Sunday, April 30, 2017

Lomba Bercerita : Kisah Gadis Penjual Susu



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ibu guru yang saya hormati, ayah dan bunda serta teman-teman yang saya sayangi.

Alhamdulillah, hari ini kita masih diberi kesehatan oleh Allah sehingga bisa berkumpul di sekolah kita tercinta. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

sumber


Teman-teman, hari ini saya akan bercerita tentang kisah Khalifah Umar Bin Khattab dan gadis penjual susu.

Khalifah Umar adalah sahabat Rasulullah yang terkenal jujur dan adil. Beliau menjabat Khalifah di kota Madinah. Khalifah Umar biasa berpatroli secara diam-diam bersama asistennya untuk mengetahui kondisi rakyatnya.

Khalifah Umar membuat peraturan untuk para pedagang agar berlaku jujur dan adil. Salah satunya melarang mencampur susu dengan air.

Suatu malam saat patroli, tanpa sengaja khalifah mendengar  percakapan seorang Ibu dan anaknya.
Sang ibu berkata pada anaknya, “Anakku, campurkan saja susu ini dengan air agar takarannya lebih banyak.”

Anaknya berkata, “Ibu, bukankah khalifah Umar melarang kita mencampur susu ini dengan air karena itu termasuk curang?”

Sang ibu berkata, “Anakku, tidak apa-apa. Khalifah dan petugasnya tidak akan tahu.”

Anaknya dengan tegas berkata, “Ibuku sayang, tidak pantas kita berlaku curang. Khalifah Umar dan petugasnya memang tidak tahu, tapi Allah Tuhan khalifah Umar dan Tuhan kita maha melihat. Aku tidak mau melakukan ketidakjujuran diwaktu ramai maupun sunyi.” Kata anaknya sambil menangis.

Ibu berkata, “Astagfirullah, maafkan Ibu, Nak.”

Mendengar percakapan ibu dan anaknya, Khalifah Umar menyuruh asistennya menandai rumah itu dan melanjutkan patroli.

Keesokannya Khalifah Umar menyuruh asistennya mencari tahu keadaan ibu dan gadis itu. Ternyata ibu dan gadis penjual susu itu tinggal sebatang kara dan hidup miskin.
Khalifah Umar pun datang ke rumah itu, “Dok…Dok..! Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam,” Ibu itu kaget ketika melihat Khalifah datang ke rumahnya.

Ibu berkata, “Wahai Khalifah, kesalahan apa yang kami lakukan? Jangan menangkap kami karena kami tidak pernah mencampur susu dengan air.” Ucap ibu itu sambil ketakutan.

Khalifah Umar tersenyum dan berkata, “Aku datang untuk melamar putrimu yang jujur.”

Sang ibu kaget dan berkata, “Bagaimana Khalifah tahu?”

“Semalam aku mendengar langsung percakapan kalian. Aku kagum dengan kejujuran putrimu dan bermaksud menikahkannya dengan Asyim, putraku.”

Sang Ibu menangis lalu berkata, “Bagaimana bisa putra Khalifah menikahi gadis miskin?”

Khalifah berkata, “Semua orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanya takwanya.”

Khalifah pun menikahkan keduanya. Mereka hidup bahagia dan kelak dikarunia keturunan sholeh bernama Umar bin Abdul Aziz yang merupakan khalifah yang berhasil membawa islam pada masa kejayaan.

Teman-teman, pelajaran yang bisa kita petik adalah kita harus jujur di manapun berada. Karena Allah maha melihat dan maha mengetahui semua perbuatan yang kita lakukan.

Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang boleh kita berjumpa lagi.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

(Kisah ini saya kemas ketika si kakak dapat tugas lomba bercerita di sekolah. Ceritanya saya tulis dari sebuah film berjudul sama. Jika ingin melihat bisa cari di youtube, ya.)

Saturday, April 29, 2017

Kisah Dibalik Sepotong Roti



Awalnya saya mulai tertarik membuat lebih banyak masakan sejak diagnosa seorang dokter spesialis alergi di rumah sakit Bunda Menteng. Anak-anak katanya alergi dan harus menghindari banyak sekali makanan. Jujur saja, karena saya sudah sangat kewalahan dengan ‘sakit’nya anak-anak yang tak kunjung berakhir, saya pun mencobanya. Walaupun terdengar sangat tidak masuk akal. Sangat aneh dan bertentangan sekali dengan ucapan para dokter di milis sehat. Saya pun mencobanya karena tergelitik dengan beberapa pengalaman orang-orang yang berhasil mencoba diet ini.




Sepulang dari dokter saya mendapatkan vitamin penambah imun seperti imunos sejenisnya. Itu seperti tamparan keras. Allah, saya mengunjungi dokter alergi tapi dia memberikan obat yang saya ketahui sangat bertentangan dengan semua itu.

Pemberian penambah imun itu ibaratnya kita menampar daya tahan tubuh, membangunkannya paksa. Bisa bayangkan setelahnya dia lelah dan habis. Saya pun dengan yakin tak memberikan obat itu. Yang membuat kecewa karena dokter tidak mengkonfirmasi resepnya apa saja. Ya sudahlah, ini jadi sebuah pelajaran berharga buat saya.

Sejak saat itu saya selalu mencari resep makanan yang tidak mengandung beberapa pantangan. Misalnya nggak mengandung susu sapi, jadi ganti yang mengandung protein kedelai. Tepung sebisa mungkin saya ganti tepung beras. Lauk sebisa mungkin pakai daging merah terutama sapi. Ayam pun dilarang. Telur apalagi. Jadi kalau ingat dulu itu, anak-anak cuma makan daging sapi..hehe. Selain itu dibolehkan ikan tawar. Pokoknya menunya muter aja di situ.

Berlanjut dari situ saya pun memutuskan menghentikan diet anak-anak. Karena cukup melelahlan dan sebenarnya nggak masuk akal juga. Rata-rata alergi makanan tidak memengaruhi sistem pernapasan. Kebanyakan akan muncul dalam bentuk ruam di kulit. Sedangkan anak-anak lebih ke saluran pernapasan.

Akhirnya saya memilih tes alergi dengan spesialis alergi di rumah sakit Hermina. Diketahui anak-anak alergi tungau debu. Oke. Semua orang juga pasti alergi dengan debu gatal seperti itu. Riwayat alergi memang kental sekali di rumah. Saya hingga sekarang masih menderita dermatitis atopi. Hilang timbul. Ketika dingin saya selalu mengeluh urtikaria. Bahasa kerennya biduran. Hehe. Hanya saja saya tak suka mengkonsumsi obat minum. Saya hanya minta salep yang aman. Karena males kadang saya lebih suka menggaruknya sampai luka ketimbang mengurangi gatalnya dengan salep. Jangan ditiru..hihi.

Ayah pun memiliki alergi. Dia bisa bersin seharian kalau menghirup debu dan kena udara dingin. Jadi anak-anak dan saya suka sekali tidur di kamar ber-AC. Dan ayah sendirian menyingkir tanpa diminta. Hehe. Kalah pendukung.

Jadi kemungkinan anak-anak punya alergi sangat besar. Disyukuri saja. Alhamdulillah masih sehat dan bisa makan enak. ^^

Jadi semenjak itu saya mengenal cookpad. Setiap kali browsing resep pasti cookpad muncul diurutan pertama. Akhirnya saya download aplikasinya. Lalu sering buka-buka disitu. Lama-lama kebutuhan kakak yang sekolah semakin memaksa saya untuk membuat masakan lain selain biasanya. Karena dia sekolah sampai siang. Kalau bawa bekal nggak suka seperti makanan di rumah. Kalau di rumah dia lahap sekali makan sayur bayam bening dengan ikan sama tempe, di sekolah dia nggak bakalan nyentuh sedikit pun.

Selain itu, teman-temannya pun pasti membawa makanan ringan. Peraturan di sekolah melarang membawa makanan berkadar MSG tinggi seperti chiki, Di larang juga bawa mie instan terlalu sering. Maksimal seminggu sekali. Sedangkan kakak di rumah memang nggak biasa jajan. Paling hanya beli roti. Selebihnya susu cair, jelly dan buah segar.

Lalu saya pun mulai berpikir, sebaiknya saya mencoba membuat sendiri makanan yang kakak suka. Kalau bikin nggak khawatir dengan bahan pengawet dan jelas bahannya. Bukannya anti beli juga sih. Cuma kalau terlalu sering beli juga pasti nggak baik.

Akhirnya percobaan demi percobaan berakhir gagal. Bantet. Keras sekeras hati saya pula…hehe..Tapi yang selalu membuat saya ingin mencoba lagi adalah sifat kaka yang ‘neriman’. Dia nggak mengeluh makanannya nggak enak. Justru girang dan bahagia banget. Ya, akhirnya saya pun merasa harus memperbaiki semuanya. Hingga saat manis itu pun datang. Roti dan donat buatan saya sudah layak dimakan. Hihi.

Senang bukan main rasanya. Akhirnya semua lelah dan letihnya terbayar. Sejak saat itu hingga saat ini, saya pun membuat sendiri roti buat bekal kakak. Kalau dibilang hobi ya bisa saja, tapi walaupun nggak hobi, toh semua ibu juga harus bisa memasak buat keluarga. Entah sempurna ataupun tidak. Itu memang sudah semestinya dilakukan.

Ketika dilakukan dengan senang hati, tentu akan lebih sempurna hasilnya. Kakak pun semakin berkhayal tingkat tinggi. Memanggil saya koki. Meminta saya membuka toko roti. Haduh, sayang…insyaallah, ya. Yang penting di rumah dulu diatasi. Hihi.


Jodoh Pasti Berlalu



“Nunggu apa lagi? Nur nggak akan jadi janda secepat itu, Rid. Lagian baru kemarin dia nikah, masa sudah mau cerai?” si Mbah rupanya menyadari keresahanku. Aku bergeming. Hanya menunduk dan memerhatikan jemari kaki yang sengaja kugerakkan naik turun. Rupanya tak mudah mengusir ‘rasa’ yang terlanjur mampir dan memilih tinggal. Jika bisa, aku ingin melenyapkan sebagian ingatan supaya tak ada lagi perih yang menghimpit.    
“Bukannya Zainab suka sama kamu? Kenapa nggak kamu terima saja dia. Zainab nggak kalah cantik dibanding Nur.” 

sumber


Sekali lagi mbah menatapku.
“Farid masih ingin melanjutkan kuliah, Mbah. Belum mau menikah,” jawaban yang bertolak belakang dengan keinginan hati. Bukan karena S2-ku belum rampung, tapi karena gadis itu bukan Nur.
Si Mbah melengos. Tak percaya. Kembali berayun di kursi goyangnya. Aku tak berani bicara lagi. Sejak dulu, hanya si Mbah yang tahu persis bagaimana perasaanku pada Nur. Bunga desa itu serupa purnama. Begitu kata kebanyakan orang di kampung ini. Nur tinggal tak jauh dari rumahku. Hanya berjarak beberapa langkah. Dia gadis yang baik. Lulusan Al-Azhar, Mesir. Tentu saja dia jadi rebutan semua pemuda di kampung ini, termasuk aku. Ya, aku memang tak pernah berani menyatakan cinta pada Nur. Aku terlalu pengecut hingga kesempatan itu hilang serupa angin yang sulit kugenggam. Lolos melewati celah jemari. Mustahil sudah.
Nur menikah. Aku sempat gontai mendengar kabar itu. Buru-buru pulang dari Jakarta ke Yogya demi melihat kebenaran. Si Mbah bilang, Nur akan menikah dengan Taufik, teman masa kecilku. Sial! Aku sungguh sial. Mana mungkin Taufik menikah dengan Nur? Aku bahkan lebih baik dari dia. Aku bahkan lebih segalanya dibanding Taufik. Sejak dulu, Taufik selalu jadi nomor dua.
“Itu semua karena kamu terlalu pengecut, Rid. Mau ngelamar saja nunggu kuliah kelar. Keburu dipinang orang,” si Mbah terkekeh. Patutlah semua orang menertawakanku. Karena aku terlalu pengecut untuk bilang suka. Ah, Nur..apakah mungkin kita masih berjodoh? Ataukah jodohku sudah berlalu? Karena dia adalah kamu, Nur. Aku menghela napas panjang. Menyandarkan kepala pada sofa. Semakin resah.
“Itu namanya takdir, Mbah,” kataku pelan. Membuat si Mbah menengok.
“Apa? Takdir? Semua orang tak bisa menghindari takdir. Tapi, manusia masih diberi pilihan sebelumnya.”
Si Mbah benar. Aku hanya mengangguk. Menyetujui kalimat si Mbah barusan. Kemarin Nur menikah dengan Taufik itu memang sudah takdir. Tapi, keinginanku untuk tidak segera meminang Nur adalah sebuah pilihan. Aku terlalu lama menimbang. Ah, pusing! Aku meremat rambut. Menariknya kuat-kuat. Kesal rasanya jika ingat kebodohanku.
“Mbah..Mbah..tolongin, Mbah!” Suara itu begitu akrab di telinga. Sambil kaget aku dan si Mbah segera berhambur ke luar. Nur. Ya, gadis ayu itu sedang panik. Dia berusaha menjelaskan sambil buru-buru berjalan menuju rumahnya. Aku dan si Mbah tergesa mengikuti.
Tak masuk akal. Sungguh tak masuk akal. Nur menangis sejadinya. Mengguncang tubuh Taufik. Beberapa orang yang lewat ikut mampir. Terpancing oleh sedikit kehebohan yang terjadi. Semua tertegun saat melihat langsung kejadian menyedihkan ini. Aku sedikit tersentak, apa mungkin ini takdirku? Harapan itu bisa saja berubah ada. Setelah ini, aku tak mau menunggu lagi. Aku akan segera mengatakan pada Nur. Mengatakan perasaan yang sempat tertunda. Tak peduli kesedihan sedang mengguncang jiwanya.
“Bangun, Mas,” teriakan Nur melemah. Taufik tiba-tiba bangun sambil terbelalak. Ada begitu banyak orang berkumpul dengan wajah resah. Menatapnya kaget.
“Ada apa ini?” Taufik berubah bingung. Mengerjapkan matanya berkali-kali.
“Mas Taufik masih hidup?” Nur menyeka air mata. Meraba wajah Taufik yang tampak baik-baik saja.
“Mas hanya tidur. Siapa juga yang mati?”
“Ya Allah, Nur..” semua orang tertawa sambil berlalu. Aku tak merasakan apa pun
setelahnya. Reman-remang. Pandanganku berkabut. Kaki seketika lemah.
BRUK!!
“Bangun, Rid! Kamu kenapa? Bangun..” lama-lama suara si Mbah menghilang. Berganti wajah Nur dan Taufik yang tersenyum, “Jodoh pasti berlalu.” Kalimat itu begitu nyata sebelum akhirnya gelap. Aku benar-benar tak sadarkan diri.
(Cerita pernah dipublish di web Pesantren Penulis dengan sedikit revisi.)

Sebuah Rahasia



Wanita paruh baya itu tertegun sambil menatap putri bungsunya lamat-lamat. Napasnya tertahan. Demi melihat wajah berbinar itu, ia rela membuka semuanya hari ini. Detik ini, ketika Raisa bertanya perihal dirinya, siapa ibunya.
Ariyani segera menghentikan laju mobil. Memarkir sembarangan di pinggir jalan. Gadis empat SD itu masih menunggu dengan tatapan menyelidik. Ini bukan kebohongan, kan? Ini bukan gurauan? 

sumber
 
Bukankah tadi Raisa hanya bertanya, bagaimana rasanya hamil dan melahirkan? Pertanyaan yang sembarangan lewat di kepalanya, setelah melihat seorang ibu hamil besar melintas di depan mobil yang ia naiki.
Lalu kenapa sekarang jadi perbincangan yang menegangkan? Tepatnya setelah wanita yang ia panggil ibu menjawab dengan tenang, seolah bergurau kalau ia tak pernah hamil apalagi melahirkan.
“Lalu aku anak siapa, Bu?” tanya gadis berhidung mancung itu kemudian. Matanya membulat. Mencari kesungguhan dari wanita yang ada di hadapannya. Tadi, ibunya masih tersenyum. Sekarang sumringah itu lenyap begitu saja. Berubah wajah menegangkan. Menyesal bukan lagi jawaban. Ariyani terlanjur membuka pintu lebar-lebar. Setelah ini ia harus siap jika saja gadis kecilnya berubah pikiran, memilih pergi darinya dan tinggal bersama ibu kandungnya.
“Bu,” Raisa merajuk. Meminta jawaban.
Ariyani menarik napas dalam. Biarlah. Mungkin setelah ini semua akan hilang. Pertemuan dulu, ketika seorang sahabat mengantarkan bayi merah berusia seminggu, menitipkan padanya, dengan harapan besar sebab ayahnya tak tahu entah ke mana. Lantas, seperti seorang wanita yang telah melahirkan, ia rawat bayi mungil itu dengan sepenuh hati. Sebab dirinya tak pernah punya kesempatan untuk hamil apalagi melahirkan. Semua jadi mustahil sejak pengangkatan rahim akibat kista yang bersarang di dalam tubuhnya.
Dan gadis itu kini sudah besar. Sudah ingin tahu siapa dirinya dan keluarganya. Detik berjalan lambat. Tatapan Raisa terasa semakin menyayat.
“Bu, Raisa anak siapa?” pertanyaan itu semakin liar di kepalanya. Sebab ia tahu, kakak sulungnya juga bukan anak kandung ibu. Benarkah ia juga seperti kakak sulungnya? Bukan anak ibu juga? Lantas anak siapa?
“Raisa anak Bunda Indah.”
“Siapa Bunda Indah? Raisa bisa bertemu?”
DEG
Sempurna sudah semua kejadian memilukan sore itu. Setelah ini, ia memutuskan untuk mengantarkan Raisa pada ibunya. Wanita yang selama bertahun-tahun tak pernah berusaha menengok putri kandungnya. Wanita yang sudah punya kehidupan baru bersama orang lain. Dan kehadiran Raisa di sana bisa jadi malah menguak luka lamanya.
Indah. Wanita itu memang sering menanyakan keadaan Raisa. Tapi tak ingin muncul dan jadi masalah baru untuk putrinya. Dia sudah memutuskan. Putrinya sudah bahagia bersama orang yang tepat. Tapi Ariyani tak mungkin menyimpan rahasia itu selamanya. Raisa harus tahu. Dan mungkin ini memang sudah saatnya.
“Raisa boleh bertemua Bunda Indah, ya?” tanya gadis itu polos..
Bagaimana bisa Raisa merasakan perasaan Ariyani? Perasaan kehilangan, rasa ngilu yang menyesakkan? Raisa hanya tahu, ia bahagia bersama ibunya yang sekarang, bersama Ariyani. Pertemuan dengan ibu kandungnya hanya untuk mengusir rasa penasaran. Bukan berarti hendak pergi. Tapi, Ariyani terlanjur ketakutan. Membayangkan semua kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.
“Raisa mau sama Ibu. Raisa sayang sama Ibu.”
Tiba-tiba kalimat itu terdengar sangat lembut di telinganya. Ketika Ariyani merelakan gadis kecil itu pergi, ketika ia tak lagi berharap banyak, maka takdir Tuhanlah yang akan menjawab. Tatapan Ariyani dipenuhi kabut. Sempurna meleleh.
Jika semua wanita bersyukur bisa hamil dan melahirkan, maka Ariyani yang mustahil hamil justru bersyukur bisa diberikan amanah oleh Allah, membesarkan dan menyayangi Raisa, gadis kecil tumbuh dan lahir bukan dari rahimnya sendiri. 
(Cerita Pernah dipublish di web Pesantren Penulis dengan sedikit revisi)