Keliling Jakarta

April 23, 2017

Sejak tinggal dan menetap di Jakarta, saya masih belum bisa menghilangkan rasa takut serta pengecut di dalam diri. Pindah ke ibu kota bukannya baru seminggu yang lalu namun sudah bertahun-tahun. Sudah hampir sepuluh tahun. Tapi, rasanya masih sama saja. Masih nggak berani jalan-jalan di luar rumah. Parah!

Entah karena saya lebih suka di rumah atau memang karena didikan orangtua yang membuat saya penakut jika harus pergi-pergi sendirian. Yang jelas, saya hanya berani naik angkot jika ke pasar karena terpaksa karena jaraknya sangat dekat dari rumah. Jika masih bisa ditunda, saya memilih pergi dengan suami dihari libur. Kemana-mana juga lebih suka naik ojek langganan. Belum berani pakai gojek apalagi grab dan sejenisnya walaupun harganya yang sangat murah. Intinya, saya ini lebih menikmati sibuk di rumah ketimbang harus pergi tapi resah dan gelisah karena khawatir nyasar..huhu

Sejak menikah, suami saya selalu berusaha mengajarkan saya bagaimana jika situasinya mendesak. Misalnya saya harus ke rumah sakit sendirian sedangkan suami sedang bekerja atau tak berada di dekat saya. Maka saya hafal sekali, jika kami pergi, suami menunjukkan beberapa jalan yang bisa saya ingat-ingat. Saya diajarkan bagaimana mengurus asuransi ketika harus ke dokter. Jalur-jalurnya ditunjukin. Suami juga sering menawarkan jika saya bersedia pergi ke tempat yang saya mau. Sayangnya, saya nggak sanggup. Buat saya, mengepel dan mencuci segunung di rumah jauh lebih menyenangkan ketimbang jalan-jalan tanpa dia. Hihi. Ternyata saya sampai lupa kalau sebenarnya saya sudah bukan anak baru lagi di Jakarta.



Yah, kemajuan sedikit. Berani ke rumah sakit sendiri, berani ke pasar tanpa suami, berani ke rumah ibu yang berbeda komplek tanpa suami. Jelas yah, jaraknya aja bisa ditempuh dengan jalan kaki. Hehe.

Ketika saya mengatakan ini pada teman-teman di sini, mereka semua nggak percaya dan merasa saya sedang berbohong. Mereka nggak tahu, saya sampai membatalkan rencana pergi bareng naik kereta listrik bareng teman-teman Alby dan guru-guru karena saya takut dan tak pernah naik kereta itu. Akhirnya kakak yang kebetulan sakit waktu itu (entah sakit karena saya atau apa hehe) batal jalan-jalan bareng teman-temannya.

Dan ayah menggantikannya di hari lain. Kami sekeluarga diajak naik kereta bareng dari stasiun pondok kopi menuju stasiun kota. Yeay! Nggak betah juga sih saya jalan-jalan terlalu lama. Mengeluh dan grogi waktu naik kereta. Hihi. Jangan tertawakan saya, lho. Ini serius!

Saya sempat berpikir, kita akan naik kereta listrik dari stasiun pondok kopi ke stasiun kota lantas langsung pulang lagi. Jadi acaranya kan hanya naik kereta. Nggak tahunya, ayah ngajakin ke kota tua juga yang letaknya hanya menyeberang dari stasiun. Hihi. Lagian kurang kerjaan juga, ya kalau hanya bolak balik naik kereta. Kebangetan saya ini.

Kami pun jalan-jalan dan foto-foto sepuasnya di kota tua. Waktu itu terik sudah menyengat. Ayah ngajakin naik sepeda, tapi saya manyun. Sayakan nggak bisa naik sepeda…Huhu. Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, saya baru tahu itu yang namanya kota tua. Sepertinya saya jadi jauh lebih tua ketimbang dia. Haha. Saking kupernya.

Selesai dari kota tua kami pun keluar dan naik bus tingkat gratis. Bus itu akan mengantar kita ke beberapa tempat wisata di sana. Misalnya saja ke monas atau masjid istiqlal. Setelahnya kita juga bisa menaikinya lagi untuk kembali ke stasiun kota. Dan wownya, supirnya perempuan yang nggak lebih tua dari saya. Keren banget! Mereka juga ramah-ramah. Sampai-sampai nawarin mengambil foto kami bersama di bis.

Bisnya bersih. Hanya saja kita harus rela mengantri serta menunggu. Anak-anak yang sudah mulai capek pada akhirnya kembali ceria. Senang sekali jalan-jalan hari itu. Karena hampir dhuhur, kami pun memilih turun di masjid istiqlal. Sholat dan istirahat sebentar. Masjid pun ramai sekali. Hal yang paling sering terjadi dan membuat nggak nyaman itu saat ke kamar mandi. Sangat tidak terawat dan mungkin juga beberapa yang memakainya kurang menjaga. Jadinya saya yang orang suka jijik jadi merasa nggak nyaman untuk ke kamar mandi.

Selesai dari istiqlal kami pun segera kembali ke stasiun kota. Nggak berlama-lama karena gerimis sudah rintik siap mengguyur kami yang sudah kelelahan. Ayah juga khawatir kalau pulang nanti akan bersamaan dengan jam pulang orang-orang yang bekerja.

Karena belum makan siang, sampai di stasiun kota kami pun mampir ke restoran cepat saji. Makan sebentar dan segera pulang. Memang, yang membuat lama saat menunggu bis menuju stasiun kota. Karena beberapa bis yang ada ternyata beda tujuan. Akhirnya sore juga pulangnya. Kereta penuh. Berdeskan. Dan sudahlah, saya nggak pengen naik kereta listrik lagi. Hihi. Masih aja, ya…hehe

No comments:

Powered by Blogger.