Sahabat Dalam Luka



            “Kita berbeda arah. Langkah kita tak satu tujuan.”
        Ulfah beranjak lantas meninggalkan hening. Tersisa hanya aku. Terpaku sambil melihat punggung sahabat karibku menghilang di ujung jalan. Secepat itukah dia memutuskan? Bukankah selama ini kita berjalan beriringan? Tak sedetik pun aku rela meninggalkannya di belakang. Jika suatu ketika dia terjatuh atau pun sebaliknya, tangan kami saling menarik. Kembali berdiri. Menatap langit yang sama dan berjuang meraih mimpi yang selama bertahun-tahun kami catat dalam ingatan.
            Mataku berkabut. Butiran bening meleleh meninggalkan basah di kedua pipi. Ulfah. Gadis berjilbab dengan kemeja birunya datang dengan tergesa. Siang ini, kami biasa bertemu usai kuliah. Di depan fakultas ekonomi, dia menyapa hambar.
            Tak pernah terbersit curiga ketika dia menarik napas dan menatapku lekat. Ada apa, teman? Aku tak pernah melihatnya seserius itu. Bola matanya terpejam sebelum akhirnya memutuskan hubungan dengan alasan yang bagiku sangat tak masuk akal.
            Gemuruh di dadaku berjejalan. Menciptakan sesak yang tiba-tiba berubah isak. Aku ingin menjelaskan banyak hal. Namun dia, gadis yang sudah kuanggap saudara memilih segera menghilang. Tak memberi kesempatan sedetik pun untukku bicara. Andai dia tahu, sebuah kebenaran tak hanya datang dari satu arah. Namun beberapa menawarkan kebenaran yang sama. Haruskah kami menyelisihinya?

sumber

            Aku menyesalkan semua sikap diamku selama ini. Karena khawatir menyinggung, maka aku selalu mengalihkan semua pembicaraan. Tak ingin bicara soal aku atau pun perubahan yang sudah kujalani sejak sebulan ini. Dia tak salah, akulah yang menanggung beban sebab merasa dia belum siap menerima kenyataan ini.
            Bagaimana bisa dia menikamku dengan rasa sakit yang begitu dalam? Aku kehilangan sahabat sekaligus saudara. Bagaimana esok ketika tatapan kita beradu? Bukankah kita selalu berangkat ke kampus bersama meskipun beda fakultas? Lalu bagaimana aku menegurnya jika detik ini dia memilih menajauhiku?
            Aku akan berdosa jika mendiamkan. Tapi, Ulfah pasti belum siap mendengar semua penjelasanku. Lekas kukemas tangis. Beranjak menuju masjid. Adzan ashar sudah berkumandang. Aku harus segera menceritakan kegelisahanku pada-Nya!
***
            “Nina, sekarang kamu sudah berubah, ya? “ Tanya Ulfah heran. Matanya terbeliak menatapku dari ujung kepala hingga kaki.
            Aku menepis kalimatnya, “nggak ada yang berubah. Aku hanya merasa lebih nyaman dengan pakaian seperti ini, “sanggahku sambil menggamit lengannya. Mengajaknya pergi dan mengalihkan topik.
            Rupanya Ulfah masih penasaran dengan perubahan yang terjadi padaku. Beberapa kali dia menanyakan hal yang sama. Berulang kali pula aku menjawabnya dengan maksud sama. Aku ingin dia mengerti, bahwa aku tetaplah sahabatnya yang dulu. Berbeda dalam cara berpakaian tentu bukan halangan dalam persaudaraan kami.
            “Kamu nyaman pakai jubah seperti ini? Hijabmu juga jauh dari kesan modern.”
            Entah Ulfah berusaha mencari sebuah kebenaran yang aku sembunyikan atau mulai merasa risih dengan penampilan baruku. Tentu aku merasa baik-baik saja dengan pakain menjuntai serta hijab yang terjulur menutupi dada. Bagiku bukan masalah jika cara berpakaianku sedikit berbeda dengan teman-teman kampus lainnya. Aku tidak sedang menanggalkan pakaian, bukan? Justru aku sedang melindungi diriku sebagai sebuah bentuk kepatuhan.
            “Aku masih Nina yang dulu. Nggak usah heran begitu,” sahutku kemudian sambil melempar seulas senyum.
            Ulfah mengangkat bahu. Tangannya mengikat kedua ujung jilbab hingga menjuntai di atas dada. Aku ingin menegurnya namun keberanianku belum siap sepenuhnya. Aku takut dicap sok alim. Bukankah dulunya kami sama? Aku pun sering memakai kemeja dengan lengan yang dilipat hingga siku. Memakai kaos seukuran tubuh. Hijabku pun jauh dari kata syari. Jika sekarang aku bicara padanya tentang sebuah kesalahan yang mungkin saja tidak dia sadari, bisa jadi Ulfah menerima atau malah lebih buruknya menjauhiku. Dan kemungkinan kedua membuatku enggan bicara.
            Aku membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu tumbuh dan subur dalam benak Ulfah. Pertanyaan yang mungkin seketika menganggapku aneh bahkan mulai ikut aliran sesat. Sebenarnya apa yang salah dengan hijab syari? Bukankah menutup aurat adalah sebuah kewajiban? Hijab melindungi seorang wanita dari pandangan buruk dan berbagai fitnah. Sebab berhijablah wanita tidak akan jadi pusat perhatian. Bukan malah sebaliknya.
            Sebab alasan itulah aku berubah. Kajian-kajian islam yang aku ikuti bersama kakak sulungku membuatku semakin yakin akan sebuah pilihan yang menurut sebagian orang dianggap aneh dan jauh dari kesan modern. Entah kurang gaul atau sok alim. Begitulah beberapa kalimat yang sering kudengar. Seperti kalimat Ulfah yang diam-diam menyayat.
            Siang itu pun Ulfah datang dan mengatakan tak ingin lagi melanjutkan persahabatan. Aku yang tak menduga sebelumnya merasa amat tercekat. Kalimat singkat namun menunjukkan kecewa. Matanya berkaca. Dia pergi karena kami berbeda. Beda dalam sebuah pandangan tentang agama yang sama-sama kami teguhkan sejak lahir.
            Jika bisa, aku ingin mengatakan, perbedaan di antara kami bukanlah sebuah alasan untuk bermusuhan. Aku tak membenci orang-orang yang tidak mengenakan hijab. Entah karena mereka tak mengerti soal kewajiban atau pun terlena dengan perubahan zaman. Sama sekali tak terbersit rasa kesal ketika melihat teman-teman yang hijabnya masih setengah-setangah. Buka tutup di waktu yang mereka kehendaki. Apa urusannya denganku?
            Aku hanya berkewajiban menyampaikan. Sebab dakwah melekat pada setiap muslim. Mengajak pada kebaikan dan memberikan pilihan sepenuhnya. Dia boleh saja menerima atau pun menolaknya. Masyaallah, begitu sulitnya menyampaikan sebuah kebenaran. Zaman semakin memesona setiap makhluknya.  Menariknya dalam pusaran. Sedikit saja salah melangkah, terjerembablah dalam kegelapan.
            Ulfah, tidak seharusnya kita memperdebatkan perbedaan. Kita masih sama-sama shalat ketika adzan berkumandang. Birunya langit pun masih bisa kita nikmati bersama. Andai saja kamu memberiku satu kesempatan. Aku hanya ingin mengatakan, kita akan tetap jadi saudara seburuk apa pun aku atau pun dirimu.
            Mataku tiba-tiba terasa panas. Segera kukenakan kaus kaki. Bulir bening jatuh membasahi tangan. Seluruh resahku luruh. Berserak dan sulit disatukan. Allah, baru saja aku melangkah ke bibir pantai. Ombak besar sudah menghadang. Namun, perih hari ini tak akan menggoyahkan. Kulangkahkan kaki meninggalkan pelataran masjid sambil menyembunyikan tangis yang luruh bersama gerimis.

0 comments:

Post a Comment