang nasibnya amat baik, namun justru dia sendiri tak merasakannya. Mungkin ada yang salah dalam hidupnya? Apakah dia sudah menafkahi keluarganya dengan uang halal? Apakah dia berbaik hati kepada orang tua? Apakah dia selalu bersyukur pada Allah atas setiap sedikit dan banyaknya rezeki yang diterima?
            Silakan dijawab di hati masing-masing, ya. Hehe. Bagi saya sendiri, bahagia memang tak selalu harus menghadirkan dunia. Memang, siapa pun akan senang jika memiliki harta. Namun lihatlah, banyak orang yang kaya tapi justru tak bahagia. Sebab kurang berkah, sebab banyak harta yang didapat dengan cara yang tidak halal. Semua itu akan menggerus kebahagiaan seseorang. Yang awalnya jaya, lama-lama merana.
            Lalu bagaimana menciptakan bahagia dalam kehidupan kita?
1.      Jadikan Allah sebagai satu-satunya alasan kita melakukan sesuatu. Entah bekerja atau pun mendidik anak-anak.
2.      Bersyukur atas rezeki yang banyak atau pun sedikit. Percaya bahwa setiap rezeki sudah ditakar dengan dosis yang pas, tidak akan tertukar seperti salinan resep di rumah sakit yang kadang terbawa pasien lain.
3.      Lebih baik sedikit, tapi halal dan akhirnya berkah ketimbang banyak namun mengambil hak orang sehingga membuat hidup tak berkah. Rawan stress dan masalah. Tapi, lebih baik lagi jika banyak, halal dan berkah. Akhirnya lebih banyak pula yang bisa dibagi dan membuat bahagia dalam hati. Bukankah bahagia sesungguhnya ketika kita bisa melihat orang lain bahagia juga?
4.      Jangan sirik! Sirik tanda tak mampu. Selalu sibuk melihat kebahagiaan orang lain sampai lupa menciptakan bahagia di dalam rumahnya sendiri. Lebih buruknya sampai dengki.
5.      Hidup bukan sebuah perlombaan. Tak harus mengejar tetangga sebelah yang sudah punya mobil sampai-sampai rela ambil pinjaman ke bank. Melupakan riba, “yang penting cepat punya mobil. Setiap hari telinga panas, tetangga sebelah menghidupkan klaksonnya tiap pagi.” Aih, alih-laih mau bahagia justru terjerembab dalam beberapa kesalahan sekaligus!
6.      Hiduplah apa adanya. Orang dengan harta triliunan bukan berlebihan jika punya mobil sepuluh biji. Namun, orang yang penghasilannya hanya cukup buat bayar tagihan kontrakan tentu berlebihan kalau ingin membeli mobil. Walaupun hanya satu. Rumusnya mudah saja, ya. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda.
7.      Ini yang tak kalah penting. Tunaikan kewajiban. Sudah punya rumah, namun beralih menginginkan kendaraan roda empat. Padahal, dia belum juga berangkat haji. Maka dahulukanlah berangkat haji, bukan umrah, ya. Haji itu sebuah kewajiban. Maka insyaallah selanjutnya dimudahkan. Kalau belum punya? Daftar tabungan haji. Menabung sedikit demi sedikit. Itu sudah membuktikan kalau kamu memang benar-benar berniat menunaikan kewajiban. Sebab tabungan haji pada akhirnya memang akan dipakai untuk berangkat haji, tak boleh diambil untuk keperluan lain.
8.      Buang kebencian. Maafkan kesalahan orang lain. Bahagia akan terhalang jika hati masih terganjal perih pada orang lain. Minta maaf dan maafkan.

Kamu bisa menambahkan lagi, bagaimana mencipta bahagia dalam kehidupan. Ingat, rumput tetangga memang terlihat lebih hijau, namun kalau didatangi warnanya tak jauh berbeda kok dengan yang di rumah. Hehe. Kadang ingin bahagia seperti orang lain namun rupanya belum mau menderita seperti mereka. Itu nihil, ya. Ah, sudahlah, mari ciptakan bahagia. Datangkan keberkahan.
Saya sudah pasti banyaak sekali melakukan kesalahan. Membuat orang benci dan bahkan ingin melenyapkan saya dari hidup mereka. Ah, jangan dong, ya? Hehe. Mari serius, saya ingin meminta maaf kepada semua orang yang pernah menjadi bunga dalam hidup saya, lantas layu karena kesalahan saya.
      Saya berharap ada banyak hati yang mau membukakan pintu maafnya. Kesalahan saya memang amat banyak, bahkan mengalahkan buih di lautan lepas. Ucapan yang menusuk, sikap yang buruk dan beberapa yang saya lakukan entah disengaja atupun tidak. Saya benar-benar menyesali setiap detail dari kenangan suram itu.
Jika saya pernah membuat orang merasa tersakiti, maka saat ini saya ingin menyembuhkannya meskipun mustahil. Kepada banyak orang yang sudah sangat baik membantu saya, mewujudkan cita dan mimpi saya, kepada sahabat yang menjadi sebagian dari tawa bahagia, kepada pasangan hidup saya, yang karenanya saya merasa sangat beruntung. Walaupun di antara kami tak selalu sempurna. Kadang terdapat cela, namun saya ingin mencipta bahagia bersamanya. Allah, sudah sangat baik memberikan anak-anak yang manis dan pintar, barakallah fiikum. Semoga kakak yang lumayan galak kayak emaknya mau memaafkan setiap jengkal dari waktunya yang sering saya abaikan. Adik, tetap tersenyum, ya. Bunda menyayangi kalian.
      Bulan ramadhan sudah mendekati awal. Semoga perjalanan berikutnya benar-benar membawa kebaikan. Dan saya berharap bisa melumpuhkan kejelekan yang tertanam di dalam hati. Maafkan, buat orang-orang yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Saya merasa sudah banyak menyakiti. Membuat luka hati menganga sempurna. Semoga masih ada maaf yang diterima…maafkan. 
Note: Menulis tentang kebaikan bukan berarti penulis sudah minum obat anti dosa. Namun justru sebagai alarm untuk mengingatkan diri sendiri. 

0 comments:

Post a Comment