Dibalik Layar Cerbung 'Aisha'



            Cerita bersambung berjudul Aisha sebenarnya awalnya bukan cerita bersambung yang disengaja. Itu hanya sebuah pembuka dari salah satu cerita naskah yang baru saja saya tulis. Karena masih menerka-nerka konsepnya seperti apa, akhirnya dirubah dan dibuatlah cerbung yang terburu-buru tanpa premis.
            Hal yang paling terlihat di cerita itu tentu tentang ketidaksiapan soal latar. Di sana banyak menyebutkan musim semi dan bunga-bunga bertebaran namun saya nggak menyebutkan tempatnya. Hihi. Sebenarnya pengennya berlatar di Cordoba gitu, tapi informasinya belum siap. Aih, pede banget cepet-cepet posting. Insyaallah nanti segera dikoreksi.
            Kedua adalah jalan cerita yang dipaksakan. Kalau mau berlatar di luar, mestinya saya juga harus punya banyak informasi terkait budaya serta kebiasaan di sana. Yang masih aneh juga soal ibu dari Uta yang jadi tukang cuci di rumah Aisha. Itu lebih mirip di Indonesia, ya. Hehe. Maksa banget.
            Selanjutnya, tokoh Uta itu awalnya ingin saya jadikan seorang perempuan juga. Sayangnya saya malah membelokkannya jadi laki-laki.
            Ternyata menulis sebuah cerita memang tak selalu harus pergi ke tempat yang kita ceritakan. Bisa saja kita mempersiapkan dengan berbagai artikel serta informasi di internet. Ketika latarnya diceritakan dengan detail, maka pembaca pun bisa terbawa ke dalamnya. Seolah diantar ke tempat yang kita ceritakan. Hanya saja, memang butuh waktu untuk mempelajari semua itu. Dan saya sudah terburu-buru melanjutkan cerita tentang ‘Aisha’. Akankah Aisha dapat bertemu kembali dengan Uta? Nantikan kisah selanjutnya…*Tutup laptop sambil mengerlingkan mata. Eaaa…

0 comments:

Post a Comment