Akhir Dari Sebuah Cerita



Pemilihan gubernur saat ini benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Banyak sekali menguras pikiran dan air mata *elap keringet dulu. Saya pun yang termasuk bukan siapa-siapa akhirnya ikut pusing juga. Siapalah saya..hehe.

Kemaren, 19 April 2017. Saya beserta rombongan sirkus (baca anak-anak tercinta) datang ke TPS yang berlokasi di lapangan dekat rumah. Sayangnya, kalau di tempat saya, lapangan yang semestinya untuk tempat bermain yang aman dan nyaman buat anak-anak, justru dijadikan lahan parkir. Bahkan saat pencoblosan pun, mobil-mobil masih penuh di sana. Hanya disisakan sepetak saja untuk tenda TPS. Malang nasib saya harus merasakan ini. Hihi.

Sebenarnya sudah banyak juga warga yang protes. Namun nyatanya yang pakai jauh lebih berkuasa ketimbang yang menolak. Alhasil masih jadi parkiran saja sampai detik ini.

Oke, balik lagi. Pagi itu, tepat pukul setengan sepuluh saya berangkat. Di lokasi saya menemukan fakta yang tak biasa dan nggak ada saat pilkada putaran pertama. Ada seorang polisi dan tentara duduk di posko. Sebelumnya saya pun sempat mendengar beritanya di salah satu stasiun televisi. Mau disiapkan pengamanan yang lebih daripada pilkada sebelumnya untuk mengantisipasi adanya kejadian yang tidak diinginkan seperti sebelumnya. Misalnya ada yang memaksa menggunakan hak pilih padahal nggak memenuhi syarat.

Alhamdulillah, selesai memilih calon gubernur yang seharusnya memang dipilih oleh muslim seperti saya. Saya muslim, saya pilih pemimpin muslim. Eaaa..ketahuan milih siapa, ya? Hihi.

Menjelang siang masih disibukkan dengan kegiatan di rumah. Beberes dan mengurus adek yang demam sudah dari hari sebelumnya. Jadi, nggak niat menghidupkan televisi. Sore-sore justru bebikin onde-onde pelangi sama paksu. Karena ada ubi yang tersisa, jadi segera diolah sebelum berakar hingga ke hati terdalam.

Cerita onde-onde malah nyasar ke ubi? Iya, onde-ondenya diisi ubi soalnya. Hihi. Paksu bagian mengisi dan membulatkan. Saya bagian menggoreng. Semakin sore, hujan gerimis mulai tedengar rintiknya. Suami menghidupkan televisi. Dan masyaallah, paslon anu diunggulkan dalam hitung cepat.

Saya yang sekali lagi bukan siapa-siapa, tiba-tiba terharu aja. Sebab cerita dibalik semua itu kenyataannya nggak semudah saat mendengar mereka menang. Saking hebohnya perasaan. Saya tak henti-henti bersyukur dalam hati. Mulut saya pun nyerocos ke mana-mana. Didengerin dengan sangat tidak antusias oleh paksu. Haha.

Menjelang maghrib, saya mulai memasukkan cucian kotor ke dalam mesin. Airnya sudah sepertiga. Detergen dimasukkan. Siap diputar. Aneh! Sodara-sodara..aneh bingiiits (ngikutin pak Anis). Itu mesin nggak muter lho. Padahal kemaren baru saya pakai nyuci juga. Hiks. Paksu cuma ngelihatin. Saya lemes.

Sampe saya putar alat pemutar di dalamnya. Tetap saja diam. Hiks. Masa saya harus nunda mencuci? Kalau nyuci pakai tangan bisa nggak kelar karena langitpun semakin gelap. Adzan maghrib segera berkumandang. Tiba-tiba saya ingat sesuatu.

Ya, awalnya saya ngecharge handphone di tempat saya biasa nyolokin mesin cuci. Alhasil, karena belum penuh, akhirnya saya biarkan. Ternyata, itulah sebab kenapa mesin cuci saya nggak berputar! Belum dicolokin…Hihihi…Parahnyaaa…

Paksu ketawa sampe pengen nangis saking ngeledeknya. Hihi. Saya juga sampe nangis saking malunya..hihi. Udah, ah! Tutup muka dulu.

Mungkin karena terlalu senang dan kaget dengan kemenangan paslon anu, jadinya saya nggak berpikir dengan benar. Padahal, biasanya juga gitu, sih. Hihi.

Saya ucapkan selamat kepada pak Anis dan pak Sandi. Barakallah, semoga amanah dan bisa membawa Jakarta menjadi kota yang nggak hanya maju kotanya namun juga sejahtera masyarakatnya...Amiin.

0 comments:

Post a Comment