Petualangan Alby di Ladang Popcorn

April 14, 2017


Saya sering menulis cerita-cerita pendek untuk si kakak. Dijadikan buku dan ditambahkan gambar. Kakak girang banget padahal ceritanya sederhana saja. Bukunya dibawa ke sekolah dan dia akan membacakan untuk temannya atau malah ibu guru yang membacakannya...^^

Ceritanya ngayal tingkat tinggi ya, mom..hihi. Si kakak suka ketawa-ketawa sendiri kalau baca buku ini. Saya bahagia kalau kakak menyukai apa yang sudah saya buat. Kakak ini senang banget sama sesuatu yang berau handmade gitu. Dulunya saya sering bebikin seperti buku kain, rumah-rumahan dari kardus bekas. Sekarang, malah kakak yang demen banget bikin sesuatu dari barang bekas. Ternyata anak-anak memang peniru ulung. Nggak diajarin pun sudah praktek aja. Suatu kali dia pernah  membuat kotak surat 'marah' dari kardus dibantu ayahnya. Kotak itu berisi surat permintaan maaf atau pun perasaan dia saat marah. Lucu sekali saya melihatnya.

Salah satu surat Alby berisi, "Ayah, terimakasih sudah lem hati Alby." dihiasi gambar lem UHU pula...hehe. Polosnya anak-anak...jadi awalnya dia marah karena ayahnya tidak menanggapi saat diajak bermain. Saya tanya perasaan dia. Gimana rasanya dicuekin ayah? Katanya hati kakak pecah. Oh, no! hehe. Terus ayah minta maaf dan mengajak dia jalan-jalan. Makannya hatinya udah nggak pecah lagi..udah dilem sama ayah...^^

Kita mulai ceritanya.....

Dipagi yang cerah, matahari bersinar menghangatkan bumi. Suara ramah burung-burung menyapa. Sekawanan awan saling berkejaran. Angin sepoi membelai dengan lembut. Sungguh ini hari yang sangat indah.
Di bawah pohon kelengkeng berdaun rindang, seorang anak laki-laki sedang terlelap. Wajahnya lucu. Rambut hitamnya sesekali bergerak diterpa angin.
Anak laki-laki berkaos oblong itu bernama Alby. Tubuhnya mungil. Ia sering terlihat di bawah pohon besar berdaun lebat itu usai pulang sekolah.
Ini hari sabtu. Sekolah libur. Karena itu, tak heran jika ia sudah nampak di sana sejak pagi tadi.
Biasanya, dia ditemani oleh beberapa sahabatnya. Hanya saja, kali ini, Alby nampak sendiri.
Beberapa menit yang lalu ia baru saja tiba. Karena suasana yang sepi, akhirnya dia memilih merebahkan tubuhnya di bawah pohon. Sesekali ia menengok ke seberang jalan. Barangkali Ilyas_temannya_menyusul.
Namun, karena terlalu lama menunggu, akhirnya ia terlelap.
Pohon kelengkeng itu berdaun kecil. Buahnya terlihat menyembul dari rimbunnya daun. Alby bisa melihat dengan jelas sambil membayangkan betapa manisnya buah kelengkeng ketika sudah masak.
Pohon itu terletak di halaman rumahnya. Tidak jauh dari sana, ada kebun jagung yang sudah siap panen. Itu kebun milik Ayahya. Jagung-jagungnya terlihat besar. Beberapa hari lagi, kebun itu akan dipanen dan hasilnya akan dibawa ke pasar.
Matahari mulai merangkak naik. Mata Alby sedikit menyipit diterpa kilaunya. Pagi yang sejuk pun berubah menjadi siang yang terik. Namun, rupanya temannya belum terlihat juga hari itu.
Keringatnya mengalir melewati kening. Sesekali Alby menyeka dengan telapak tangannya. Panasnya siang itu tidak seperti biasanya.
Alby sempat terkaget ketika tiba-tiba ada sinar semacam kilat jatuh tepat di kebun jagung miliknya.
“Benda apa yang terjatuh?” pikirnya dalam hati.
Dengan langkah gontai sambil menahan sisa kantuk, Alby berjalan menuju kebun jagung. Terlihat ada kepulan asap. Awalnya hanya sedikit dan lama kelamaan menjadi banyak.
Sontak Alby berteriak memanggil Ayah dan Ibunya. Dia pun terus berlari menghampiri kepulan asap. Panas sebab api yang terlihat menyala membuatnya urung mendekat.
Alby justru berbalik. Berusaha mencari air supaya bisa memadamkan api. Namun sayang, api sudah menghabiskan kebun jagung. Melahap semua jagungnya yang siap panen.
Alby tertunduk lesu. Beberapa saat kemudian, suara letupan terdengar. Disusul oleh letupan yang semakin terdengar riuh. Saling bersaut-sautan.
Alby terbelalak menatap kebun jagung yang kini sudah berubah menjadi ladang popcorn.
“Masyaallah! Itu popcorn?” teriak Alby hampir tak percaya.
Dia berlari dan mengambil beberapa buah popcorn yang bertebaran di tanah. Memakannya.
“Ini sungguh popcorn!” sahutnya bahagia.
Kebun jagung itu kini dipenuhi oleh tumpukan popcorn. Alby berlari lalu menjatuhkan badannya di atas tumpukan popcorn.
“Bagaimana ini bisa terjadi?”
Belum usai rasa kagetnya, tiba-tiba, di sela-sela tumpukan popcorn itu muncul sesuatu. Ia bergerak. Membuat hati Alby takut.
AAAAAAAAAA!!!!!
Alby berteriak ketika sebuah makhluk aneh muncul di hadapannya.
“Alien!!” teriak Alby.
Bagaimana bisa ada alien di kebun jagungnya? Bagaimana jika alien itu menyakiti dirinya?
Alby semakin takut. Namun, ia tak bisa berlari sebab tiba-tiba kedua kakinya tak bisa bergerak. Kaku.
“Baa bii buu.” Suara alien itu terdengar aneh. Alby tak mengerti.
“Apa yang kamu katakan?” tanya Alby memberanikan diri.
Sejenak alien itu tampak berpikir. Lalu menunjuk ke arah Alby. Sinar terang muncul dari jari telunjuknya. Membuat kepala Alby sedikit terhuyung.
“Maafkan jika aku menakutimu.” Kata alien itu. Sekarang Alby mengerti dengan bahasa makhluk asing itu. Alien itu sudah membuatnya memahami bahasa yang tadinya terdengar sangat aneh itu. Namun, ketakutannya belum hilang.
“Aku terdampar jatuh di bumi. Pesawatku rusak. Aku butuh bantuanmu.”
Alby melongo. Rupanya itu alien yang terdampar di bumi.
“Aku akan membantumu.” Jawab Alby dengan berani.
“Terima kasih. Kamu baik sekali.” Ucap alien.
“Namaku Alby,” ucap Alby sambil mengulurkan tangan.
“Namaku Pipo.” Jawabnya sambil tersenyum.
Untuk pertama kalinya, Alby bisa melihat alien. Wajahnya bulat lonjong. Di atas kepalanya terdapat sebuah antena menyala. Tubuhnya kecil. Jalannya seperti robot. Yang paling aneh adalah kedua matanya yang besar dan lebar. Bola matanya pun berwarna hijau terang.
Pipo menarik tangan Alby. Mereka berlari di antara tumpukan popcorn. Sesekali Alby mengambil popcorn renyah itu dan memakannya. Itu sungguh sangat lezat!
“Pipo, bagaimana aku bisa membantumu?” tanya Alby ketika melihat pesawat luar angkasa itu penuh dengan asap.
“Mudah saja, aku butuh air. Karena mesin pesawatku terlalu panas.”
Alby mengangguk dan segera berlari menuju sungai yang terletak di pinggir kebun jagung. Ia mengambil sebuah kaleng. Satu kaleng berisi air dia bawa dengan pelan-pelan.
Pipo meraih kaleng itu lalu membuka bagian belakang dari pesawatnya. Pipo memasukkan air ke dalamnya. Seketika pesawat itu bergerak naik dan berputar cepat.
Alby hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat. Pipo mengulurkan tangannya dan berterima kasih kepada Alby. Beruntung pesawatya tidak terbakar dan hancur. Sehingga ia bisa segera kembali ke planet di mana ia tinggal. Namun, panas akibat jatuhnya pesawatnya sudah mengubah kebun jagung Alby berubah menjadi tumpukan popcorn yang lezat.
“Terima kasih ya, Alby.”
“Sama-sama, Pipo. Aku senang bisa berteman denganmu.” Ucap Alby sambil tersenyum lebar.
Pipo melompat ke dalam pesawatnya. Sedetik kemudian, pesawat itu sudah meluncur ke langit tinggi. Menghilang.
Alby tersenyum sambil melambaikan tangan.
“Alby! Alby!”
Tiba-tiba tubuhnya bergerak. Matanya terbuka. Di depannya, wajah ilyas dan Fathi sudah tersenyum lebar. Rupanya kedua sahabatnya sudah menunggu sejak tadi.
Tapi, ke mana ladang popcornnya tadi? Apakah Alby hanya bermimpi? Alby langsung duduk, menatap ke arah kebun jagung yang masih sama seperti sebelumnya. Popcornnya tak tampak sama sekali.
“Kamu kenapa, By?” tanya Ilyas.
“Nggak. Aku hanya tertidur. Mungkin barusan aku hanya bermimpi.”
“Mimpi apa? Ayo cerita pada kami.” Sahut Fathi penuh semangat.
Alby hanya tersenyum. Dia merasa ada yang aneh di tangannya. Matanya terbelalak ketika tiba-tiba ada beberapa popcorn di tangannya. Itu benar-benar popcorn!
Alby tersenyum sambil memakan popcorn yang entah dari mana datangnya. Mungkin, suatu saat nanti, Pipo akan kembali mengunjunginya. Mungkin saja.

No comments:

Powered by Blogger.